Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Telah Berpulang


__ADS_3

Tidak berselang lama, seorang Dokter dan perawat berlari ke arah ruangan Dorman. Mereka segera melakukan pertolongan pertama, namun detak jantung Dorman pun mulai menghilang.


Reiga menatap nanar pada keributan yang terjadi, laki-laki itu berdiri dengan kaki gemetar dan tubuh berkeringat dingin.


Dengan sigap, Anyelir merangkul pundak Reiga dan menenangkannya. Apapun yang akan terjadi, inilah takdirnya.


Benar saja, setelah upaya penyelamatan yang dilakukan oleh dokter gagal, kini Reiga harus merelakan satu-satunya keluarga yang tersisa.


"Tuan Dorman, meninggal pada 22 Maret 2023 pukul 08.13. Kami turut bersedih, semoga kesabaran dilimpahkan pada keluarga yang di tinggalkan," ucap Dokter.


Mendengar hal itu, Reiga langsung terduduk lemas. Ia berlutut di lantai sambil menatap ke arah ranjang tempat Dorman terbaring tak bernyawa.


Anyelir menangis sambil mengusap punggung Reiga. Keduanya tidak menyangka, jika apa yang baru saja mereka bicarakan telah terjadi di depan mata. Semuanya begitu cepat, seakan waktu sedang mengejar mereka.

__ADS_1


...****************...


Setelah mengurus semua surat kematian serta berkas-berkas penting di rumah sakit, Reiga dan Anyelir berada di dalam mobil yang sama untuk mengiringi ambulan yang hendak mengantar Dorman ke rumah mereka di desa.


Sepanjang jalan, Anyelir tak banyak bicara. Ia hanya menatap Reiga yang fokus mengemudikan mobilnya.


Anyelir tahu, perasaan Reiga pasti sedang tidak baik-baik saja. Baru beberapa bulan yang lalu Reiga kehilangan ibunya, dan kini ia pun harus merelakan ayahnya. Kini, laki-laki itu menjadi yatim piatu tanpa sanak saudara.


Setelah perjalanan sekitar dua jam, mereka telah tiba di rumah duka. Saat tubuh kaku Dorman dikeluarkan dari mobil ambulan, para warga pun serentak berdatangan.


Warga yang mulai berkerumun di sekitar rumah Dorman pun mengalihkan perhatian pada Reiga dan Anyelir yang turun bersamaan dari mobil yang sama. Mereka menatap heran serta penuh rasa curiga.


Anyelir dan Reiga memakai pakaian serba hitam. Mereka duduk mendampingi Dorman yang berbaring damai dalam peti mati.

__ADS_1


Satu persatu warga mulai datang untuk mengucapkan belasungkawa serta melihat wajah Dorman untuk yang terakhir kalinya.


Sebagian dari mereka merasa kasihan melihat Reiga menjadi yatim piatu serta Anyelir menjadi janda. Namun sebagian lagi justru merasa senang karena salah satu orang paling kejam dan tidak berperasaan yang tinggal di desa mereka telah pergi untuk selama-lamanya. Dengan kepergian Dorman, mereka berharap ada orang yang lebih baik untuk menjadi pengurus perkebunan.


Setelah segala keperluan untuk pemakaman usai, Anyelir dan Reiga pun mengantar Dorman menuju tempat peristirahatan terakhirnya.


Sepanjang jalan, Anyelir menangis. Ia sedih karena masih menganggap bahwa semua ini terjadi karena dirinya. Di sisi lain, kini ia benar-benar terbebas dari cengkraman laki-laki tua yang telah menghancurkan hidup dan masa depannya.


Kedua orang tua Anyelir yang turut datang ke prosesi pemakaman menantu mereka pun tidak bisa berkata-kata. Apakah mereka harus bahagia atas kematian orang yang menghancurkan kehidupan putrinya?


Haruskan mereka bahagia karena Anyelir kini menjadi janda? Namun mereka tetap harus bersyukur, pada akhirnya Anyelir bisa melepaskan diri dari belenggu suaminya.


"Ini bukan hanya teguran, melainkan hukuman untuk orang serakah yang merampas kebahagiaan orang lain demi kesenangannya!" gumam Seruni di depan makam Dorman.

__ADS_1


Seruni berharap, Anyelir bisa kembali ke pelukan mereka. Kembali berkumpul bersama dan hidup seperti sedia kala.


__ADS_2