Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Episode 41


__ADS_3

Mumpung lagi pegang hp nih genks, kita lanjutin lagi yaa.


Happy reading 😘


❤️❤️❤️


Tak bisa dipungkiri, sinar matahari mulai terlihat. Begitupun dengan perut Lisa, rasa lapar sudah singgah diperutnya. Kalau saja jaraknya dengan Devo berdekatan pasti suara perutnya terdengar seperti genderang perang.


Tanpa disadari Lisa memegang perutnya, melihat ke sekelilingnya mencari tempat yang menyediakan sarapan pagi.


"Tadi disana aku liat ada warung nasi"


"Teruuuss??" jawab Lisa ketus.


"Kita kesana yukk?!" Devo mengajak serta Lisa karena ia tidak mau jauh dari Lisa, ia khawatir Lisa akan pergi lagi tanpa sepengetahuannya.


"Kamu makan sendiri deh, aku tunggu diluar. Yang penting kamu makan, kasian kan bayinya laper sayang.."


Lisa berpikir, "aku mau cari makan sendiri aja!"


"Lis, nurut ya kali ini aja"


" Gara-gara aku selalu nurutin semua omongan kamu mangkanya hidup aku jadi berantakan, semua gara-gara kamu !" akhirnya Lisa mengungkapkan keluh kesah yang ia pendam.


"Aku minta maaf Lis" rasanya Devo sudah tidak bisa berkutik lagi mendengar kalimat Lisa yang semua memang benar adanya.


"Terlambat kak, aku udah enggak respect sama kamu!"


Sambil terus berjalan Lisa menghindar dari Devo, apa ia sudah benar-benar membenci lelakinya itu yaa?


❤️❤️❤️


Walaupun jalan tidak saling berdampingan, akhirnya mereka makan ditempat yang sama. Namun di meja yang berbeda, karena itu janji Devo pada Lisa. Mau makan tapi tidak satu meja.


Lisa mengelus perutnya sebelum ia menyantap makanan yang sudah tersedia didepan nya.


Sekarang itu sudah menjadi rutinitas Lisa sebelum makan, mengajarkan bayinya untuk berdoa dan selalu bersyukur pada pencipta nya.


Baru saja mereka mau mulai makan, datang serombongan lansia, tepatnya tiga pasang lansia, yang kalau dilihat dari penampilannya siih baru selesai berolahraga. Ya anggap saja seperti itu karena mereka mengenakan celana training dan sepatu kets.


Satu orang lansia tersebut memesan makanan dan lima orang lainnya mencari tempat duduk, tapi tampaknya semua meja sudah penuh. Salah satu dari mereka melihat meja tempat Devo kursi yang terisi hanya satu dan tiga kursi lainnya kosong. Begitupun dengan meja tempat Lisa.


Devo berinisiatif, "Oma, duduknya disini aja" sambil menunjuk meja tempatnya.


"Ohh,, terimakasih ya nak" tanya satu orang lansia yang penampilannya nyentrik abis.


"Bener nih kita boleh gabung?"


"iya opa" Devo tersenyum meyakinkan pada suami si oma tadi, kayaknya sih suaminya soalnya dari masuk tadi mereka bergandengan tangan.

__ADS_1


iihh,,, mesranya...udah tua aja masih pada pegangan tangan, coo cuiiit... author jadi ngiri deh kayak oma dan opa itu...ngiri sama mesranya ya genks, bukan ngiri sama tuanya.


Devo bersiap berpindah meja, sambil membawa semangkuk bubur ayam yang tadi ia pesan.


"Lahh, kamu mau kemana nak?"


"Saya kesini aja sama istri saya oma" Devo duduk disamping Lisa.


Oma dan opa agak bingung, kelihatan dari wajah mereka, "ini istrinya nak?" oma menunjuk kearah Lisa.


"Bu__" kalimat Lisa terputus karena langsung diselak oma tersebut.


"Bubur disini emang terkenal enak" oma melanjutkan.


"Ooh,,suami istri tohh..kok??" tanya oma yang lain.


sambil menunjuk kearah Devo dan Lisa bergantian.


"Iya kok duduknya pisah-pisah" tanya seorang opa lainnya.


"Biasa opa..." jawaban Devo menggantung.


"Ngambek??"


Devo hanya mengangguk sambil menahan senyum dan Lisa tentu saja tersenyum juga, tapi getir. rasanya kayak makan pare blom dimasak, paiiiit.


"Maklum opa, lagi ngidam" Devo dengan percaya diri memproklamirkan tentang kehamilan Lisa.


Nahh...mampuus lu Dev, sok tau sihh...segala pamer-pamer sama orang, ngaku-ngaku istri tapi kagak tau tuh istri hamil berapa bulan...author mahh ogah nolongin lu. Jawab sendiri aja sonoh.


Devo cengar-cengir sambil menunggu pertolongan yang tentu saja dari gadis yang duduk disebelahnya.


"Tiga bulan opa" ucap Lisa.


Devo menghela nafas lega, karena Lisa sudah menolongnya.


"Wahh...masih puasa dong?"


Sekarang Devo dan Lisa mukanya yang berubah jadi bingung. Mata mereka bertatapan seakan minta jawaban dari keduanya. Bahu Lisa terangkat sedikit menandakan bahwa ia tak mengerti dengan pertanyaan si opa yang duduk satu meja dengan mereka.


"Maksudnya puasa itu" si opa menunjuk bagian pangkal paha Devo dengan memajukan bibirnya kearah sana.


"Oohhhh....iya opa" Devo membentuk sebuah lingkaran di bibirnya, seakan dia mengerti apa yang dimaksud si opa.


"Sabar ya nak,, bulan depan juga udah bisa kok" ucap si opa sambil tertawa nakal.


"Iya opa, ini saya juga lagi nunggu."


"heeh???" mata Lisa berotasi mendengar candaan dua lelaki yang bersamanya di meja itu.

__ADS_1


Diihh,,,,Gee err banget si Devo, nunggu apaan lu...


"Sabar ya yaang" Devo berucap sambil mengelus bahu Lisa. Maksudnya biar lebih mesra didepan si opa.


Laahh,,,bocah makin sotoy aja yaak. Elu tuh yang sabar, bentar lagi juga lu diusir sama Lisa.


❤️❤️❤️


"Yang kita mau kemana siih" Devo terlihat lelah sambil membungkuk dan memijat kakinya sendiri. Ia mengikuti Lisa berkeliling sambil menanyakan sesuatu yang Devo tidak tau pada setiap orang yang ia temui.


"Yang...yang...kepala lu peyang.."Lisa menggerutu mendengar Devo memanggilnya seperti itu.


"Kamu enggak cape?" tanya Devo.


"Lagian ngapain ngikutin aku sihh"


Devo kembali terdiam, daripada diusir lebih baik menurut saja biar aman pikirnya.


Untuk yang kesekian kali Lisa bertanya dengan seseorang, akhirnya ia mengikuti seorang ibu yang kebetulan punya rumah petakan yang kosong.


Berjalan kira- kira melewati beberapa rumah, mereka berhenti di sebuah rumah petakan.


"Ini apaan?" Devo bertanya sambil melihat keadaan rumah kontrakan yang sederhananya pake banget.


"Ini suaminya ya bu?" tanya si ibu pemilik kontrakan.


"haahh??" Lisa belum menjawab.


"Iya, soalnya yang ngontrak sebelumnya masih single dan suka bawa cowok nya kesini, ehh trus ibu ditegur sama pak RT. Jadi sekarang ibu ngontrakin nya sama yang pasangan suami istri aja. Ibu gak mau berurusan sama RT lagi." si ibu membeberkan kronologi tentang kisah rumah kontrakannya.


Mendengar cerita si ibu, Lisa tampak murung. "iya bu, saya suaminya." Devo mengaku pada si empunya kontrakan. "Buku nikah nya nyusul ya bu. Ini KTP saya" Devo menyerahkan identitas dirinya pada si ibu.


"Berapa perbulan nya bu?" kini Lisa yang bertanya.


"Tujuh ratus ribu mbak, listrik nya bayar sendiri ya"


si ibu menjelaskan.


"Ok bu, ini uang nya" Devo dengan sigap mengeluarkan uang lembaran merah itu dan menyerahkan pada si ibu.


"Jangan bu" melarang si ibu mengambil uang ditangan Devo. "Ini saja" kini Lisa menyerahkan uang dari dompetnya.


Devo terdiam karena penolakan Lisa pada dirinya, bahkan sekarang ia tidak mau menerima pertolongan nya.


Kalo begini author jadi kasian sama kamu Dev, sabar yaa. Ntar akyu bantuin bujukin Lisa dehh.


❤️❤️❤️


Vote nya dong genks, minggu ini vote ku masih kosong..huhuhu....

__ADS_1


like n komen nya yaa jangan sampe kelupaan.😘


__ADS_2