Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
ENDING


__ADS_3

Anyelir menatap kagum pada interior kamar serta semua hiasan yang sudah dipersiapkan. Ia berbalik, memeluk laki-laki yang berdiri di belakangnya.


"Ini menakjubkan," ucap Anyelir. "Terima kasih."


"Apa kau merasa bahagia?" tanya Reiga.


"Hmm." Anyelir mengangguk.


Reiga merangkul kuat pinggang Anyelir, mengangkat tubuh gadis itu sambil mencium bibirnya. Reiga berjalan mendekati tempat tidur lalu membaringkan tubuh Anyelir tanpa melepas bibir mereka.


Kini, tidak ada lagi hal yang bisa memisahkan mereka. Tidak ada lagi apapun yang menjadi penghalang serta pembatas di antara keduanya.


"Hentikan, apa kau tidak lelah?" tanya Anyelir sambil sedikit mendorong dada Reiga.


"Lelah? Tentu saja tidak."


"Kita baru saja melaksanakan pesta pernikahan dan kau baru saja menyetir sejauh ini. Bukankah kau lelah?"


"Tidak!" Reiga menggeleng cepat. Anyelir tersenyum, melayangkan satu kecupan di bibir suaminya.


"Biarkan aku mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu. Ini tidak nyaman," keluh Anyelir. Reiga mengangguk, melepas gadis itu dan membantunya bangkit.


Anyelir berdiri di depan cermin berukuran besar, melihat dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Setelah kesulitan yang ia alami selama berbulan-bulan lamanya saat menjadi istri Dorman, Anyelir hidup dalam tangis dan penderitaan. Namun secara ajaib Tuhan mengubah takdirnya, kini ia menjadi wanita paling bahagia saat bisa menikah dengan laki-laki seperti Reiga.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Reiga. Ia memeluk tubuh Anyelir dari belakang.


"Tidak ada." Anyelir menggeleng.

__ADS_1


"Apa kau bahagia bersamaku?"


"Hmm, tentu." Anyelir tersenyum dan mengangguk.


Reiga memutar tubuh Anyelir, kini mereka saling berhadapan.


"Jangan memikirkan apapun. Kita mulai hidup baru kita dengan penuh kebahagiaan. Lupakan semua yang pernah menyakitimu, kita akan mulai lembaran baru," pinta Reiga.


"Ini masih terasa seperti mimpi bagiku."


"Kalau begitu, bangunlah. Karena kenyataan ini lebih indah dari yang kau impikan."


Setelah puas saling memeluk satu sama lain, Anyelir bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Gadis itu menceburkan diri ke dalam bathub berisi air hangat. Kamar mandi semi outdoor dengan pemandangan langsung ke sebuah kolam ikan ini sangat indah dan menenangkan.


Saat ia tengah asik menikmati kehangatan air yang meresap di pori-pori kulitnya, tiba-tiba Reiga datang tanpa permisi dan berdiri di dekatnya.


"Kau tidak sopan," gumam Anyelir.


"Kau punya banyak alasan."


"Bisakah kau berbagi tempat denganku?" tanya Reiga.


"Di sini?" Anyelir membulatkan kedua bola matanya.


"Hmm." Reiga mengangguk. Tanpa menunggu jawaban Anyelir, Reiga melepas handuk putih yang melilit di pinggangnya. Secara langsung, Anyelir bisa melihat sesuatu yang tidak ia ingat bentuknya, namun sangat ia ingat bagaimana rasanya.


Reiga turut masuk dan duduk di belakang Anyelir, memangku gadis itu dengan tubuh mereka yang sama-sama polos.


"Apa ini terasa nyaman?" tanya Reiga.

__ADS_1


"Hmm." Anyelir mengangguk malu-malu.


Keduanya saling menyentuh dan memberi kesenangan satu sama lain.


Mereka bercumbu, menikmati indahnya cinta yang lama mereka impikan.


"Aku mungkin tidak akan sabar menunggu sampai malam," bisik Reiga.


"Benarkah?"


"Tidakkah kau merasakan sesuatu yang sudah mengeras sejak tadi? Aku akan sedikit memaksa jika kau menolak saat ini."


Anyelir tertawa kecil, membalik tubuhnya dan duduk berhadapan di atas pangkuan Reiga.


"Aku suka dengan sedikit paksaan," bisik Anyelir genit.


"Begitu? Kau menggodaku?" Reiga semakin bersemangat. Ia langsung menggendong tubuh Anyelir keluar dari bathub. Berdiri berpelukan di bawah shower untuk membilas tubuh.


Setelah itu, keduanya langsung melanjutkan sesuatu yang tertunda di atas ranjang.


Cinta yang telah lama menggebu-gebu dan berkobar penuh gairah. Akhirnya telah berlabuh dan berada di tempat yang tepat.


Anyelir tidak menyangka, jika pada akhirnya ia akan menikah dengan mantan anak tirinya sendiri. Entah bagaimana cara menjelaskannya, namun Anyelir tidak tahu bagaimana awal mula benih cinta itu tumbuh di hatinya.


"Aku mencintaimu, Anyelir, istriku." bisik Reiga disela nafasnya yang mulai terengah-engah.


"Aku juga mencintaimu, Reiga, suamiku."


...****************...

__ADS_1


...~END~...


__ADS_2