
Satu bulan setelah Anyelir beserta kedua orang tuanya pindah ke kota, hidup mereka menjadi lebih baik dari segala sisi.
Karena sebelumnya Anyelir adalah istri sah dari Dorman, maka sepeninggal laki-laki tua itu juga Anyelir mendapatkan cukup besar pembagian warisan.
Meski begitu, Anyelir tidak serta merta serakah dan meraup uang sebanyak itu sendirian. Gadis itu bahkan menyumbangkan lima puluh persen dari uang warisan yang ditinggalkan Dorman untuk pembangunan sekolah serta fasilitas kesehatan.
Kematian Dorman yang mendadak serta tanpa meninggalkan surat wasiat, membuat segala urusan warisan langsung diurus oleh penasehat hukum dan pengacara yang disewa oleh Reiga.
"Sayang, pukul berapa kelasmu selesai? Kita harus fitting baju," ujar Reiga.
"Aku selesai pukul dua siang," jawab Anyelir.
"Pergilah, kau bisa terlambat." Reiga tersenyum, mengacak pucuk rambut Anyelir.
"Baik, Pak Dosen. Selamat mengajar, jangan lupa kirim pesan, ya."
"Hmm." Reiga mengangguk dan melambaikan tangan sambil berjalan menjauh.
__ADS_1
Mereka berdua berpisah di lorong kampus dan Anyelir langsung masuk ke dalam kelasnya.
Untuk hidup lebih baik tidak bisa hanya mengandalkan uang dan kekayaan. Seseorang harus memiliki ilmu dan pendidikan yang cukup sebagai bekal untuk menjalani kerasnya hidup.
Anyelir, memutuskan untuk melanjutkan mimpinya mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Meskipun sedikit terlambat, namun gadis itu bahagia karena pada akhirnya ia bisa mulai mengejar mimpinya yang tertunda.
Dengan dukungan kedua orang tuanya dan calon suaminya, Anyelir bisa masuk ke sebuah universitas bergengsi yang juga menjadi tempat Reiga mengajar.
Anyelir sengaja memilih kampus tersebut agar bisa semakin dekat dengan Reiga. Keduanya bak remaja puber yang sedang kasmaran. Hanya berselang beberapa menit berpisah sudah membuat mereka rindu satu sama lain.
Sesuai janji, Anyelir keluar dari kelasnya pukul dua siang dan Reiga sudah menunggu gadis itu di taman kampus.
Reiga, dosen muda baru yang tampan dan penuh kharisma itu membuat banyak mahasiswi jatuh hati dengan pesonanya yang memukau. Sayangnya, hati mereka terpotek setelah tahu bahwa dosen idaman mereka rupanya sudah memiliki kekasih yang tak lain yaitu Anyelir, mahasiswi baru di kampus mereka.
Meski usia Anyelir sudah cukup matang serta terpaut jauh dari para mahasiswa semester awal di kampus tersebut, namun nyatanya kecantikan wajah gadis itu membuatnya tak terlihat berbeda.
Tidak ada satupun di tempat ini yang tahu bahwa Anyelir adalah seorang janda, tidak satupun dari mereka tahu bahwa sebelumnya Anyelir adalah ibu tiri Reiga, kekasihnya. Dengan susah payah, Reiga menyembunyikan fakta tersebut dan membuat identitas baru untuk Anyelir. Demi kenyamanan gadis itu, Reiga melakukan segala cara untuk memperbaiki hidup mereka.
__ADS_1
Di sini, mereka menjalani kehidupan cinta yang bebas dan bahagia. Mereka tidak perlu mempedulikan pendapat orang lain dan mengungkit masa lalu yang tidak perlu.
"Bagaimana jika kita makan siang terlebih dahulu?" tawar Reiga.
"Aku tidak lapar," jawab Anyelir.
"Ayolah, aku ingin makan pizza," bujuk Reiga.
"Pizza? Padahal aku ingin makan ikan bakar."
"Baiklah, kita makan ikan bakar!" seru Reiga. Ia menarik tangan Anyelir dan menggandengnya meninggalkan taman. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju tempat parkir.
Sebelum pergi ke butik untuk membereskan persiapan pernikahan mereka, Reiga dan Anyelir memutuskan untuk makan siang bersama.
Meskipun sudah satu bulan sejak Anyelir pindah ke kota, gadis itu belum sepenuhnya bisa menerima makanan-makanan modern di mulutnya.
Anyelir sering kali masih memilih makanan yang sering ia jumpai di desa. Anyelir tahu ia merindukan kampung halamannya, namun tidak dengan kehidupan lamanya.
__ADS_1
...****************...