Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Hikmah Atau Musibah?


__ADS_3

Dorman merasakan dadanya terasa sakit. Laki-laki tua itu kesulitan bernapas, ia pun hanya bisa menatap Reiga dengan mulut terbuka, tak sanggup lagi mengucapkan sepatah kata.


"Ayah," gumam Reiga. Ia panik, ia segera mendekati sang ayah dan berusaha membangunkan tubuhnya.


Melihat keadaan sang ayah yang sudah tampak memburuk, Reiga segera menggendong tubuh Dorman sambil berlari keluar dari kamar.


Anyelir yang baru saja turun dari lantai atas pun terkejut. Ia segera berlari dan menyusul Reiga.


"Ada apa? Apa yang sudah terjadi?" tanya Anyelir.


"Aku akan membawa ayah ke pusat kesehatan desa. Ayah harus mendapatkan pertolongan pertama," ucap Reiga sambil terus berjalan keluar rumah.


"Aku ikut!" seru Anyelir sambil mengikutinya.


"Tidak, aku akan mengurus ayah sendiri," tolak Reiga.


"Tapi ...."


"Tolong buka pintunya," pinta Reiga. Anyelir pun membuka pintu belakang mobil Reiga dan Reiga segera membaringkan sang ayah.


"Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir," ucap Reiga sambil memegang kedua pundak Anyelir.

__ADS_1


Reiga pun pergi mengendarai mobilnya dengan cepat ke pusat kesehatan desa. Ia tidak peduli dengan jalanan yang bergelombang dan terus melaju cepat.


Sesampainya di pusat kesehatan desa, Reiga segera menggendong ayahnya masuk ke ruang gawat darurat. Dengan cepat, dokter melakukan pemeriksaan serta pertolongan pertama pada gagal nafas yang dialami oleh Dorman.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit besar! Siapkan ambulan!" seru Dokter.


Reiga pun setuju, setelah mendapatkan pertolongan pertama dan detak jantung Dorman kembali stabil, ia langsung di angkut ke dalam ambulan.


Reiga membuka ponselnya, ia menelepon ke telepon rumah dan berharap Anyelir mengerti keadaannya. Reiga tidak bisa mengajak gadis itu. Reiga tidak ingin membuat Anyelir semakin kerepotan setelah apa yang diperbuat oleh Dorman padanya.


Tiga kali panggilan tak terjawab, Reiga tidak punya pilihan. Ia harus segera pergi agar ayahnya terselamatkan. Namun saat Reiga menyalakan mesin mobilnya. Terdengar suara Anyelir berteriak. Laki-laki itu melirik spion mobilnya, mendapati Anyelir dibonceng oleh tukang kebun mereka.


"Anyelir," gumam Reiga.


"Apa ini?" tanya Reiga.


"Aku akan ikut," ucap Anyelir. "Ayo!" seru gadis itu sebelum Reiga memberi jawaban.


Anyelir segera beralih ke sisi mobil lainnya dan memasukkan tas. Ia pun langsung masuk ke dalam mobil sementara Reiga hanya melongo.


"Ayo cepat!" seru Anyelir dari dalam mobil.

__ADS_1


Reiga pun pamit pada tukang kebun yang baru saja mengantar Anyelir. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.


"Bukankah sudah ku bilang jika kau tidak perlu ikut?" tanya Reiga.


"Aku tidak bisa mengabaikan tanggung jawabku sebagai istri dari ayahmu. Bagaimanapun dia, aku harus mengurusnya," jawab Anyelir.


Reiga menghela napas panjang. Ia pun akhirnya pasrah dan segera mengemudikan mobilnya menyusul ambulan yang lebih dulu pergi.


...****************...


Setelah sampai di rumah sakit tujuan, Dorman langsung mendapatkan perawatan. Kondisi kesehatan laki-laki paruh baya itu semakin memburuk. Dokter berusaha melakukan yang terbaik untuknya.


"Kau mengatakan sesuatu pada ayahmu?" tanya Anyelir saat ia dan Reiga sedang duduk di ruang tunggu dalam keadaan cemas. Sementara dokter sedang melakukan pemeriksaan pada Dorman.


"Hmm." Reiga mengangguk.


"Apakah ini salahku?" tanya Anyelir lagi. Reiga menoleh, menatap dalam gadis itu.


"Tidak, kau tidak melakukan kesalahan," tegas Reiga.


"Beberapa hari terakhir ayahmu sering mengeluh sakit dan aku mengabaikannya. Aku kesal dan marah karena perbuatannya, aku selalu berdoa dengan buruk untuknya," gumam Anyelir.

__ADS_1


"Aku bisa mengerti perasaanmu."


__ADS_2