Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Episode 73


__ADS_3

Haaayy....happy reading genks 😘


♥️♥️♥️


Devo tiba di kota tujuan bersama Afi asisten pribadinya sebelum makan siang, dijemput oleh supir dan seorang sekretaris yang diutus oleh pihak perusahaan.


"Selamat datang pak Devo" sapa Desi sang sekretaris.


"Terima kasih bu"


"Saya tidak menyangka kalau ternyata pak Devo masih semuda ini"


"Ibu bisa saja" Devo tersenyum mendengar pujian dari sekretaris pemilik perusahaan yang akan melakukan kerjasama dengannya.


Begitu pula dengan Afi, ia pun hanya tersenyum mendengar pujian untuk sang bos.


Supir perusahaan mengantarkan Devo dan asistennya ke hotel tempat mereka menginap sebelum menjemputnya kembali untuk acara makan siang dengan sang pemilik perusahaan.


Masing-masing masuk ke kamar yang bersebelahan, Devo dan Afi akan beristirahat sejenak.


Meletakkan koper tanpa mengeluarkan isinya, Devo langsung menghubungi Lisa.


"Hallo....Bun??"


"Ayah sudah sampai?"


"Iya..nih baru aja masuk hotel. Mau istirahat dulu"


"Oke Yah...ayah baik-baik ya??!" pesan Lisa pada Devo.


♥️♥️♥️


Seorang wanita bernama Jeany telah menunggu Devo dan Afi untuk makan siang bersama. Wanita muda, cantik, mandiri, dan tentunya kaya raya. Ia adalah pemilik garment pakaian terbesar di kota itu, ia mengajukan untuk bekerjasama dengan perusahaan tekstil milik Devo sebagai pemasok kebutuhan bahan untuk produksi pakaian diperusahaannya.


"Bagaimana dengan perjalanannya pak?"


Tanya Jeany sekedar sapaan basa basi sebagai pembuka pembicaraan keduanya sebelum mereka beralih ke pembicaraan yang lebih serius.


" Lancar bu" jawab Devo sambil menikmati jamuan makan siang yang telah disiapkan.


"Wahh... ternyata benar kata Desi ya pak?!"


"Hmm..apa ya?" Devo bertanya karena masih bingung dengan maksud ucapan Jeany tentang siapa Desi dan apa yang dikatakannya.


"Sekretaris saya bilang, anda masih muda!"


"Oohh...!" jawab Devo tersenyum.


"Dan tampan" Jeany melanjutkan pujiannya.


"Dia berlebihan!" jawab Devo sambil tertawa.

__ADS_1


"Lohh??... ternyata memang dia benar pak! anda begitu muda dan tampan, saya harus hati-hati nih, bisa-bisa saya jatuh hati!.. hahaha..."


"Eheemm....???" Afi berdehem seakan mengingatkan bos nya.


"Justru ibu yang terlalu muda untuk ukuran bos pemilik perusahaan besar!" Devo balik memuji Jeany.


"Uhuukk...uhuukk..." Afi terbatuk dengan sengaja.


Mereka berdua pun tertawa mendengar pembicaraan yang saling memuji akan kelebihan masing-masing. Namun tidak dengan Afi, ia justru khawatir. Walaupun kekhawatiran nya itu hanya perasaannya saja.


♥️♥️♥️


Seharian ini Lisa mengerjakan rutinitas nya seperti biasa, ia belum merasakan ada yang berbeda karena siang ini masih jam kerja.


Ketika hari mulai petang, kebiasaan menunggu seseorang pulang pun mulai terasa. Jam di dinding serasa lama sekali berputar.


Ia lupa bahwa laki-laki yang ia harapkan, hari ini tidak akan datang dan belum ada biaya kepastian sampai kapan. Berharap tidak akan lama, Lisa mulai mengecup kehilangan. Padahal belum sehari, tampaknya ia sudah gelisah.


Malam ini Lisa sudah harus membiasakan menghabiskan malam sendirian, berbagai kegiatan sudah ia lakukan untuk bisa melupakan kesepiannya. Membaca majalah yang masa beredarnya untuk dua minggu, ia habiskan hanya dengan tiga jam, namun matanya belum juga mau terpejam.


"Sudah jam sembilan malam, kenapa ayah belum telepon kita ya dek?" Lisa mengelus perutnya mengajak ngobrol sang jabang bayi.


Mungkin jika masih jam kantor Lisa akan memahami kesibukan suaminya.


Ada keinginan untuk menghubungi lebih dulu, tapi ia urungkan niatnya. Mungkin saja Devo lelah dengan aktifitasnya seharian ini, atau ia khawatir akan menganggu istirahat suaminya itu.


Mencoba untuk memejamkan matanya, Lisa tetap tidak bisa terlelap. Tidak memperdulikan lagi situasi yang sedang dijalani Devo, akhirnya lisa memberanikan diri untuk menghubungi suaminya


♥️♥️♥️


drrrtt.......ddrrrtt......ddrrrtt.....suara ponsel Devo bergetar, sepertinya sang pemilik nama tidak mendengar panggilan tersebut bahwa ada seseorang nun jauh disana sedang berharap cemas.


Ayah kemana ya dek? ini adalah pertanyaan kedua Lisa untuk lelakinya.


Lisa mencoba menghubungi Afi untuk menanyakan keberadaan Devo.


"Ya Sa?" tanya Afi dari kejauhan sewaktu menerima panggilan dari istri bosnya.


"Devo lagi sama kamu ya? kok ponselnya nggak bisa dihubungi?"


"Ohh.. nggak Sa, aku di kamar. Aku balik duluan. Tadi aku dan Devo menghadiri acara ramah tamah sama orang-orang perusahaan"


Afi balik ke kamar lebih dulu karena Wina menghubunginya. Kebetulan acara ramah tamah tersebut diadakan di cafe hotel tempat mereka menginap.


"Oohh... oke deh..thanks ya Fi" Lisa menutupi kegundahannya dari guru Afi. Rasa ingin tahunya kini lebih besar dari sebelumnya.


Lisa mencoba menghubungi ponsel Devo lagi,


drrrtt....drrrt....drrtt... mendengar suara ponselnya berbunyi Devo segera menerima panggilan yang masuk, "Halo??" jawab Devo diponselnya.


"Sebentar ya?" Devo meminta ijin pada Jeany.

__ADS_1


"Siapa?" jawab Jeany ingin tahu dan ternyata suara perempuan itu terdengar oleh Lisa karena suara Jeany terdengar berbisik mendekati Devo.


"Ayah??" Lisa mulai curiga.


"Ya Bun?... Bunda??" karena bising dengan suara musik yang sedang dimainkan secara live, Devo tidak terlalu jelas mendengar suara istrinya.


"Ayah?? itu siapa??" pertanyaan Lisa to the point.


"Ooh..iya bun...itu bu Jeany" melihat jam di grup pergelangan tangannya ternyata sudah selesai jam sebelas malam, dan Devo baru tersadar sudah hampir tengah malam tapi Lisa belum tidur. "Bunda blom tidur?"


"Hiks...hiks..." suara tangis Lisa tak tertahan.


"Bun??... Bunda??..." Devo mendengar suara tangis istrinya.


Devo mulai panik, ia segera pamit untuk kembali ke kamarnya pada Jeany. Mematikan sambungan ponselnya karena yang terdengar hanya suara isakan Lisa.


Tiba dikamar hotel Devo segera menyambungkan kembali sambungan ponselnya pada Lisa.


Beberapa kali menghubungi Lisa , namun tidak ada jawaban. Mungkin Lisa marah atau cemburu.


"Bunda..angkat telepon ayah dong sayang"


Devo mengetik pesan, namun tidak ada balasan.


"Bunda..ayah mau ngomong sama dedek ya?"


Lisa hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya.


Wahh.. belum juga satu hari mereka berpisah sepertinya sudah timbul konflik. Sabar ya Lisa dan babang Devo.


"Bunda??...jawab ayah dong, ayah kan kangen" satu pesan lagi masuk ke ponsel Lisa.


Devo menghubungi Lisa lagi, dan bersyukur Lisa menerima panggilan dari Devo.


"Halo sayang?? Bunda??"


"Tadi siapa??" jawab Lisa singkat.


"Itu orang yang akan berkerja sama dengan perusahaan kita sayang"


Devo mencoba menjelaskan, ia juga paham jika istrinya kini sedang cemburu.


"Kok suaranya dekat banget? ayah deket-deket sama perempuan itu?" pertanyaan Lisa menandakan ketidaksukaan nya.


"Nggak kok, dia cuma nanya aja. Kok Bunda blom tidur? jangan bergadang loh?!" Devo mengingatkan Lisa.


"Bunda nggak bisa tidur?!" jawab Lisa mulai terisak lagi.


Ya ampuuun... Devo baru ingat jika istrinya tidak akan bisa tidur jika tidak di Elus punggung dan perutnya.


♥️♥️♥️

__ADS_1


Seperti biasa...


like n komen nya ya genks😘😘😘


__ADS_2