
Reiga berjalan cepat meninggalkan kamar dan menghampiri seseorang yang sedang berdiri kebingungan di ruang tamu.
"Anda siapa? Ada perlu apa?" tanya Reiga.
"Itu, Pak Dorman," jawab seorang laki-laki paruh baya dengan topi bulat di kepalanya.
"Ada apa dengan ayah saya?" tanya Reiga panik.
"Sekarang ada di pusat kesehatan desa. Pak Dorman jatuh di kebun dan sampai sekarang masih belum sadar," terangnya.
"Baik, terima kasih. Tolong antarkan saya kesana," ucap Reiga.
Sebelum meninggalkan rumah, Reiga kembali menemui Anyelir. Ia mengatakan tentang apa terjadi pada Dorman. Reiga memilih untuk pergi tanpa Anyelir karena kondisi gadis itu masih lemah.
Dengan cepat, Reiga mengendarai sepeda motor mengikuti pekerja ayahnya yang datang ke rumah. Hanya berselang kurang dari sepuluh menit, Reiga telah sampai di pusat kesehatan desa dan melihat keadaan ayahnya.
Dorman masih tidak sadarkan diri. Laki-laki paruh baya itu sudah lama menderita penyakit darah tinggi, kolesterol serta sesak napas. Dokter yang ditemui Reiga menjelaskan jika mereka tidak bisa merawat Dorman di klinik yang memiliki keterbatasan alat dan tempat, bahkan pusat kesehatan desa ini hanya menyediakan dokter umum, sementara Dorman harus ditangani oleh dokter spesialis untuk memastikan kondisinya.
Reiga mencemaskan keadaan ayahnya, ia dengan cepat meminta dokter untuk menyiapkan segala kebutuhan Dorma selama perjalanan dan membawa sang ayah untuk berobat ke rumah sakit besar di kota.
Sambil menunggu perawat yang akan mendampingi Dorman selama di perjalanan, Reiga memutuskan untuk pulang dan menyiapkan segala hal yang di perlukan.
__ADS_1
Saat sampai di rumah, Anyelir sudah berdiri di dekat pintu utama untuk menyambut kedatangan anak tirinya.
"Bagaimana keadaannya? Apa beliau sudah sadar?" tanya Anyelir.
"Lihat, setelah apa yang ayahku perbuat padamu, tapi kau masih mengkhawatirkannya," jawab Reiga.
Anyelir hanya diam, ia menunggu Reiga menjelaskan.
"Kondisinya cukup mengkhawatirkan. Karena ayah menderita beberapa penyakit sekaligus, maka dokter menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit yg lebih besar," jelas Reiga.
"Lalu?"
"Tidak, aku akan ikut," ucap Anyelir.
"Aku akan mengurus ayahku sendiri. Lagi pula dia tidak pernah baik padamu, kau tidak harus peduli."
"Bagaimanapun, aku punya tanggung jawab untuk mengurusnya. Jadi, izinkan aku ikut. Aku berjanji tidak akan merepotkan mu," pinta Anyelir.
Meskipun tidak sekalipun Dorman berbuat baik padanya, Anyelir tidak bisa lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang istri begitu saja.
Terlebih, kini Dorman sedang terbaring sakit dan Reiga akan kesulitan mengurus sang ayah sendirian. Anyelir tidak sampai hati membiarkan mereka menjalani kesulitan sementara ia hanya menunggu sendirian di rumah besar ini.
__ADS_1
Entah terbuat dari apa hati gadis cantik itu, membuat Reiga sangat mengaguminya.
"Kau akan baik-baik saja?" tanya Reiga khawatir.
"Hmm." Anyelir mengangguk.
Meskipun Reiga mencemaskan keadaan sang ayah, namun Reiga tidak mau membuat Anyelir merasa tertekan. Reiga paham dengan semua penderitaan yang dirasakan Anyelir akibat ulah Dorman. Maka Reiga pun tidak memaksa jika Anyelir ingin melepaskan semua tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Karena sebenarnya Dorman sendiri tidak bertanggung jawab sebagai seorang suami.
"Baiklah, bawa barang yang sangat kau perlukan. Selebihnya kita bisa beli saat tiba di kota," ujar Reiga.
"Baik." Anyelir mengangguk paham.
Pagi ini Anyelir hampir meregang nyawa karena rasa putus asa dan penderitaan yang ia alami. Namun Tuhan bahkan memiliki rencana lain untuk menghukum orang yang telah menyakitinya.
Meski begitu, Anyelir tidak merasa dendam. Ia hanya kecewa karena terlahir dengan takdir yang tidak berpihak padanya.
Hanya berselang dua puluh menit, Anyelir sudah berganti pakaian. Ia membawa satu tas berisi pakaian ganti serta keperluan pribadi miliknya. Ia juga membawa beberapa setel pakaian milik Dorman untuk berjaga-jaga.
Setelah Anyelir siap, Reiga segera mengajak gadis itu masuk ke dalam mobil. Mereka langsung bergegas menuju kota setelah menyusul Dorman ke pusat kesehatan desa.
Sementara Anyelir dan Reiga berada di mobil yang sama, Dorman terpaksa harus diantar oleh ambulan serta dokter dan perawat untuk memantau kondisinya selama perjalanan.
__ADS_1