
Dengan berlinang air mata, Seruni menatap Anyelir yang duduk bersimpuh memeluk kakinya. Rasa cinta serta kasih sayang yang begitu besar seorang ibu, mampu membuat segala kesalahan yang diperbuat oleh anaknya termaafkan.
Meskipun tidak mudah untuk berusaha menerima dan ikhlas dengan semua yang Anyelir lakukan, namun Seruni berusaha untuk mengerti. Bahwa Anyelir hanya menginginkan kebahagiaan.
Dengan tangan gemetar, Seruni membantu Anyelir bangkit. Ia memeluk Anyelir, satu-satunya anak yang terlahir dari rahimnya.
Anyelir masih menangis dalam pelukan Seruni. Anyelir terus mengatakan permohonan maafnya berkali-kali.
"Sudah, sudah," bisik Seruni. Ia memeluk Anyelir dengan erat, mencium wajah putrinya yang selama ini ia rindukan kehadirannya.
Beberapa saat kemudian, Sapto datang dengan pakaian lusuh. Laki-laki tua itu melihat anak dan istrinya berpelukan dalam tangis. Sapto bergeming, ia tidak menduga bahwa putrinya datang mengunjunginya.
"Ayah," sapa Anyelir. Gadis itu masih menangis sesenggukan. Ia berjalan pelan menghampiri Sapto dan meraih sebelah tangan ayahnya.
Anyelir mencium tangan Sapto, lalu duduk berlutut di kaki ayahnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ayah. Hukum aku jika perlu, tapi jangan membenciku," ucap Anyelir.
Sapto terdiam, menatap anak semata wayang yang selama ini ia banggakan. Tanpa terasa, Sapto menitikkan air mata, ia duduk dan merangkul anaknya.
"Maafkan Ayah, Anye. Maafkan Ayah," ucap Sapto.
"Andai saja Ayah bekerja lebih keras lagi, andai saja Ayah bisa menghasilkan banyak uang dan mencukupi kebutuhan keluarga kita, mungkin kau tidak akan menjalani kehidupan buruk ini. Maafkan Ayah, Anye," lanjutnya.
"Tidak, Ayah. Ayah tidak salah!"
"Ayah lah yang patut disalahkan atas semua yang terjadi. Maafkan Ayah karena memberimu kehidupan seperti ini. Maaf karena kau terlahir dalam keluarga seperti ini." Anyelir dan Sapto berpelukan dan menangis.
Andai saja semua itu tidak terjadi, Anyelir pasti masih memiliki masa depan yang baik dan kehidupan yang menyenangkan. Anyelir bisa menikah dan memilih laki-laki yang ia cintai. Anyelir tidak perlu mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain.
Kini, kedua orang tua Anyelir mulai mengerti dan memaafkan kesalahan Anyelir. Mereka berusaha mengerti, bahwa Anyelir hanya menginginkan setitik kebahagiaan dari lautan penderitaan yang ia alami.
__ADS_1
Dua hari ini, Anyelir ingin tinggal bersama kedua orang tuanya setelah sekian lama berpisah. Anyelir merindukan masakan ibunya, serta rindu memijat kaki ayahnya saat sang ayah mengeluh lelah.
Selama dua hari, Anyelir menghabiskan waktu dengan tawa tak pernah lepas dari wajahnya. Ia menikmati hari ini dengan rasa bahagia. Meskipun hampir setiap waktu ia mendengar perkataan buruk dari tetangga di sisi kanan dan kiri rumahnya, Anyelir tidak peduli. Baginya, maaf kedua orang tuanya adalah kebahagiaan yang luar biasa.
"Ibu senang kau kembali pulang, Nak. Tapi, tidak baik jika kau tinggal berlama-lama di sini. Bagaimana dengan rumah suamimu?" tanya Seruni.
"Aku sudah mengurus surat cerai mati, Bu. Aku sudah menjadi janda, dan aku tidak bersuami lagi," jawab Anyelir.
Seruni tersenyum. "Janda bukan aib, Nak. Jangan merasa rendah diri. Ibu senang kini kau sudah bebas."
"Bu, ada yang ingin aku bicarakan. Aku berharap, Ibu mau mengerti keinginanku," ujar Anyelir.
Seruni mengernyitkan dahi. Ia yang tengah sibuk membereskan pakaian yang baru saja di cuci, menatap Anyelir dengan rasa heran.
"Ada apa?" tanya Seruni.
__ADS_1
"Aku ingin memulai hidup baru, aku ingin memperbaiki diri dan menjauh dari siapa saja yang menyakitiku, Bu. Maukah Ibu dan Ayah pergi bersamaku?"
...****************...