
Setelah memutuskan untuk tinggal di desa dan meninggalkan pekerjaan utamanya, Reiga pun menggantikan pekerjaan ayahnya untuk mengurus seluruh perkebunan teh milik keluarga mereka.
Sebagai anak dari seorang pengusaha kaya, Reiga sama sekali tidak memiliki minat untuk mewarisi pekerjaan Dorman. Reiga lebih memilih untuk mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Karena itulah, Reiga lebih memilih bekerja di kota sebagai seorang dosen, daripada membantu ayahnya mengurus perkebunan teh mereka.
Namun dengan kondisi Dorman saat ini, mau tidak mau Reiga harus menggantikan sang ayah.
"Apa mereka menuruti perintahmu?" tanya Dorman saat ia dan Reiga sedang berada di ruang makan. Sementara Anyelir masih sibuk menata makanan di atas meja.
"Tentu saja, Ayah."
"Kau harus tegas! Mereka harus melakukan pekerjaannya tanpa kesalahan. Jangan segan-segan memberi hukuman atau memecat mereka jika ada yang berani membuat masalah!" tegas Dorman.
"Aku tidak seperti Ayah. Aku akan melakukannya dengan caraku," jawab Reiga tenang.
"Orang miskin seperti mereka, tidak pantas dikasihani," seloroh Dorman.
Reiga hanya menghela napas panjang. Tentu saja ia tidak akan menuruti perkataan ayahnya tentang hal itu. Meskipun dalam tubuh Reiga mengalir darah Dorman, namun Reiga sama sekali tidak mewarisi perangai buruk sang ayah. Reiga sangat membenci kekerasan, ia juga tidak suka berkata kasar. Sikap Reiga lebih menurun dari sang ibu, ia memiliki hati yang hangat dan baik hati.
"Silahkan," ucap Anyelir setelah menyelesaikan tugasnya. Semua makanan sudah ia hidangkan di atas meja, ia pun hendak meninggalkan ruang makan, namun secara tidak sengaja Anyelir menyenggol ujung cangkir yang letaknya di pinggir hingga cangkir berisi kopi panas tersebut jatuh.
"Apa kau tidak punya mata?" tanya Dorman berteriak. Ia membulatkan kedua matanya lebar dengan penuh amarah.
"Kau baik-baik saja?" tanya Reiga khawatir. Ia segera menghampiri Anyelir.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja." Anyelir segera menunduk, ia duduk berjongkok untuk membersihkan cangkir yang pecah.
"Dasar, gadis ...."
"Cukup, Ayah!" seru Reiga sebelum sang ayah melanjutkan ucapannya. Dorman bahkan sudah mengangkat sebelah tangannya dan bersiap memukul Anyelir. Namun dengan cepat Reiga memegang tangan sang ayah.
"Jangan terus menerus membela gadis miskin ini, Reiga. Dia akan semakin tidak tahu diri jika kau terus bersikap baik padanya!"
"Pergilah, aku akan membereskannya," ucap Reiga pada Anyelir. Ia enggan menanggapi perkataan buruk Dorman, ia juga tidak tega jika membiarkan Anyelir mendengar segala ucapan buruk laki-laki tua itu.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Anyelir. Ia pun meninggalkan ruang makan dan masuk ke dalam kamarnya tanpa peduli pada Dorman yang terus menghardiknya.
"Jika kau terus peduli padanya, bisa-bisa dia besar kepala!" ucap Dorman kesal.
"Bukankah dia istri Ayah? Sudah seharusnya aku menghormatinya dan memperlakukannya dengan baik."
"Kau kira Ayah menikahinya karena Ayah menyukainya?" Dorman bertanya. Reiga mendongak, menghentikan tangannya yang sibuk dengan sendok dan garpu di atas piring.
"Jika Ayah tidak menyukainya, ceraikan saja dia."
"Ayah tidak bisa merelakan uang yang sudah dipakai oleh keluarganya. Dia sepadan dengan hutang-hutang orang tuanya."
Reiga diam. Ia segera membereskan pecahan cangkir yang tersisa lalu berniat pergi meninggalkan sang ayah.
"Kau sudah tidak makan?" tanya Dorman. Reiga bahkan belum menyentuh makanannya.
"Aku belum lapar," jawab Reiga. Ia sudah kehilangan selera makan.
Reiga duduk menjauh dan menunggu hingga Dorman menyelesaikan makan malamnya seorang diri. Setelah melihat sang ayah meneguk segelas air, Reiga menghampirinya.
Setelah mengantar sang Ayah, Reiga kembali ke ruang makan. Ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi lengkap dengan berbagai lauk pauk.
Namun itu bukan untuk dirinya, Reiga membawa piring menaiki anak tangga dan mengetuk kamar Anyelir.
Tok ... Tok ... Tok ...
Anyelir membuka pintu, ia melihat Reiga berdiri di hadapannya.
"Kau belum makan, kan? Aku membawanya untukmu," ucap Reiga. Ia masuk ke dalam kamar tanpa menunggu jawaban Anyelir.
"Kau tidak perlu melakukan ini."
"Kenapa? Aku khawatir. Ayahmu bilang kau semakin kurus sejak menikah. Makanlah dengan teratur agar mereka tidak mengkhawatirkanmu," ujar Reiga.
__ADS_1
"Aku belum lapar," gumam Anyelir.
Reiga tersenyum, ia meletakkan piring di atas meja lalu menyeret tangan Anyelir agar gadis itu duduk di sofa.
"Aku akan menyuapimu," ucap Reiga.
"Tidak, jangan!" Anyelir menggeleng cepat. Bagaimana bisa mereka seperti ini di dalam rumah. Bagaimana jika Dorman memergoki mereka?
"Ayolah, buka mulutmu," bujuk Reiga. Ia tersenyum manis, menatap Anyelir dengan tatapan penuh cinta.
"Ah, jangan." Anyelir terus menolak.
"Buka mulutmu, ayo!"
"Hmm." Anyelir menghela napas panjang. Ia pun akhirnya membuka mulut dan membiarkan Reiga menyuapinya makan.
"Aku akan makan sendiri, keluarlah sebelum ayahmu curiga," pinta Anyelir.
"Kau tidak nyaman aku di sini?"
"Bukan begitu. Seharusnya kita tidak seperti ini di sini."
"Lalu di mana? Apa perlu aku membawamu pergi jauh agar kita bisa melakukan banyak hal bersama?" tanya Reiga.
"Tolong pertimbangkan lagi perasaanmu. Ayahmu akan sangat marah jika dia tahu kau berkhianat," ujar Anyelir.
"Aku sudah memintanya menceraikanmu berkali-kali. Hutang seharusnya dibayar dengan uang, bukan dengan cara seperti ini."
"Aku tahu," gumam Anyelir pelan.
Reiga tersenyum, ia kembali memberi Anyelir satu suapan.
"Bagaimana jika aku memberimu uang dan kau bisa melunasi hutang-hutang orang tuamu? Dengan begitu, Ayah akan menceraikanmu. Dan, kita bisa bersama." Reiga memberi saran.
__ADS_1
Anyelir menatap laki-laki itu. Ia ingin, namun apakah cara itu bisa berhasil?
...****************...