Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Hilang Kesabaran


__ADS_3

Reiga memijat kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Akhir-akhir ini pekerjaannya cukup melelahkan. Laki-laki itu bahkan tidak punya waktu bersama Anyelir. Meskipun Reiga berusaha keras untuk mencuri-curi kesempatan meski hanya sekedar untuk menanyakan keadaannya, Anyelir selama berusaha menghindar.


Reiga ingin membujuk Dorman agar ia tetap bisa menemani sang ayah di kamarnya. Namun jika Reiga berusaha terlalu keras, hal itu bisa jadi menimbulkan kecurigaan, dan masalah yang baru saja tenang ini kembali memanas.


Saat Dorman sudah kembali ke kamar tamu, Reiga bergegas menemui Anyelir di kamarnya. Reiga mengetuk pintu dengan pelan, berharap Dorman tidak mendengarnya dari lantai bawah.


"Ada apa?" tanya Anyelir saat ia membuka pintu.


"Jangan menjauh dariku, jangan berusaha mengabaikanku," pinta Reiga.


"Bukankah aku sudah mengatakannya? Bahwa kita harus mengakhirinya?" tanya Anyelir.


"Aku tidak pernah berkata untuk setuju."


Anyelir terdiam, ia memalingkan wajah dan hendak menutup pintu. Namun dengan gerakan cepat, Reiga menahan pintu itu dengan kakinya.


"Kau bisa berbohong padaku, tapi kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri. Aku masih melihat cinta itu, aku masih bisa merasakan tatapan penuh kehangatan dari matamu," terang Reiga.


"Cukup! Pergilah."


Reiga mundur, ia membiarkan Anyelir menutup pintunya dengan rapat. Meski kini mereka merenggang, namun Reiga masih bisa merasakan cinta dan perhatian gadis itu.


Setiap pagi tanpa diminta, Anyelir selalu menyiapkan secangkir coklat panas di meja dapur saat Reiga baru bangun. Anyelir memahami kebiasaan dan selera Reiga dalam masakannya. Reiga suka menikmati tumis sayur buatan Anyelir dengan irisan jamur. Reiga juga suka menikmati ayam bakar kecap dengan sambal super pedas. Tanpa diminta dan tanpa kata-kata, Anyelir selalu memasak menu-menu tersebut hampir setiap hari. Hal itu membuat Reiga semakin yakin, jika ucapan Anyelir berbanding terbalik dengan perasaannya.


Hari-hari selanjutnya, Reiga pun semakin sibuk. Ia pergi pagi-pagi sekali bahkan melewatkan sarapan, lalu pulang menjelang malam.


Sejujurnya, Anyelir merasa kasihan dengan Reiga. Anyelir tahu, pekerjaan sebagai bos di perkebunan teh itu tidak cukup menguras tenaga, namun Dorman seakan-akan sedang berusaha menguji Reiga serta menjauhkan mereka. Anyelir merasa bersalah, ini adalah akibat dari perbuatan mereka.


Anyelir ingin sekali menanyakan pada Reiga, tentang bagaimana pekerjaannya, tentang kesibukannya, tentang makanan apa yang ia makan saat tidak bisa menyempatkan diri untuk makan di rumah. Namun, Anyelir tidak punya keberanian, ia harus terus menjauh dan menjaga jarak demi keselamatan dirinya.


Hingga pagi ini, Anyelir sengaja bangun sangat pagi untuk memasak. Ia membuat beberapa makanan kesukaan Reiga dan menyiapkan makanan tersebut dalam kotak makan.


Saat Reiga bangun dan pergi ke dapur, ia melihat kotak makan sudah berada di samping secangkir coklat panas buatan Anyelir.


"Bawa itu ke perkebunan. Makanlah untuk sarapan," ucap Anyelir. Gadis itu tiba-tiba lewat dan berucap tanpa melihat Reiga.


Reiga tersenyum senang. Ia menatap Anyelir dengan hati yang berbunga-bunga. Seperti tebakannya, Anyelir selalu peduli dan mencintainya.


Setelah bersiap, Reiga langsung berangkat ke perkebunan dan membawa kotak makan bersamanya. Tanpa ia ketahui, Dorman diam-diam memperhatikan Reiga beserta barang yang sedang dibawa oleh putranya.


Dorman merasa kesal, ia segera memanggil Anyelir setelah motor yang dikendarai oleh Reiga melaju meninggalkan halaman rumah.


"Anyelir!" teriak Dorman. Ia menggerakkan kursi rodanya dengan tangan sambil mencari keberadaan istrinya.

__ADS_1


"Ya, Pak. Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Anyelir. Ia berlari dari arah dapur dan menghampiri Dorman.


"Kemari!" seru Dorman. Ia menyuruh Anyelir lebih dekat.


Saat Anyelir semakin dekat, dengan kasar Dorman langsung menarik rambutnya.


"Gadis tidak tahu diri. Kau masih diam-diam merayu Reiga? Hah!" hardik Dorman.


"Saya tidak melakukan apapun. Saya tidak ...."


"Kurang ajar!" Dorman berteriak di dekat telinga Anyelir. Ia pun mendorong tubuh gadis itu hingga tersungkur ke lantai.


"Apa kau melakukan guna-guna pada makanan yang kau bawakan untuk Reiga?" tanya Dorman.


"Tidak mungkin! Saya tidak melakukan hal seperti itu!" tegas Anyelir.


"Sudah ku duga. Kau pasti berusaha mendekati Reiga agar dia melawanku dan membelamu, kan? Apa kau juga ingin bercerai denganku karena Reiga? Gadis tidak tahu diri! Tidak tahu diuntung!"


"Tidak, Pak. Maafkan saya. Saya tidak pernah berniat seperti itu," jawab Anyelir sambil menangis.


Dorman menggerakkan kursi rodanya mendekati Anyelir. Ia meraih wajah gadis itu dan menekan kedua pipinya dengan keras.


"Aku tidak akan segan-segan menyakiti orang tuamu jika kau berani melawanku!"


"Masuk ke kamar!" perintah Dorman. Anyelir mendongak, ia ketakutan. "Masuk!" teriak Dorman.


Tidak ingin Dorman semakin marah, Anyelir bangkit dan berjalan tertatih. Ia masuk ke dalam kamar diikuti oleh Dorman.


Saat Anyelir sudah di kamar, Dorman menyalakan sebuah cerutu. Ia menatap Anyelir dengan penuh kebencian.


Anyelir semakin ketakutan. Ia tahu Dorman tidak lagi menghisap cerutu karena penyakitnya, dan Anyelir merasa jika cerutu itu akan menjadi alat penyiksa untuknya.


Benar saja, Dorman dengan kasar meraih rambut Anyelir hingga membuat gadis itu meringis kesakitan. Tanpa ragu, Dorman menempelkan ujung cerutu yang menyala ke wajah Anyelir.


Anyelir berteriak, ia menangis sejadi-jadinya sambil memohon ampun.


"Ini hukuman, berani sekali kau menggoda anakku, hah!"


"Maafkan saya. Saya mohon ...."


Tidak hanya itu, Dorman juga meraih sabuk yang ia letakkan di atas meja dan mencambuk tubuh Anyelir tanpa belas kasihan. Anyelir terus meronta kesakitan. Ia menangis dan terus memohon, namun Dorman seakan sudah dibutakan oleh amarah. Ia tidak peduli pada tangisan dan teriakan kesakitan istrinya.


"Sekali lagi kau berani mendekati Reiga. Maka tidak hanya kau, kedua orang tuamu pun akan mendapatkan hukuman!" Dorman mengancam.

__ADS_1


Anyelir menangis, ia ingin berlari jauh dan pergi dari neraka ini. Namun sekuat apapun keinginannya, Anyelir tidak bisa melakukannya. Nasib kedua orang tuanya ada di tangannya. Gadis itu hanya bisa pasrah dan menerima semuanya dengan lapang dada.


...****************...


Beberapa hari berlalu, Anyelir semakin tertutup. Ia benar-benar tidak menampakkan dirinya setiap kali Reiga berada di rumah. Bahkan, Dorman akan mengunci Anyelir di dalam kamar setiap malam.


Reiga pun merasa curiga, ia diam-diam pulang ke rumah saat tengah hari dan mendapati Anyelir sedang membersihkan ruang tengah. Sementara Dorman, tampaknya laki-laki tua itu sedang menikmati tidur siang.


"Anyelir," ucap Reiga pelan.


Anyelir yang sedang mengelap guci dengan kain pun menoleh. Ia terkejut dengan kehadiran Reiga.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Anyelir. Ia buru-buru menutup wajahnya. Namun sayang, Reiga sudah lebih dulu memperhatikannya.


"Ada apa? Apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya Reiga khawatir. Ia merebut kain dari tangan Anyelir dengan paksa.


Reiga melihat dengan jelas luka berbentuk bulat yang masih basah.


"Ini bukan apa-apa. Menjauh dariku!" Anyelir mendorong Reiga.


"Ayah yang melakukan semua ini padamu?" tanya Reiga. Ia memperhatikan Anyelir dari ujung rambut hingga ujung kaki. Reiga melihat memar di betis Anyelir, juga di lengan gadis itu.


Reiga mendekati Anyelir, menyingkap baju di bagian punggung gadis itu dengan paksa. Ada banyak memar dan bekas luka yang terlihat. Reiga tidak bisa berkata-kata, ia hampir menangis melihat kenyataan ini di depan matanya.


"Selama ini kau di siksa?" tanya Reiga. Kedua matanya berkaca-kaca.


Anyelir diam, ia hanya menunduk dan tidak kuasa menatap Reiga.


"Aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Ini sudah melewati batas kesabaran ku!"


Reiga berbalik dan menuruni anak tangga dengan cepat. Ia langsung menuju kamar tamu dan membuka pintu kamar.


"Reiga," sapa Dorman. Ia baru saja terbangun dari tidurnya pun terkejut melihat kedatangan Reiga.


"Ayah sudah keterlaluan! Apa Ayah sudah gila? apa Ayah tidak punya perasaan? Tega-teganya Ayah menyiksa Anyelir seperti itu!" ucap Reiga geram.


"Apa yang kau bicarakan?" Dorman menyipit.


"Ayah tidak perlu lagi berpura-pura di depanku. Selama ini aku diam meskipun aku tahu kebenaran yang ada dibalik kematian ibu. Apa aku bisa percaya jika ibu meninggal hanya karena penyakitnya? Aku tahu, Ayah juga turut andil atas penyebab kematiannya. Apa Ayah juga akan melakukan hal yang sama pada Anyelir? menyiksanya hingga mati sia-sia?" ucap Reiga dengan napas naik turun.


"Reiga! Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan?" Dorman membulatkan kedua matanya lebar. Ia tidak menyangka jika Reiga sudah mengetahui rahasia yang ia simpan rapat selama ini.


"Apa Ayah juga ingin tahu kebenaran lainnya? Ya, aku mencintai istrimu, Ayah. Aku mencintai Anyelir, ibu tiriku. Aku ingin menyelamatkannya dari penderitaan yang Ayah ciptakan. Aku ingin membawanya pergi jauh dan membebaskannya dari neraka yang Ayah sebut rumah."

__ADS_1


"Reiga, kau ...." Napas Dorman tersengal, ia memegang dadanya dan merasakan nyeri luar biasa.


__ADS_2