
Happy Reading genks 😍
♥️♥️♥️
Walau kini usia Devo sudah kepala lima namun dalam urusan yang satu ini ia tidak pernah merasa tua, jiwa mudanya bagai tak pernah pudar.
Merebahkan tubuh diranjang yang ukurannya tidak sebesar ranjang dikamar tidur mereka, keduanya melepaskan rasa rindu yang selama ini tertahan.
"Kangen banget sama kamu Bun" ucap Devo sambil memeluk istri yang ia rindukan, mereka sudah berada didalam kamar tamu yang sangat jarang ditempati karena memang diperuntukkan bagi tamu yang menginap dikediaman mereka.
"Iya, Bunda juga kangen sama ayah, belakangan ayah kan keluar kota terus" jawab Lisa membalas pelukan suaminya sambil berkeluh-kesah mengenai perasaannya.
" Ayah kerja buat kalian Bun, ayah nggak mau kalian sampai hidup kekurangan"
"Iya, Bunda ngerti kok. Makasih ayah udah bertanggung jawab untuk kita semua" Lisa merubah posisinya, ia menelungkupkan tubuhnya disamping sang suami dengan bertumpu pada kedua siku.
"Nggak terasa ya Yah, anak-anak sudah besar. Si kakak sebentar lagi lulus kuliah S1 nya, si adek juga bakal lulus SMA"
"Ayah juga mau ngucapin makasih sama Bunda, sudah mengurus ayah dan anak-anak. Sudah menjadi istri yang baik buat Ayah dan juga ibu yang selalu ada buat anak-anak"
Devo merasa hidupnya sempurna, memiliki istri yang tetap cantik dan juga anak-anak yang sehat dan juga pintar.
Lisa mengecup lembut pipi Devo
"Bun?" ucap Devo mendapatkan perlakuan istimewa dari istrinya.
"Heemm..." Lisa tidak bisa berkata-kata, kini bibirnya sudah menyatu dengan bibir suaminya. Saling membelit dan mendecap
Devo melepas ciuman mereka "Pintu sudah dikunci?" tanya Devo.
"Lupa Yah, sudah atau belum ya?"
Devo langsung beranjak memastikan keadaan pintu kamar tersebut demi keamanan mereka agar tidak ada lagi yang masuk mendadak yang akan merusak kegiatan yang sudah tertunda dua kali itu.
Melanjutkan dengan ciuman yang lebih dari sebelumnya membuat gairah kedua insan yang sudah tak lagi muda.
"Bun??" Devo membuka kancing piyama Lisa satu persatu, Suara kini sudah mulai tidak beraturan.
Lisa pun melakukan hal yang sama, ia membuka semua pakaian yang melekat di tubuh suaminya.
Penyatuan diawali dengan pemanasan yang tidak terlalu lama karena sang pria sudah tidak bisa menahan hasratnya.
"Aarghh...ayah??..."Lisa melenguh merasakan sentuhan didalamnya, hentakan yang diberikan Devo membuatnya melayang.
__ADS_1
"Bun??" Devo terus saja memompa Lisa, sesekali ia pun mengerang nikmat. Kenikmatan tiada tara yang selalu mereka nantikan.
♥️♥️♥️
Seperti biasa pagi ini mereka sarapan bersama, rutinitas keluarga yang diterapkan Lisa sejak mereka mempunyai anak.
Menuangkan secentong nasi goreng diatas piring dan memberikannya pada Caca. "Kamu hari ini kuliah Ca?" Lisa menanyakan kegiatan Caca hari ini.
"Iya Bun. Aku ke kampus sebentar terus setelah itu aku mau cari tempat PKL (praktek kerja lapangan) bareng Dini dan Rike"
"Ngapain repot-repot Ca? kamu ke kantor ayah aja! bener nggak Yah?!" Lisa meminta persetujuan Devo yang sedang sedang asik membaca berita melalui ponselnya.
"Heem?? iya" Devo menoleh kearah sumber suara, menjawab singkat pertanyaan dari Lisa.
"Iya kak! kalo nggak kakak ke perusahaan Opa aja! ya kan Bun?!" Tama menambahkan.
Dan Lisa menanggapi ucapan Tama dengan anggukan.
"Nggak seru dong! masa aku magang di kantor ayah?! Nggak ada tantangan nya!" Caca menolak pendapat sang Bunda dan juga adik tercinta.
"Yah??" Lisa meminta bantuan Devo untuk meyakinkan putri mereka.
Devo meletakkan ponsel yang dipegangnya diatas meja, "Memang kamu mau PKL dimana Ca?" tanya sang Ayah serius pada putri satu-satunya.
"Kalau dikantor ayah kenapa??" tanya Devo lagi.
"Aku mau mandiri Yah! lagian aku kan mau buktiin sama Dosen pembimbing dan temen-temen kalau aku punya kemampuan dan bukan cuma mengandalkan perusahaan orang tua aja" Caca menjelaskan dengan menggebu-gebu.
"Widiihh...nggak usah pake nge gas gitu dong kak! biasa aja keless!!" ucap Tama.
"Serius nggak mau dikantor Ayah??" tanya Devo memastikan lagi berharap putrinya akan berubah pikiran.
"Please deh Yah??!" Caca memasang wajah memelas.
"Ya sudah,, terserah Caca. Ayah percaya sama kamu"
♥️♥️♥️
Setelah perdebatan dengan semua anggota keluarga akhirnya Caca diperbolehkan menjalani program magang di perusahaan yang ia pilih.
Duduk dikantin kampus, Caca memesan tiga porsi mie ayam spesial untuk dirinya juga untuk Rike dan Dini.
"Rik?! gimana??! kita bisa ikut gabung dikantor bokap lo?" Caca penasaran dengan hasil yang akan diinformasikan oleh pak Andi, papah Rike.
__ADS_1
"Bokap gue bilang CEO nya belom balik dari Amrik, jadi kita harus nunggu dua sampai tiga hari lagi" jelas Rike.
"Sabar dong shaayy?!!" Dini ikut bersuara.
"Kalo gue liat difoto waktu bokap gue ada acara kantor, CEO nya ganteng banget Ca!"
Rike bercerita tentang bos besar yang menjadi atasan papahnya.
"Ganteng mana sama bokap gue?!" tanya Caca menantang ucapan Rike.
"Heehh!! bokap lo mahh udah tua Ca!!" Rike menyolot.
"Lahh??? tua juga ganteng!!" jawab Caca.
"Bos bokap gue masih muda, ganteng. Pokoknya kereen dahh" Rike membanggakan sang CEO yang hanya dilihat dari gambar saja, karena ia pun belum pernah bertemu sekalipun.
"Yang bener lo Rik?!" Dini memastikan ucapan Rike tentang sosok pria yang sedang diceritakan oleh temannya tersebut.
Namun tidak dengan Caca, ia hanya asik menyantap mie ayam yang ada dihadapannya.
"Gue tambah penasaran Rik, jadi nggak sabar deh gue?" Dini berucap lagi.
"Tenang....Nanti juga kita bakal liat tiap hari" tambah Rike.
"Cuci mata tiap hari shaaayy" Dini bersemangat menanggapi perkataan Rike.
♥️♥️♥️
Waktu yang ditunggu ketiga gadis cantik itu pun tiba, papah Rike sudah membawa hasil tentang persetujuan magang dari big bos dikantor nya untuk putri dan kedua temannya.
Hari ini mereka sudah mulai magang di perusahaan yang bergerak dibidang properti yang cukup bonafit di Jakarta, itulah salah satu alasan ketiga gadis itu memilih perusahaan itu. Karena alasan keduanya adalah didalamnya ada papah Rike yang menjabat sebagai kepala divisi pemasaran.
Padahal jika disimak apa bedanya dengan jika Caca magang di perusahaan ayahnya sendiri, ujung-ujungnya sudah pasti karena ada orang dalam yang memudahkan jalan mereka.
Yaaa....bukan Shasya namanya jika tidak keras kepala dan agak ngeyel jika diberitahu, terlebih sikapnya yang sedikit gesrek. Ternyata gen dari sang Oma Rena yang turun ke ayah Devo dan sekarang menurun pula ke dirinya.
♥️♥️♥️
Wooyy....sepi bingiiitzz yak???
jempol...mana jempol...
like n komen dong genks.
__ADS_1