
Dalam waktu singkat, Reiga dan Anyelir telah menyelesaikan malam indah mereka. Keduanya berbaring berdampingan di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang remang-remang. Anyelir melamun, setetes air mata mengalir di pipinya.
"Apa yang sudah aku lakukan? Bagaimana bisa ini terjadi?" batin Anyelir. Ia benar-benar dalam keadaan sadar dan waras, namun bagaimana bisa ia berbuat seperti ini?
Reiga menatap Anyelir, ia memiringkan tubuhnya menghadap Anyelir sambil mengusap pipi gadis itu.
"Apa kau menyesal?" tanya Reiga. Anyelir menoleh, mantap wajah tampan di sampingnya.
"Tidak." Anyelir menggeleng pelan. Bagaimana ia bisa menyesal jika Reiga adalah laki-laki yang beberapa waktu terakhir telah memporak-porandakan hatinya.
"Aku menyukaimu, aku menyadari perasaanku namun aku berusaha untuk mengabaikannya. Sekarang, aku tidak bisa lagi melakukannya," terang Reiga.
"Bukankah ini salah?" tanya Anyelir lirih.
"Ini adalah kesalahan terindah dalam hidupku," jawab Reiga. Tidak sedikitpun ada rasa menyesal dalam hati laki-laki itu meskipun ia telah mengkhianati ayahnya sendiri.
Anyelir terdiam, ia kesulitan mencerna situasi yang terjadi. Ia tidak tahu bagaimana nasibnya nanti jika Dorman mengetahui apa yang telah ia perbuat dibelakangnya. Anyelir yakin, Dorman tidak akan segan-segan membunuhnya.
"Ini sudah larut, ayo tidur," ucap Reiga sambil tersenyum. Ia menggeser tubuhnya mendekati Anyelir, meletakkan bahunya di bawah kepala gadis itu dan memeluknya.
Reiga membiarkan Anyelir memejamkan mata dalam pelukannya. Ia paham perbuatannya sudah melewati batas, dan ia adalah pelaku utama. Namun Reiga tidak bisa menahan dan mengabaikan perasaannya. Apa yang ia rasakan untuk Anyelir, adalah cinta yang diselimuti oleh dosa.
Setelah sekian lama, kini Anyelir bisa merasakan tidur dengan nyenyak dan nyaman. Ia telah menangis setiap malam dan mengutuk takdir buruk yang menghampirinya. Namun saat ini, ia berada dalam pelukan hangat laki-laki yang memperlakukannya dengan baik dan penuh kasih sayang.
...****************...
Di pagi buta, Reiga kehilangan Anyelir dari pelukannya. Laki-laki itu membuka mata dan tidak menemukan Anyelir di sampingnya.
Reiga menggeliat, meregangkan tubuhnya yang kaku. Ini adalah malam yang indah dan melelahkan, Reiga sangat menyukainya. Ia bangun dengan penuh semangat.
"Apa dia sedang mandi?" batin Reiga. Ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Ia bahkan masih belum mengenakan sehelai benangpun dan menyeret selimut untuk menutupinya.
__ADS_1
Saat selimut terbuka, ia melihat bercak darah pada seprei putih yang menjadi tempat ia dan Anyelir memadu kasih semalam. Reiga mengernyitkan, ia tampak bingung.
Saat hendak turun dari kasur, Anyelir tiba-tiba membuka pintu kamar dan aroma masakan sudah tercium lezat oleh Reiga.
"Kau sudah bangun?" tanya Anyelir. Ia mengambil handuk dan menyerahkannya pada Reiga.
"Kapan kau bangun? Aku bahkan sudah mencium aroma makanan sepagi ini," ucap Reiga dengan senyum menawan di bibirnya.
"Mandi dan bergegaslah. Kita harus segera ke rumah sakit. Aku akan mengemas makanan untuk di bawa."
"Bagaimana jika kita sarapan pagi di sini saja? Aku yakin Ayah akan baik-baik saja."
"Tidak. Aku tidak mau membuatnya marah!" tolak Anyelir. Kemarahan Dorman adalah ketakutan terbesarnya.
Reiga tidak ingin berdebat, ia langsung menuruti perkataan Anyelir dan segera masuk ke kamar mandi.
Sambil menunggu Reiga selesai, Anyelir mengemas makanan yang sudah ia masak. Ia sengaja memasak dalam porsi cukup banyak karena ia juga ingin Dorman mencicipi masakannya.
Setelah Reiga selesai, mereka pun bergegas keluar dari apartemen.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Reiga saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil.
"Ya?" Anyelir menoleh, menatap laki-laki itu.
"Aku melihat bercak darah di atas tempat tidur kita semalam, apa kau ...." Reiga tidak melanjutkan kata-katanya. Ia khawatir Anyelir akan tersinggung dengan pertanyaannya.
"Kau benar, tapi tidak sepenuhnya benar," jawab Anyelir. Ia langsung membuang muka, mengalihkan pandangan pada kaca di sampingnya.
Reiga menghela napas panjang. Ia tidak hanya merebut istri dari ayahnya, namun Reiga bahkan merenggut kegadisan Anyelir sebagai ibu tirinya.
Anyelir melamun. Pikiran Reiga tentang dirinya memang benar, bahwa ia masih perawan. Karena sejak awal, Dorman tidak pernah berhasil menegangkan senjatanya. Sebab itulah, Anyelir semakin di siksa dan harus melakukan segala hal untuk memuaskan Dorman dengan berbagai cara.
__ADS_1
Namun pikiran Reiga pun tidak sepenuhnya benar, karena sebenarnya Dorman sudah lebih dulu menjamah tubuh Anyelir dengan tangannya yang kotor. Memikirkannya saja membuat Anyelir muak, ia benci setiap kali tangan laki-laki itu menyentuh kulitnya.
Saat mereka tiba di tempat parkir rumah sakit, Reiga menarik sebelah tangan Anyelir saat gadis itu hendak keluar dari mobil.
"Aku akan mengatakan semuanya dengan jujur pada Ayah. Aku akan berbicara secara baik-baik, dan mengatakan jika aku menginginkanmu," ujar Reiga.
Anyelir menautkan kedua alisnya dengan tatapan tidak percaya.
"Itu bunuh diri," tegas Anyelir.
"Ayah pasti mengerti."
"Sepertinya kau tidak mengenal betul siapa ayahmu. Mungkin kau akan selamat karena kau adalah anak semata wayangnya. Tapi bagaimana denganku?" tanya Anyelir.
Reiga terdiam, ia tidak bisa berkata-kata. Anyelir akhirnya keluar dari mobil dan meninggalkan laki-laki itu.
Saat tiba di ruang perawatan Dorman, Anyelir langsung menyiapkan makanan yang sudah ia masak untuk Dorman. Gadis itu membawa piring dan duduk di kursi yang terletak di samping ranjang Dorman.
"Apa itu menu dari rumah sakit?" tanya Dorman.
"Tidak, saya memasaknya sendiri," jawab Anyelir. Ia pun hendak menyuapi Dorman, namun Reiga mengambil alih piring di tangannya.
"Biar aku saja," sela Reiga.
"Baik." Anyelir hanya mengangguk tanpa protes. Kini, Reiga juga tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Ia merasa cemburu melihat sikap Anyelir pada Dorman.
Berbeda dengan Reiga, Dorman justru merasa senang saat anaknya berinisiatif untuk menyuapi makanan untuknya. Karena selama ini, Reiga bukan tipe anak yang memberikan perhatian lebih padanya. Sejak kecil, Reiga memang sangat menyayangi ibunya, namun ia tidak cukup dengan dengan sang ayah.
Setelah suapan terakhir untuk sang ayah, Reiga datang ke ruangan dokter yang selama ini bertanggungjawab atas kondisi Dorman. Dokter mengatakan jika Dorman mengalami stroke dan menyebabkan beberapa bagian tubuhnya sulit digerakkan. Itu akan memakan waktu cukup lama dalam proses penyembuhan.
Reiga pun diminta untuk menjaga kesehatan mental sang ayah agar tensi darahnya tetap stabil. Karena hal itu, Reiga benar-benar harus membatalkan rencananya untuk memberitahu Dorman tentang perasaannya terhadap Anyelir. Padahal, Reiga sudah bertekad untuk melepaskan Anyelir dari cengkraman sang ayah, ia tidak bisa lagi melihat gadis yang ia cintai menderita.
__ADS_1