Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Episode 124


__ADS_3

Happy Reading genks 😍


♥️♥️♥️


Nathan mengangkat dagu Caca dengan jari telunjuk, wajah Caca menengadah. Mata kedua insan itu kini saling bertatapan, Nathan mengecup lembut bibir kekasihnya. Ciuman yang membuat Caca penasaran, mungkin inilah ciuman pertama yang Caca rasakan dengan sadar.


Caca baru kali ini tahu bagaimana fantastis rasanya berciuman, menyatukan bibir dengan orang yang kita sayang membuat jantungnya berdetak tidak stabil dan darah ditubuh berdesir tak karuan.


Tidak ada kata lain yang patut diucapkan untuk mengungkapkan kebahagiaan mereka.


Nathan menghisap bibir manis gadisnya, walaupun Caca baru pertama kali merasakan hal itu namun ia cepat sekali belajar dari kecupan yang Nathan berikan, kini Caca sudah bisa mengimbangi ritme ciuman Nathan.


Caca melepaskan penyatuan bibir mereka karena Caca susah kehabisan napas, ya untung saja seperti itu, karena jika tidak mereka pasti akan terlambat untuk tiba di acara yang sudah direncanakan dengan apik.


Wajah Caca merona, ia tersipu malu. Hingga menunduk tanpa mau melihat wajah lelakinya. Nathan kembali mengangkat dagu Caca, "kenapa?" ujar Nathan.


Caca hanya tersenyum lalu ia menyerukan wajahnya di dada Nathan seraya berkata, "malu" sahutnya. Ia benar-benar tidak mampu menatap mata Nathan.


"Nggak perlu malu, nanti kita akan sering melakukan yang seperti tadi" Nathan membelai rambut gadisnya dan menjauhkan bahu Caca sejarak dengan lengannya, Nathan menaik turunkan kedua alisnya, ia senang sekali menggoda Caca.


♥️♥️♥️


Beruntung Nathan dan Caca tidak datang melewati waktu yang ia rencanakan, kini keduanya sudah siap menyambut kedatangan kedua orang tua mereka.


Sambil menunggu Caca menanyakan beberapa hal yang masih mengganjal di pikirannya.


"Mas? memang harus secepat ini ya?!" Caca masih penasaran dengan tindakan Nathan yang ingin sesegera mungkin mempersunting dirinya.


Nathan tersenyum lebar, ia menyelipkan rambut ke telinga gadisnya. "Mas nggak mau kamu diambil laki-laki lain, sebelum mas terlambat..jadi mas harus segera memilikimu sayaang"


Dan seperti biasanya, jawaban Nathan selalu bisa membuat hati Caca berbunga dan pipi mulusnya merona.


Dari pintu masuk sudah terlihat Aurel dan David memasuki restoran.


"Hallo sayang..." Aurel menyapa dan mencium kedua pipi calon menantunya.


"Hay tante.."


"Stop panggil Tante! mulai sekarang kamu harus panggil mommy, sama seperti Nathan memanggilku.

__ADS_1


Caca tersenyum malu, "Baik mommy"


"Nahh begitu, karena kamu akan menjadi anak perempuan pertama mommy"


Nathan senang sekali melihat keakraban mommy dengan calon menantunya, "Sudah mom, jangan memeluk gadisku terus menerus!" ucap Nathan memisahkan sesaat keakraban kedua perempuan dihadapannya.


"Iya! keterlaluan kamu! cemburu dengan mommy sendiri" Aurel memberengut.


"Sudah..sudah...jangan menggoda putramu terus dong!" David melerai kedua orang yang ia sayangi. "Nak? orang tuamu belum tiba?" David bertanya pada Caca karena belum melihat pihak keluarga Caca direstoran tersebut.


"Sedang on the way Om" sahut Caca menjawab pertanyaan calon mertua laki-laki nya.


"Don't call me like that! I want you call me daddy!"


"Jangan panggil aku seperti itu! aku ingin kamu panggil aku daddy!"


David pun ingin dipanggil sama seperti Aurel, panggilan yang Nathan sebut pada mereka.


"Oke dad! thank you so much!"


"Oke dad! terimakasih banyak" jawab Caca


Caca menyerahkan pada mommy Aurel sebuah buket bunga dan bingkisan yang sudah disiapkan pada saat mereka menuju apartemen Nathan.


Perhatian yang jarang sekali Aurel dapatkan dari kedua anak lelakinya, semua sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Terlebih sekarang Leo memilih untuk melanjutkan bisnis kakek nya di Jakarta.


Tidak lama berselang Devo dan Lisa terlihat memasuki restoran diantar oleh resepsionis menuju meja yang sudah dibooking oleh Nathan. "Bunda?!" teriak Caca menghampiri sang bunda dan ayahnya.


Caca mengalungkan tangannya dilengan Lisa menuju meja yang sudah ditempati oleh Aurel dan David. Nathan berdiri dari kursinya menyambut calon mertuanya sebagai rasa hormat, lalu ikut segera menghampiri Lisa untuk memberikan sebuah buket dan juga bingkisan yang sama dengan yang diterima oleh Aurel.


Posisi Aurel dan David membelakangi arah pintu masuk, "mommy...daddy...kenalkan ini ayah dan bunda Caca" ucap Nathan memperkenalkan kedua calon mertuanya pada Aurel dengan sopan.


Aurel dan David beranjak dari duduknya, mereka berbalik badan hendak bersalaman dengan calon besan mereka. Daaannnnn.....


Saling bertatapan tanpa kata, mereka berempat seakan memutar memori otak masing-masing dan saling terperangah.


Dengan waktu yang bersamaan Aurel dan Lisa saling menunjuk, "Kamuu...????"

__ADS_1


"Lisa??"


"Aurel??"


Mereka serempak saling bertanya.


Begitupun dengan Devo dan David, "Mister David??" ucap Devo mengingat ingat kerjasama yang dulu pernah mereka lakukan.


Nathan dan Caca hanya membisu melihat dua kubu yang saling terpukau dan saling menebak. Caca dan Nathan juga bergantian menoleh ke arah para mommy dan juga daddy. "Kalian sudah saling kenal?" akhirnya Nathan buka suara karena penasaran.


"Jadiii??? nak Nathan ini???" pertanyaan Lisa langsung diteruskan oleh Devo.


"Kamu Dareen??" tanya Devo langsung kepada Nathan.


Dan Nathan hanya bisa terdiam dalam kebingungan, sebenarnya apa yang mereka semua bicarakan, siapa Dareen?


"Mommy?? can you explain to me?"


"mommy bisa kau jelaskan padaku?" Nathan bertanya kejelasan tentang semua ini pada sang mama.


Lisa teringat kejadian lebih dari dua puluh tahun yang lalu, ketika ia dihina dan juga diusir dari kehidupan Devo.


"Kalian Mr.Devo dan Mrs.Lisa? betul kan?" David memecah keheningan diantara mereka semua. "Dan kamu bayi yang masih dalam kandungan waktu itu kan?" David memastikannya pada Lisa.


"Daddy sudah mengenal ayah dan bundaku?" Caca mulai buka suara.


"Ayah??!" Lisa sepertinya enggan bergabung dengan mereka semua, itu tampak sekali terlihat dari raut wajahnya. Ia hendak mengajak suaminya keluar dari tempat itu dan membawa putri mereka.


"Maaf! kami tidak bisa bergabung!" ucap Lisa sambil menarik Caca untuk pergi bersamanya.


"Bunda?!" Caca penuh tanda tanya, "mas?!" Caca meminta pertolongan pada kekasihnya.


"Tante?!" panggil Nathan pada Lisa, Nathan memegang sebelah pergelangan tangan Caca untuk mencegah Lisa membawa kekasihnya.


"Mommy...daddy...maaf.." ucap Caca karena merasa bundanya sudah tidak sopan meninggalkan jamuan yang belum sempat terhidang.


"Stop panggil mereka mommy dan daddy! mereka bukan siapa-siapa kamu! ayo kita pulang!"


"Maaf!" ujar Devo, ia serba tidak enak hati, demi mengimbangi perasaan istrinya namun ia juga harus menghormati Mr.David yang pernah menjadi koleganya saat menjalin kerjasama di Singapura. Terlebih menjaga perasaan Nathan, laki-laki baik yang berniat mempersunting putrinya.

__ADS_1


♥️♥️♥️


Readers, jangan lupa ritualnya ya. Othor cuma ngingetin buat klik like...ketik komen...dan kasi vote buat Caca dan Nathan.


__ADS_2