
Met weekend ya genks.
Happy reading 😘
❤️❤️❤️
Kini kunci rumah kontrakan itu sudah ada ditangan Lisa, masuk dirumah yang kosong tanpa barang apapun. Devo langsung menempatkan bokongnya dilantai, ia terlihat lelah sekali karena memang tadi malam ia tidak tidur demi mencari gadisnya yang kini ada bersamanya.
"Kamu ngapain?"
"Duduk"
"iya aku juga tau!"
"ya udah,,teruuss??" Devo mengulang perkataan Lisa yang tadi pagi.
"Pulang sana!! aku mau istirahat." sebenarnya Lisa juga bingung, bagaimana ia bisa istirahat, selembar tikar pun ia tidak punya.
"Lis, lebih baik kita pulang yukk" ajak Devo karena tak tega melihat keadaan Lisa sekarang.
" Ya udah, kamu pulang sana. Jangan ganggu hidup aku lagi, aku mau hidup tenang!"
"Kita beli perabotan dulu yuk?!" Devo membujuk Lisa.
"Kitaaa???? aku aja kali, kamu enggak!!"
"Ok..kalo gitu aku gak akan pulang."
"Udah deh kak, aku cuma mau hidup dengan anakku, aku gak mau anakku terancam" suara Lisa melemah, karena kelakuan Devo yang keras kepala dan tetap mau pergi.
"Apa?!!! terancam?!! maksud kamu??!! tolong jelasin, aku gak ngerti"
Masih melekat dipikiran Lisa tentang ancaman Aurel pada bayinya. "gak kok ga apa-apa" Lisa masih tetap menutupi.
Hanya butuh satu jam sebuah mobil barang mengantarkan sebuah spring bed yang tidak terlalu besar, cukuplah untuk seukuran kamar kontrakan, sebuah sofa panjang minimalis, kompor dan peralatan masak seadanya.
Akhirnya Lisa menyerah setelah perdebatan dengan Devo, kini Devo bisa meninggalkan Lisa dan calon bayinya dengan perasaan lebih tenang. Dengan pengawasan seorang pengawal tentunya.
Sudah pasti untuk menjaga Lisa Devo mengirimkan seorang laki-laki dengan pakaian layak nya orang biasa yang juga disewakan tempat dekat dengan tempat tinggal Lisa.
"Aku pamit ya, kamu baik-baik disini. Kalau perlu apa-apa hubungi aku" perintah Devo layaknya bos.
Si Devo lupa kali yaak, suruh telpon?? pake ulekan??? Lisa kan kagak pegang hp gara-gara bininya nohh.
Sebelum keluar rumah Devo meletakkan sebuah kartu debitnya untuk Lisa, dengan maksud agar Lisa bisa membeli apa yang ia butuhkan.
__ADS_1
"Bawa kartu kamu!! aku gak butuh!!" Lisa menyerahkan kartu itu dengan sangat kasar. Devo hanya menerima sikap Lisa padanya, entah trauma apa yang ia alami. Tapi sepertinya Lisa belum mau menceritakan semuanya. Ia memaklumi semua yang Lisa perbuat untuknya, yang Lisa alami pun lebih parah dari ini.
❤️❤️❤️
Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Devo memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengunjungi Lisa setiap hari sedangkan ia juga harus fokus pada perusahaan miliknya. Selain itu ia juga harus mengurus perceraian nya dengan Aurel. Tapi semua itu tidak terlalu membuat pikirannya gusar.
"Bagaimana Dev?" tanya papah Kevin ketika melihat Devo tiba dirumah.
"Sudah ketemu pah"
" Syukurlah, terus? kok gak dibawa kesini?" tanya mamah Rena penasaran.
"Lisa enggak mau ikut aku mah" Devo membaringkan tubuh lelahnya setelah perjalanan dari Sukabumi.
"Aneh ya pah, kok gak mau dibawa?" pertanyaan mamah Rena pada suaminya.
"Mesti ada yang gak beres ini mah!" papah Kevin menaruh curiga merasakan ada yang tidak sewajarnya.
Logikanya, perempuan hamil. Setelah bertemu dengan laki-laki yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya kenapa dia bisa menolak.
"Alasannya apa Dev?"
Tidak ada jawaban, Devo yang menutupi matanya dengan sebelah lengannya itu tetap bergeming.
"yahh,,nih anak diajak ngomong kok ya malah tidur!" ucap mamah Rena.
" Biarkan aja mah, kasian... kelihatannya dia lelah sekali" sahut papah Kevin tidak tega melihat anaknya.
❤️❤️❤️
Lisa terus saja berpikir, bagaimana ia bisa menjalani hidupnya kedepan. Apalagi ia juga harus menyiapkan biaya untuk persalinannya.
Jauh-jauh memikirkan beberapa bulan kedepan, untuk mengganti pakaian nya saja ia tidak punya. Karena koper yang berisi baju-baju nya masih di villa.
Tok..tok..."pakeeeet !!!" suara seseorang terdengar dari depan pintu.
Lisa bergegas membuka pintu, "paket untuk ibu Lisa" ucap seorang anak muda menyerahkan satu bungkus lumayan besar. "tanda tangan disini ya bu" menyodorkan selembar kertas untuk dibubuhi tanda tangan Lisa sebagai bukti bahwa paket yang diantarnya sudah diterima oleh orang yang dituju.
Lisa terlihat bingung, dia tidak pernah memesan apapun. Ini barang punya siapa? pikirnya dalam hati. " tapi mas,, saya tidak merasa pesan barang" akhirnya lisa bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"wahh...tugas saya cuma nganter barang bu"
Bungkusan tanpa nama itu sudah ia pegang.
"terimakasih ya mas" ucap Lisa sambil membolak-balikkan bungkusan tersebut mencari nama pengirimnya, namun ia tidak juga berhasil.
__ADS_1
Segera masuk setelah kurir paket pergi, Lisa memberanikan diri membuka paket yang terbungkus rapih.
eeeng...iiing...eengg...kok author jadi deg degan yaak, paan itu isinya??
Ternyataaaa...sekotak susu bubuk batita dan tiga buah daster yang ukurannya hampir sama dengan karung...ehh..sarung maksudnya...
Lisa mengerutkan keningnya merasa aneh, sepertinya paket yang ia terima salah alamat dehh. Tapi kok namanya bener yaa, atau memang kebetulan nama mereka sama..
Kalo diliat dari isi paketnya siihh... author menarik kesimpulan itu yang pesen barang seorang emak-emak yang punya banyak lemak, selalu sibuk dengan kerjaan rumah,, rambut diuntel-untel, dijepit pake jepitan gocengan belinya di abang- abang gerobak . Teruuuss....Kalo dari pesenan susunya tuh emak-emak juga punya anak kecil..yang kalo emaknya lagi makan minta dicebokin pokoknya rempong dahh.. bayangin nya aja akyu udah ngos-ngosan. Kalo bayangan kamu gimana genks???
Setelah menjembreng baju kebesaran bermotif batik dengan aneka warna itu, Lisa meletakkan kembali semuanya kedalam kotak seperti semula.
Lisa masuk kekamar merebahkan tubuhnya, tatapannya kelangit-langit kamar, berpikir dan terus berpikir.
Secepatnya ia harus mendapatkan pekerjaan, tapi perusahaan mana yang mau menerima ibu hamil seperti dirinya, mau usah online tapi ia tidak mempunyai fasilitas nya.
❤️❤️❤️
Memutuskan untuk pergi ke pasar atau toko terdekat untuk membeli beberapa baju ganti.
"Orang baru ya mbak?" tanya tetangga sebelah rumah yang juga mengontrak disebelah Lisa.
"Saya Yani mbak" Yani mengulurkan tangan untuk berkenalan.
"Saya Lisa mbak Yani. Ohh iyaa..kalo pasar yang paling deket mana ya mbak?"
"Ohh itu mbak. tinggal naik ojol aja"
"Kalo angkot ada ya mbak? Lisa kan gak punya aplikasi ojol.
Lahh,, boro-boro aplikasinya, hp nya aja kagak gablek..syedihh beud dahh ahh si Lisa.
Jangan belagu dehh Thor,,,elu juga kalo mo nulis kudu berebut hp dulu ma bocah..
Yaahh...kalo begini mahh senjata makan tuan yaak..🙊
❤️❤️❤️
Udah ahh... author jadi minder..met malming aja buat kalian yaak
lop yu poreper genks 😘 😘😘
❤️❤️❤️
eeett...jangan kabur dulu napah,,, vote nya bagi ama komen biar banyakan yakk..
__ADS_1