Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Episode 100


__ADS_3

Bersyukur cerita ini sampai pada episode 100, semua berkat dukungan kalian genks yang sudah mau meninggalkan jejak di setiap episode. Terima kasih pada kalian yang sudah bagi-bagi poin. Bikin author jadi tambah semangat lohh, lop yu poreper 😍


Happy Reading genks 😘


♥️♥️♥️


Untung saja Caca, Rike, dan Dini tidak telat tiba diperusahaan yang lumayan familiar di kalangan pengusaha properti. Itu karena mereka bertiga berlari dari gerbang pintu masuk kantor sampai pintu lobby.


Terengah-engah karena lelah, mereka menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan dengan kompak.


Sebelum naik menuju ruang divisi yang diarahkan Oleh pak Andi mereka bertiga merapikan pakaian dan juga penampilan ditoilet yang berada di lobby kantor.


Berjalan bak peragawati, ketiganya tampil percaya diri. Dengan posisi badan tegap dan senyuman sumringah pada semua karyawan yang berpapasan dengan mereka.


Menuju ke bagian pemasaran untuk menemui pak Andi dilantai lima, mereka menaiki lift bersama-sama dengan karyawan lain.


"Karyawan baru ya mbak?" tanya seorang pria muda didalam lift pada Dini. "sepertinya saya baru lihat" tambahnya lagi.


"Kita lagi magang om!" jawab Dini kegirangan karena disapa oleh laki-laki yang terlihat keren dengan kemeja biru muda.


Caca menyikut lengan Dini karena terlalu jujur menjawab pertanyaan orang yang belum dikenalnya.


"Aaww!!! sakit tau!!" bisik Dini pada Caca.


Ting...suara lift terdengar karena sudah sampai di lantai yang mereka tuju, pintu lift pun perlahan terbuka.


♥️♥️♥️


Setelah menemui pak Andi, mereka bertiga diajak ke bagian HRD untuk pembagian divisi selama mereka magang dikantor tersebut.


"Ca?! bisa tukeran nggak sih? Lo mah enak kebagian disana!" Dini merengek pada Caca, ia menginginkan posisi yang Caca dapat dari bagian HRD tadi.


"Eehh?!! jangan ditukar-tukar lagi posisinya, nanti malah bikin bingung bagian HRD nya. Karena nama kalian sudah diinput sebagai karyawan magang untuk mendapatkan sertifikat" sahut pak Andi.


"Tau nih! lagian posisi lo malahan lebih enak bagian pemasaran sama bokap gue Din" Rike ikut berkomentar.


"Iya Din! udah terima aja! yang penting kita masih satu kantor, walaupun beda lantai" sahut Caca.


Dini mengerucutkan bibirnya, "hhmm.. ya udah deh" mau atau tidak ia harus menerima keputusan yang diberikan padanya.


"Rejeki emang nggak kemana!" Caca menambahkan.


"Tuh kan??!" Dini merengek karena ucapan Caca barusan yang membuatnya galau kembali.


"Hehehehe!!" Caca makin menggoda temannya itu.


"Udah dong Ca!" Rike melerai keduanya kedua temannya.


"Ya sudah! sekarang kalian ikut mbak Syifa ya!" ujar pak Andi sambil menuju pintu keluar hendak meninggalkan mereka diruang HRD tersebut.

__ADS_1


"Oke! makasih ya Om!" ucap Caca dan Dini.


"Huuss!! kalau dikantor panggil saya pak Andi!" perintah ayahnya Rike membenarkan ucapan karyawan magang tersebut.


Karena Caca dan Dini sudah terbiasa memanggil beliau dengan panggilan om sebelumnya.


"Mari ikut saya!" Syifa mulai berjalan sambil diekori oleh ketiga remaja cantik dibelakangnya.


"Kita kelantai 8 dulu ya?! ucap Syifa pada ketiganya.


Ting...suara lift terbuka dilantai 8, Syifa memperkenalkan Caca yang akan membantu sekretaris pemilik perusahaan.


"Wahh..." Dini bergumam melihat lantai ini beda dari lantai yang lain, terlihat lebih mewah.


"Mbak Syifa? lantai ruangan nya kok beda dengan lantai yang lain?" Dini bertanya karena penasaran.


"Iya, ini ruangan bos utama" sahut Syifa.


"Ooooo....." Dini membulatkan bibirnya.


Mereka bertiga sampai didepan meja sekretaris sang bos.


"Mbak Anis, ini Caca karyawan magang yang akan membantu pekerjaan mbak ya?!" ucap Syifa menjelaskan pada sekertaris bos mereka.


"Ohh..oke Syifa. Makasih ya" jawab Anis.


"Selamat pagi pak Nathan!" ucap Anis menyapa bos nya, diikuti oleh yang lain.


"Pagi!" jawab bos utama perusahaan properti yang mereka jadikan tempat magang.


Ya, dialah bos yang dimaksud oleh Rike, yang hanya dilihat digambar saja. Ketiga remaja tersebut sempat terkesima melihat ketampanan sang bos.


"Ca??! tukeran yuukk??!" Dini merengek sambil berbisik pada Caca yang masih memperhatikan punggung sang bos hingga menghilang dibalik pintu ruangannya.


Caca hanya saja menggeleng tanda tidak setuju dengan ucapan Dini.


"Tuh!! apa gue bilang?! ganteng kan??!" Rike menambahkan.


"Oke mbak Anis, aku pamit ya" ucap Syifa menyudahi pandangan kagum ketiga remaja pada sipemilik perusahaan.


Setelah dari sana Syifa segera mengantarkan Rike ke bagian keuangan dan Dini kebagian pemasaran.


♥️♥️♥️


Caca duduk bersebelahan dengan Anis, tugasnya adalah membantu Anis mengerjakan tugas sang sekretaris.


Termasuk mengantarkan berkas kedalam ruangan Nathan.


Anis meminta Caca untuk mengantarkan sebuah map berwarna hijau ke ruang sang bos.

__ADS_1


Tok...tok...tok..."permisi pak, ini berkas yang bapak minta" ucap Caca sambil meletakkan map berisi beberapa lembar kertas yang isi nya sangat penting.


"Silahkan!" jawab Nathan, "Kamu anak magang yang direkomendasikan pak Andi ya?!" Nathan bertanya pada Caca.


"Iya pak, nama saya Caca. Ada lagi yang bisa saya bantu pak?!"


"Ok. sementara ini tidak, terimakasih!" ujar Nathan.


Caca pun segera kembali ke meja kerjanya.


"Ya ampun...pak Nathan, udah ganteng..baik banget...cowok idaman banget siiee!!" Caca bergumam saat keluar dari pintu ruangan Nathan, ia terus saja mengagumi sosok bosnya.


"Kenapa Ca?! berkasnya sudah kamu antar?" tanya Anis.


"Iya mbak Anis, tadi sudah Caca serahkan ke pak Nathan. Mbak?__" Caca menghenti kalimatnya.


"Kenapa Ca?!" Anis menanggapi.


" Pak Nathan baik ya mbak, nggak seperti bos- bos lain yang suka arogan sama karyawannya" tutur Caca.


"Iya Ca, sama seperti papahnya" jawab Anis.


"Lohh?? mbak kenal sama papahnya pak Nathan juga?" Caca makin penasaran.


"Iya Ca, dulu aku sekretaris pak David sebelum posisinya dilimpahkan ke pak Nathan" Anis menceritakan sedikit informasi yang ia alami.


"Oohh..." Caca mengangguk seakan memahami cerita Anis.


♥️♥️♥️


Menjelang jam makan siang tiba, sebentar lagi Caca akan turun menemui Rike dan Dini di lobby kantor, mereka akan keluar untuk makan siang.


"Mbak Anis?? mau makan siang dimana? kita keluar yukk?" ajak Caca


"Mbak makan siang dikantin kantor aja Ca" Anis menolak ajakan Caca, kebetulan tanggal dikalender lagi nanggung banget, alias tanggung bulan alias lagi bokek karena gajian masih seminggu lagi.


Biasa lahh untuk karyawan selevel Anis makan di restoran setelah gaji bulanan masuk ke rekening pribadinya. Dan kalau tanggal tua begini makan siangnya ya hanya dikantin kantor.


"Serius mbak, nggak mau gabung sama kita-kita?" tanya Caca memastikan lagi.


"Iya cantik, kamu aja yaa?!"


"Oke deh! aku tinggal ya mbak!" pamit Caca.


Caca segera menuju lift untuk turun kelantai dasar menemui kedua temannya.


♥️♥️♥️


uhuuuyy....like nya mana shaaayyy....

__ADS_1


__ADS_2