
Keesokan paginya, Anyelir tiba di rumah sakit pukul lima pagi. Gadis itu datang membawa dua kotak makanan berukuran sedang. Sebelum sampai di tempat ini, Anyelir sudah memasak di apartemen dan menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Reiga.
Saat tiba di ruang perawatan Dorman, Anyelir melihat Reiga yang masih terlelap sambil duduk di kursi yang terletak di samping ranjang Dorman.
Sementara itu, Dorman tampak terjaga dan melamun menatap kosong pada jendela kaca.
"Anda sudah sadar?" tanya Anyelir. Ia meletakkan barang yang ia bawa di meja, lalu mendekati Dorman.
Dorman terdiam, ia hanya melirik kedatangan istrinya.
Anyelir melihat Reiga tidur dengan tidak nyaman. Perlahan, Anyelir membangunkan Reiga dengan mengusap punggung laki-laki itu.
"Reiga," bisik Anyelir.
Reiga yang merasakan tangan hangat menyentuh punggungnya, langsung terbangun dengan cepat.
"Kau sudah datang? Jam berapa ini?" tanya Reiga. Matanya sayu, ia terlihat lelah.
"Jam lima pagi, masih agak gelap. Kau bisa lanjut tidur di sofa. Tubuhmu akan sakit jika tidur di sini," ucap Anyelir.
"Ah, baiklah. Aku akan tidur lima menit lagi," ujar Reiga sambil berjalan menuju sofa panjang.
__ADS_1
Dorman bisa mendengar dan melihat dengan jelas apa yang terjadi. Dorman bisa melihat bagaimana Anyelir memperlakukan Reiga dengan begitu baik. Gadis itu nampak sangat tulus, bahkan ia tetap rela menunggu Dorman setiap hari meski sudah diperlakukan buruk oleh suaminya.
"Anda butuh sesuatu?" tanya Anyelir. Gadis itu mendekatkan telinganya saat melihat Dorman membuka mulut.
"Ma ... ap." Satu kata yang keluar dari mulut Dorman membuat Anyelir terkejut. Gadis itu menjauhkan telinganya, ia menatap wajah pucat Dorman.
"Seharusnya saya yang meminta maaf. Maaf atas semua yang sudah terjadi. Saya tidak pernah bermaksud membuat Reiga menentang anda," ungkap Anyelir.
Dorman tidak bisa mengatakan apapun. Ada banyak hal yang ingin ia ungkapkan, termasuk permintaan maaf bertubi-tubi atas apa yang selama ini ia perbuat pada Anyelir.
Kini laki-laki tua itu telah mendapatkan hukuman dan ia menyesal. Dorman telah dihukum dengan rasa sakit yang tiada akhir atas perbuatannya terhadap Anyelir dan keluarganya selama ini. Dan Dorman juga di hukum oleh penghianatan Reiga atas perbuatannya yang telah bertindak sewenang-wenang pada istri pertamanya.
Karena Dorman, Reiga yang seharusnya masih bisa melihat senyum ibunya kini harus merelakan wanita yang telah melahirkannya.
Pukul tujuh pagi setelah Anyelir dan Reiga sarapan pagi bersama, mereka mendatangi ruangan dokter yang merawat dan memantau Dorman selama ini.
Mereka mendapatkan kabar yang cukup menyayat hati, bahwa Dorman kini mengalami kelumpuhan delapan puluh persen di tubuhnya.
Dorman tidak bisa melakukan apapun selain sedikit menggerakkan kepalanya dan jari jemarinya. Dorman bahkan kesulitan bicara, dan yang berfungsi dengan baik hanya penglihatan dan pendengarannya.
"Keadaannya semakin memburuk. Kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuknya," ucap Dokter.
__ADS_1
"Apa penyebab utama memburuknya keadaan ayah saya, Dok?" tanya Reiga.
"Sepertinya Tuan Dorman tidak mengkonsumsi obatnya secara rutin. Apa dia juga masih merokok diam-diam?" tanya Dokter.
Reiga dan Anyelir menggeleng, mereka tidak tahu soal itu. Karena meski mereka sama-sama mengurus Dorman, namun Dorman juga sering menghabiskan waktu sendirian di dalam kamarnya.
"Kami selalu memastikan ayah mengkonsumsi obatnya tepat waktu," ujar Reiga.
"Mungkin ada sesuatu yang terlewat. Kami akan melakukan pemeriksaan pada jantung dan organ dalamnya," lanjut Dokter.
Anyelir dan Reiga pun keluar dari ruangan dokter dengan perasaan cemas.
"Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Anyelir.
"Maka aku harus rela," jawab Reiga singkat.
"Maafkan aku," gumam Anyelir. Ia berpikir jika semua ini terjadi karena dirinya.
"Tidak, semua ini adalah takdir. Ayah menuai apa yang ia tanam sendiri. Bukan salahmu."
Anyelir terdiam, ia menghela napas panjang. Keduanya berjalan menyusuri lorong lalu menaiki lift menuju ruang perawatan Dorman.
__ADS_1
Saat tiba di ruangan, Reiga melihat grafik detak jantung Dorman di monitor mulai melemah. Anyelir panik saat Dorman mengalami kejang tiba-tiba. Reiga segera menekan tombol darurat dan berharap ayahnya segera tertolong.