
Suatu sore saat Anyelir sudah selesai memasak untuk menu makan malam, ia tiba-tiba merindukan orang tuanya. Ia melihat cukup banyak makanan yang ada di atas meja. Jika ia membawa sedikit makanan untuk kedua orang tuanya, mereka pasti sangat senang, pikir Anyelir.
Saat Reiga hendak ke kamar sang ayah, ia melihat Anyelir melamun menatap makanan di hadapannya. Reiga pun mendekati gadis itu karena penasaran.
"Kenapa? Apa kau sudah lapar?" tanya Reiga.
"Tidak, aku hanya rindu ayah dan ibuku," jawab Anyelir. Ia memanyunkan bibirnya, lalu menghela napas panjang.
"Kalau begitu, temui saja mereka. Aku pikir, mereka juga pasti merindukanmu."
"Ayahmu tidak akan memberiku izin. Percuma," gumam Anyelir sedih.
"Kau belum mencobanya. Pergilah dan minta izin padanya, mungkin suasana hatinya sedang baik dan Ayah memberimu izin, bisa jadi."
Anyelir terdiam sesaat, tidak ada salahnya ia mencoba.
"Hmm. Baiklah," ucap Anyelir. Ia pun meninggalkan ruang makan dan bergegas menemui Dorman di dalam kamarnya.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Masuk!" Dorman berteriak dari dalam.
"Ada apa?" tanyanya saat ia melihat Anyelir datang.
"Bolehkah saya pergi menemui orang tua saya sebentar? Saya ingin mengantar sedikit makanan untuk mereka," ucap Anyelir. Ia takut, namun berusaha memberanikan diri.
Dorman menatap Anyelir, menggerakkan jari telunjuknya sebagai isyarat agar Anyelir mendekat.
"Apa kau akan tidur di sini malam ini jika aku mengizinkanmu?" tanya Dorman. Sejak ia pulang dari rumah sakit, Anyelir tidak pernah tidur bersamanya.
Hal itu berkat Reiga, laki-laki itu berdalih jika ia ingin lebih dekat dengan Dorman dan ingin memastikan kondisi sang ayah siang dan malam. Jika Anyelir berada dalam kamar yang sama bersama Dorman, maka Reiga akan merasa malu.
Karena rasa sayangnya pada Reiga, Dorman pun rela tidur sendiri agar Reiga bisa bebas keluar masuk mengunjunginya di dalam kamar.
Mendengar pertanyaan Dorman, Anyelir menelan ludah kasar. Ia memang merindukan kedua orang tuanya, namun ia tidak bisa jika harus mengulangi malam-malam mengerikan itu bersama laki-laki tua di hadapannya.
"Bagaimana? Aku sudah sangat merindukanmu," bisik Dorman.
Reiga yang sengaja berdiri di dekat pintu kamar tamu, ia bisa mengetahui situasi yang terjadi hanya dengan melihat gelagat Anyelir dan Dorman.
Reiga segera mendekat, ia membawa segelas air putih dan beberapa kapsul obat.
"Ada apa, Ayah?" tanya Reiga pura-pura tidak tahu.
"Tidak ada, Ayah hanya meminta dia tidur di sini malam ini," jawab Dorman.
"Kenapa? Apa Ayah bosan tidur sendirian? Bagaimana jika aku menemani Ayah malam ini? Kita bisa menonton acara sepak bola bersama," bujuk Reiga.
__ADS_1
Dorman terdiam sejenak, lalu ia pun setuju.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" Reiga melempar pertanyaan pada Anyelir yang masih berdiri mematung.
"Ah, aku ingin meminta izin untuk pulang ke rumah orang tuaku sebentar. Aku ingin mengantar makanan," jawab Anyelir.
"Bagaimana, Ayah? Apa Ayah mengizinkannya?" tanya Reiga pada Dorman.
"Pergilah," jawab Dorman dengan wajah tidak rela.
Di depan Reiga, Dorman tidak bisa bersikap leluasa. Ia berusaha keras menjadi ayah yang baik untuk satu-satunya anak yang sangat dicintainya. Seburuk apapun perangai Dorman, ia ingin Reiga menilainya sebagai ayah yang baik dan dapat diandalkan.
"Apa Ayah mengizinkannya pergi sendiri?" tanya Reiga.
"Apa kau bersedia mengantarnya?" Dorman balik bertanya. Reiga pun tersenyum dan mengangguk. Secara tidak sadar, Dorman telah memberi banyak kesempatan pada Reiga dan Anyelir untuk bersama.
Dorman tidak mungkin mengizinkan Anyelir keluar dari rumah ini tanpa pengawasan. Karena Dorman sangat khawatir jika gadis itu berniat kabur dan tidak kembali ke rumah ini.
Setelah memastikan Dorman telah meminum obat sesuai jadwal, Reiga segera mengantar Anyelir sebelum hari mulai gelap.
Sepanjang jalan, mereka bergurau dan tertawa bersama. Keduanya bagaikan sepasang remaja yang tengah di mabuk cinta. Tanpa peduli pada pandangan mata orang-orang yang mereka lewati, keduanya asik mengobrol dan mengagumi keindahan desa saat senja mulai menyapa.
Sebelum mereka tiba di rumah Anyelir, Reiga menghentikan laju sepeda motornya di pinggir jalan. Mereka berhenti di jalanan yang sepi dari rumah warga, hanya tampak perbukitan dan kebun di sekitarnya.
"Ayo turun," pinta Reiga.
"Ada sesuatu yang ingin aku lakukan," jawab Reiga.
Anyelir pun turun dari sepeda motor. Reiga lalu mengeluarkan sebuah kamera digital yang ia simpan di dalam bagasi motor.
"Berdirilah di sana," pinta Reiga.
"Kenapa?"
"Aku akan memotretmu."
"Untuk apa? Tidak perlu." Anyelir tersipu malu.
"Ayolah, berdiri di sini dan tersenyum. Aku ingin memotretmu," bujuk Reiga. Ia menggandeng Anyelir dan meminta gadis itu berdiri di posisi yang pas untuk mendapatkan pemandangan terbaik saat senja.
"Satu, dua, tiga!"
Anyelir tersenyum, Reiga mendapatkan beberapa gambar yang sangat bagus untuk koleksinya.
"Kau cantik," puji Reiga. "Mau berfoto bersama?" tawarnya.
"Hmm, tentu." Anyelir mengangguk.
__ADS_1
Untuk berfoto bersama, Reiga mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengabadikan momen kebersamaan mereka. Keduanya terlihat sangat bahagia. Meski hanya sesaat, Anyelir bisa melupakan segala kekacauan hidupnya setiap kali bersama Reiga. Laki-laki itu, membawa kenyamanan dan kedamaian di hati Anyelir. Semakin hari, Anyelir semakin merasa terikat karena rasa cintanya.
Setelah mendapatkan banyak gambar, mereka segera melanjutkan perjalanan dengan cepat. Hari semakin gelap, Anyelir khawatir jika Dorman murka karena terlalu lama menunggu.
...****************...
Beberapa waktu berlalu, kabar-kabar tidak sedap mulai menyebar dari mulut ke mulut. Entah siapa yang memulai, namun kabar kedekatan Anyelir dan Reiga yang dinilai terlalu berlebihan pun menjadi berita hangat oleh warga desa setempat.
Satu persatu orang mulai membicarakan kedekatan ibu tiri dan anak tirinya yang di nilai sangat berbeda. Terlebih, Anyelir dan anak tirinya masih sama-sama muda. Mereka beberapa kali terlihat berboncengan bersama dengan begitu mesra.
"Bagaimana hubunganmu dengan ibu tirimu, Nak Reiga?" tanya salah seorang ibu-ibu pekerja yang sedang beristirahat. Sementara Reiga duduk di dekatnya karena baru saja melakukan pengecekan barang untuk pengiriman ke luar kota.
"Baik," jawab Reiga singkat.
"Ah, syukurlah. Jarang sekali ada anak yang bisa menerima ibu tirinya dengan baik. Saya lihat, kau cukup dekat dengannya. Anyelir gadis yang baik dan cantik. Kasihan sekali dia," gumam ibu tersebut.
Reiga hanya tersenyum kecil dan tidak memberi jawaban apapun. Sejujurnya, ia tidak suka jika ada orang asing yang mempertanyakan masalah pribadinya. Terlebih, ini perihal Anyelir.
Lama kelamaan, kabar tak sedap itupun sampai ke telinga kedua orang tua Anyelir. Sampai pada akhirnya, mereka meminta Anyelir untuk pulang dan menanyakan kebenarannya.
"Tidak, Bu. Kami tidak punya hubungan apapun. Tolong jangan percaya pada siapapun," bantah Anyelir saat sang ayah bertanya padanya
"Kau tidak berbohong, kan, Anye? Ayah khawatir karena orang-orang terus membicarakanmu."
"Maaf sudah membuat Ayah khawatir."
Anyelir tidak bisa mengakui hubungan gelapnya. Anyelir tidak mau nama baik kedua orang tuanya tercemar karena perbuatannya. Ia takut perasaan orang tuanya akan hancur jika tahu kebenarannya.
Tidak hanya kedua orang tua Anyelir, Dorman bahkan telah menerima berita buruk itu. Suami Anyelir itu murka dan meminta Anyelir serta Reiga menemuinya bersama-sama.
"Katakan jika apa yang Ayah dengar itu bohong, Reiga!" seru Dorman.
Saat ini Dorman dan Anyelir serta Reiga telah duduk bersama di ruang tamu. Dengan wajah merah padam menahan geram, Dorman menatap anak dan istrinya dengan tatapan menyelidik.
"Jawab, Reiga!" sentak Dorman.
Reiga melirik Anyelir, gadis itu menggeleng pelan. Air mata menetes di pipinya. Gadis itu nampak gemetar dan ketakutan. Ia takut amarah Dorman akan membuatnya kembali disiksa dan dihukum seperti sebelumnya.
"Tidak, berita itu tidak benar!" tegas Reiga.
"Jangan bohong!" seru Dorman. Laki-laki tua itu meletakkan sebelah tangannya di dada. Dorman nampak meringis kesakitan.
"Aku berkata jujur, Ayah."
"Apa kalian sungguh tidak punya hubungan khusus? Kalian yakin jika apa yang warga katakan itu hanya fitnah?" tanya Dorman penuh penekanan.
"Itu berita bohong!" jawab Reiga. Melihat sang ayah tidak baik-baik saja, Reiga khawatir. Jika ia berkata jujur dan mengatakan yang sebenarnya, Reiga takut akan terjadi sesuatu pada Dorman.
__ADS_1