Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Berita Buruk Dan Kenyataan


__ADS_3

Selepas sang suami dikuburkan, Anyelir tidak bisa langsung pulang dan tinggal bersama orang tuanya begitu saja. Anyelir masih memiliki tanggung jawab untuk membereskan barang-barang milik Dorman dan menyimpannya dengan baik.


Saat Anyelir dan Reiga kembali dari pemakaman, masih ada beberapa orang yang berada di rumah mereka untuk mengucapkan belasungkawa.


Namun, tujuan orang-orang itu bukan hanya ingin menyampaikan rasa duka atas berpulangnya pengusaha perkebunan teh di desa mereka, melainkan ingin melihat secara langsung sosok Anyelir dan Reiga yang sedang menjadi topik perbincangan hangat para warga.


"Anyelir, kelihatannya kau baik-baik saja, ya, meski suamimu meninggal," ucap salah seorang ibu-ibu paruh baya berpakaian hitam.


"Ya, iya, loh. Justru bagus kalau Pak Dorman meninggal. Anyelir kan langsung bisa jadi janda kaya," timpal ibu-ibu yang lainnya.


"Mohon maaf, Ibu-Ibu. Tolong jangan membicarakan hal-hal seperti itu," ucap Anyelir dengan sopan. Gadis itu tetap berusaha tersenyum meski ia tidak menyukai percakapan di depannya.


"Ya sudah, Anyelir. Baik-baik di rumah ini, ya. Tidak perlu sedih, yang tua mati, yang muda juga masih bisa dirayu lagi," seloroh Ibu tersebut menyindir.


Tiga ibu-ibu yang datang melayat pun bergegas meninggalkan Anyelir dan berpamitan. Kedatangan mereka bukan hanya bertujuan untuk menyampaikan rasa duka, namun mereka seakan ingin mencari kabar berita tentang kebenaran gosip yang telah tersebar.


Selepas orang-orang di rumah itu pergi satu persatu, kini tinggallah Anyelir dan Reiga. Mereka berdua membereskan rumah yang cukup berantakan karena banyaknya tamu yang datang.


Anyelir melihat Reiga menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Laki-laki itu pun terlihat pucat dan lelah.

__ADS_1


"Beristirahatlah di kamarmu, aku akan membereskan semuanya sendiri," ucap Anyelir.


"Tidak, aku akan membantu."


"Kau lelah, tidurlah."


Reiga tersenyum kecil, ia menarik tangan Anyelir dan mengajaknya menaiki anak tangga.


"Kalau begitu, kau juga harus beristirahat. Aku akan meminta bantuan orang untuk membereskan dan mengurus rumah selama beberapa hari. Kau bisa bersantai," ujar Reiga.


"Tidak, itu tidak perlu."


"Hmm, baiklah." Anyelir mengangguk.


Sebenarnya, ia pun merasa lelah karena perjalanan jauh dan kejadian hari ini. Ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti nasehat Reiga dan beristirahat.


...****************...


Satu minggu setelah kematian Dorman, Reiga hanya datang ke perkebunan teh sesekali untuk memantau kondisi dan memastikan semuanya berjalan lancar.

__ADS_1


Namun, bisik-bisik para pekerja perkebunan membuatnya merasa tidak nyaman dan kesal.


"Apa kabar itu benar? Apa Anyelir berselingkuh dengan anak tirinya?"


"Jangan-jangan, kematian Pak Dorman itu di sengaja."


"Apa mungkin, semua sudah direncanakan."


"Bagaimana jika Pak Dorman meninggal bukan karena penyakitnya?"


Berbagai pemikiran buruk serta kabar tidak sedap mulai terdengar bersahutan ke sana dan kemari. Reiga berusaha untuk tidak menanggapi berita itu karena ia tidak suka membicarakan masalah pribadinya.


Reiga berusaha agar Anyelir tetap tinggal di rumahnya agar tidak bisa mendengar berbagai hal buruk yang sedang menjadi perbincangan hangat orang-orang sekitar.


Namun sekeras apapun usaha Reiga untuk mencegah ucapan buruk orang masuk ke telinga Anyelir, nyatanya lidah lebih tajam daripada parang.


Tidak disangka, orang tua Anyelir sendiri yang datang ke rumah dan menanyakan semua kebenaran itu pada Anyelir dan juga Reiga.


Bagaimana bisa mereka menyangkalnya saat ini?

__ADS_1


Karena pada kenyataannya, kini mereka tinggal dalam satu atap yang sama.


__ADS_2