Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Episode 78


__ADS_3

Thanks atas dukungan kalian ya genks 😘😘


Happy Reading guyys


♥️♥️♥️


Malam ini Devo tidak ingin mengadakan kunjungan rutin yang terkadang membuatnya lupa diri. Bisa-bisa guncangan Devo lebih kencang ketimbang getaran pesawat. Karena besok pagi mereka akan kembali ke Jakarta membawa hasil tender yang bernilai cukup besar untuk perusahaan milik keluarganya.


Bersandar pada kepala ranjang, Devo memeluk Lisa dan mengelus perut istrinya.


"Ayah nggak nyangka kalo Bunda bisa senekat itu"


"Maafin Bunda ya Yah"


"Iya, tapi lain kali nggak boleh begitu ya Bun. Apalagi kita sedang di negara orang, bahaya!"


Devo mengingatkan Lisa.


"Iya, Bunda janji deh" Lisa mengangkat jari telunjuk dan tengahnya tepat di depan wajah Devo.


"Ayah??"


"Heemm??"


"Tadi Bunda gagal shoppingnya gara-gara kejadian itu, padahal Bunda sudah pilih baju dedek. Lucu-lucu banget Yah!" Lisa mengadu pada suaminya, bibirnya sudah berbentuk seperti kerucut.


"Nanti kan masih bisa beli di Jakarta"


"Tapi kan keren Yah kalo Made in Singapore"


Wahh... Lisa dah ketularan mamah Rena nih,


narsis abis...bentar lagi jadi emak-emak gaul kayaknya.


♥️♥️♥️


Sore ini Afi mendatangi kediaman bosnya untuk menandatangani beberapa berkas yang diperlukan besok pagi. Khawatir Devo tidak akan datang ke kantor karena sudah seminggu ini ia sibuk dinas luar daerah dan luar negeri. Mungkin saja ia mau rehat dulu.


Afi juga mengajak Wina karena sekalian menjemput Wina dikantornya sore tadi.


"Waahh.... kebetulan banget Lo ikut Win!"


Suara ibu negara Ani langsung terdengar saat Afi dan Wina masuk ke kediaman sahabatnya.


"Emang ada apa Sa?"


"Sini! gue ada sesuatu buat lo"


Lisa langsung menggandeng tangan Wina menuju ke ruang tengah dan memberikan satu piece blouse yang warnanya sama dengan yang Lisa pakai. Ceritanya sih mereka mau kembaran.


"Thanks ya Sa oleh-olehnya" Wina sangat senang ketika Lisa memberikannya buah tangan dari negara pengimpor air bersih itu.

__ADS_1


"Jatah gue mana bos?" Afi menagih oleh-oleh pada bosnya.


"Tanya bini gue noh!! gue nggak ngurusin begituan!" sahut Devo.


Devo memang belum pernah beli oleh-oleh saat ada bepergian untuk urusan pekerjaan.


Oleh-oleh yang dibawanya dari Manado itu pun atas ajakan Afi sang asisten pribadinya.


"Nggak ada! ini cuma buat kita-kita para cewek" ucap Lisa.


"Mas? kapan dong kamu ngajak aku keluar negeri kayak Lisa?" Wina merengek pada calon suaminya.


"Iya Fi! ajak dong calon nyonya jalan-jalan!" ucap Lisa mempropokatori Wina.


"Belanja baju disana bagus-bagus loh Win?!"


"Tuh kan mas?!" Wina masih merengek ketika Lisa memamerkan isi kopernya yang berisi barang-barang branded.


"Waduhh,,,broo bilangin bini lo dong, jangan manas-manasin cewek gue!" bisik Afi pada Devo.


"Udah gitu ya Win,, Singapura itu bersiiiihh banget. Pokoknya mata tuh adem banget liatnya!" Lisa masih terus berlangsung nyerocos.


"Mas!!? aku penasaran tau!"


Suara Wina naik satu oktaf karena tidak mendapat respon dari rumah Afi.


"Waduuhh...kayaknya gue salah nih kalo ngajak doi kesini!" Afi berbisik lagi pada bosnya sembari sibuk memberikan beberapa lembar file yang harus ditandatangani.


"Hahahaha......" Devo tertawa lepas.


Setelah kembali pulang dari kediaman Devo, diperjalanan Wina melanjutkan rengekan untuk mengunjungi negara tetangga itu karena Lisa yang tak henti-hentinya memanas-manasi sahabatnya.


"Mas??!"


"Iya Yang??!"


"Bener ya nanti kita kesana??!"


"Aku kan lagi ngumpulin biaya untuk pernikahan kita Yang. Katanya kamu mau cepet-cepet jadi istrinya mas!"


"Dihhh??! kok aku?? kamu kaleee!!" Wina cemberut.


"Lohh??! emang kamu nggak mau cepet-cepet jadi istri mas?"


"Iya, mau!!"


"Ya berarti kita sama dong, mas udah nggak sabar pengen tidur sambil peluk-pelukan sama kamu sayang"


"Heemm...mulai deh!"


Wina sudah tahu arah pembicaraan Afi selanjutnya.

__ADS_1


♥️♥️♥️


Hari ini mamah Rena mengundang putra dan menantunya untuk makan malam dirumah papah Kevin.


Seusai makan mereka semua berbincang-bincang sekedar menambah keakraban keluarga kecil mereka, sebenarnya sih ada yang mau dibicarakan papah Kevin dengan Devo.


"Dev, kamu harus berhati-hati ya.. selalu waspada!" papah Kevin membuka obrolan, ia memperingati putranya.


Papah Kevin sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia bisnis, jatuh bangun mengelola usahanya sudah ia rasakan.


Ia memahami betul bagaimana harus menghadapi klien dan juga karyawan perusahaannya.


Saat di Singapura menghadiri rapat tender seminggu yang lalu papah Kevin melihat ada sesuatu yang berbeda dengan sikap Aurel mantan menantunya itu, ditambah sekarang ia sudah mempunyai pendamping baru yang ikut terjun ke dunia bisnis. Bukan karena takut tersaingi, hanya saja sikap kedua orang yang sekarang menjadi pesaing bisnis putranya itu tidak ber etika sebagai pebisnis yang seharusnya.


"Iya pah...papah tenang aja ya. Pokoknya serahkan semua sama aku"


"Papah percaya sama kamu, hanya saja kamu jangan pernah lengah ya"


Jika ayah dan anak berada diteras samping, menikmati secangkir kopi, berbeda dengan ibu dan menantu yang makin hari semakin akrab ini. Keduanya sedang asik berbincang di ruang tengah kediaman sang mamah.


"Sayang, malam ini kamu nginep disini aja ya?!" pinta mamah Rena.


"Aku sih gimana kakak saja mah!"


"Nanti mamah yang ngomong deh?!"


Sambil menunggu suaminya berbicara dengan putra mereka mamah Rena menemani Lisa menonton acara di layar kaca yang ukurannya terbilang besar dan terpasang didinding ruang keluarga mamah Rena.


Entah karena kekenyangan atau memang dalam posisi yang sangat nyaman, Lisa sampai ketiduran. Melihat menantu tertidur mamah Rena menyelimuti Lisa dan calon cucunya.


Kini mamah Rena ikut bergabung dengan dua laki-laki kesayangannya.


"Dev, mamah masih kepikiran dengan kejadian di Singapura tempo hari deh"


Mamah Rena yang baru saja muncul langsung memotong pembicaraan dua lelakinya.


"Kenapa mah? udah nggak ada masalah kan?" Devo tampak khawatir jika masalah yang lalu itu bakal diperpanjang.


"Bukan...nggak kok...nggak ada masalah. Hanya mamah bingung, kenapa Aurel masih saja marah dengan Lisa. Kamu bilang kamu dan Aurel menikah karena terpaksa menuruti kemauan kami, kenapa Aurel semarah itu pada Lisa. Padahal kan kalian bilang nggak saling cinta" mamah Rena berbicara panjang lebar.


"Hemm...iya mah...bener juga" Devo mengangguk-angguk sambil terus berpikir.


"Lagian kan sekarang dia sudah punya suami, ayah kandung dari Dareen. Ngapain dia masih membenci Lisa? Dareen....mamah jadi kangen sama dia, gimana kabarnya ya??"


Biar bagaimanapun Dareen adalah cucu mereka sebelum semua permasalahan terbongkar, rasa sayang mereka tidak mungkin dapat hilang secepat itu, Dareen hanya seorang anak yang tidak bersalah, ia hanya korban dari keegoisan dari orang-orang dewasa disekelilingnya.


Bila dibandingkan dengan yang lain, Devo adalah orang yang paling terpukul, rasa sayang dan cintanya pada Dareen harus terputus begitu saja. Sekian tahun hidup serumah dengan bocah yang ia anggap anaknya. Tapi kini jangankan mau bertemu melepaskan rindu, hanya untuk mendengar suaranya saja ia tidak bisa karena Aurel menutup segala akses untuk dirinya.


Tapi Tuhan sudah berbaik hati padanya, calon bayinya akan mengisi kekosongan yang telah hilang. Namun Devo telah berjanji pada dirinya akan selalu menganggap Dareen sebagai putranya.


♥️♥️♥️

__ADS_1


Genks... tinggalkan jejak kalian yeaay..


like n komen nya kutunggu.


__ADS_2