Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Mengakui Segalanya


__ADS_3

Anyelir dan Reiga kini duduk di ruang tamu bersamaan dengan datangnya kedua orang tua Anyelir. Mereka datang lantaran sudah tidak tahan mendengar berbagai fitnah dan tuduhan buruk pada putri mereka, Anyelir.


Semua warga desa bahkan dari kalangan anak muda hingga para tetua, sudah mendengar tentang cerita simpang siur yang entah dari mana asal muasalnya.


Sebagai orang tua, Sapto dan Seruni pun tidak bisa mempercayai apa yang mereka dengar. Setiap kali mereka mendengar ada orang yang berkata buruk tentang Anyelir, mereka akan marah dan kesal.


Mereka ingin sekali membawa Anyelir keluar dari rumah ini agar bisa kembali tinggal bersama untuk meredakan semua fitnah yang tersebar. Namun adat istiadat di desa ini melarang janda yang ditinggal mati oleh suaminya untuk tidak meninggalkan rumah sang suami sebelum menikah lagi. Karena berdasarkan mitos yang dipercaya, hal itu akan membawa kesialan bagi wanita itu sendiri.


Di ruang tamu, Seruni menatap Anyelir dan Reiga bergantian. Selama mengenal Reiga, Seruni tahu dia laki-laki yang baik dan berbudi. Selain parasnya yang tampan, Reiga pun selalu bertutur kata sopan.


"Tolong katakan pada kami, Anye. Bahwa semua berita yang kami dengar itu tidaklah benar," ucap Sapto. Laki-laki tua dengan wajah keriput dan rambut memutih karena uban itu menatap Anyelir penuh harap.


Anyelir dan Reiga terdiam, keduanya tidak bisa berkutik. Anyelir ingin tetap merahasiakan hubungan ini agar tidak membuat kedua orang tuanya kecewa. Namun sebaik-baiknya ia menyembunyikannya, maka cepat atau lambat semua akan terbongkar. Dan Anyelir tidak ingin membuat kedua orang tuanya semakin tersakiti olehnya.


"Jawab ayahmu, Nak. Itu tidak benar, kan?" tanya Seruni.

__ADS_1


Reiga menatap Anyelir. Gadis itu tampak gugup, ia kebingungan serta takut. Reiga tahu, Anyelir tidak akan bisa lagi membohongi kedua orang tuanya. Namun untuk berkata jujur, pasti sulit baginya.


"Bagaimana jika itu benar?" Reiga mulai bersuara. Ia balik bertanya.


Sapto dan Seruni mengalihkan pandangan pada sosok laki-laki tampan yang duduk tidak jauh dari Anyelir.


"A-apa?" tanya Seruni. Wajah wanita paruh baya itu menjadi pucat. Anyelir mendongak, menatap Reiga dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Sejujurnya, apa yang telah kalian dengar itu tidak salah. Tapi tidak semua berita yang beredar itu benar adanya," jelas Reiga.


"Bagaimana denganmu, Anye. Kau ingin mengatakan sesuatu pada Ayah?" tanya Sapto.


"Maafkan aku, Ayah, Ibu." Anyelir menunduk, mengusap bulir bening yang menetes di pipinya.


"Jadi ... Itu semua benar?" sela Seruni.

__ADS_1


"Kami tahu apa yang kami lakukan ini adalah sebuah kesalahan. Tapi bagaimanapun, kami saling mencintai," ucap Reiga. "Kami mohon, restui kami."


"Restu?" Sapto menatap Reiga dan Anyelir bergantian. Bibir laki-laki tua itu bergetar, kedua matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka, jika anak gadis kebanggaannya kini telah berubah.


Anyelir bukan lagi gadis polos dan lugu seperti sebelumnya. Sapto tidak bisa percaya, bahwa Anyelir sungguh melewati batasan adat serta norma dalam sebuah hubungan.


"Anyelir, apa kau sadar siapa dirimu? Apa kau sadar siapa laki-laki ini?" tanya Sapto. Ia tidak bisa menahan rasa kecewa dalam hatinya. Sementara Seruni, hanya bisa menangis dan menutup mulutnya.


"Dia anak dari laki-laki yang menikahimu, Anyelir. Dia anak tirimu!" seru Sapto.


"Ayah tahu kehidupan pernikahanmu pasti berat dan menyiksa. Tapi bukan seperti ini caranya untuk melarikan diri dan mencari pelampiasan. Berhubungan dengan anak tirimu sendiri? Sejak kapan?" tanya Sapto. Kedua pipinya telah basah oleh air mata.


"Maafkan kami," ucap Anyelir pelan.


"Sudah berapa lama? Apakah sejak suamimu masih hidup? Atau bahkan sejak kabar sebelumnya terdengar itu semua sudah benar?" desak Sapto.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2