Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Hidup Baru


__ADS_3

Tanpa menunggu waktu lama, berselang satu tiga hari sejak Sapto dan Seruni merestui hubungan Reiga dan Anyelir, kini Reiga langsung memboyong mereka menuju kota.


Mereka semua paham resiko yang akan mereka dapatkan jika meneruskan jalan yang sudah mereka pilih, yaitu sindiran, gunjingan serta berbagai macam cemooh mereka dapatkan dari para tetangga serta warga desa setempat.


Mereka semua menilai, Sapto dan Seruni begitu bodoh dan tidak tahu diri hingga merestui hubungan terlarang antara Anyelir dan anak tirinya.


Namun semenjak kematian Dorman, status Reiga bukan lagi anak tiri bagi Anyelir. Mereka hanya orang asing yang dipertemukan oleh takdir yang kurang baik.


Meninggalkan sebuah tempat yang mereka sebut rumah adalah hal yang sulit. Terlebih, Sapto dan Seruni adalah murni warga desa tersebut. Mereka bahkan membesarkan Anyelir di gubuk tua mereka.


Namun demi mendukung Anyelir dan demi kebahagiaan anak mereka satu-satunya. Sapto dan Seruni rela mengikuti kemana langkah kaki sang putri berjalan. Mereka hanya ingin Anyelir bahagia, juga mencari kehidupan yang lebih baik di luaran sana.


"Ayah, Ibu. Kita tidak akan pernah kembali ke desa itu, semoga kalian tidak keberatan jika aku memaksa kalian untuk ikut bersamaku," ucap Anyelir.


"Kami melakukan apapun yang terbaik untukmu, Anye."

__ADS_1


"Kita sudah sampai," sela Reiga.


Saat Reiga membunyikan klakson mobilnya, seorang petugas keamanan yang sedang berjaga langsung membuka gerbang rumah mereka.


Anyelir serta kedua orang tuanya takjub melihat rumah besar yang ada di hadapan mereka. Rumah itu bagaikan istana, halaman yang luas, kolam ikan dengan air mancur, serta pilar-pilar bangunan yang besar dan kokoh.


"Apa benar ini rumahnya?" tanya Anyelir sambil menatap Reiga.


"Hmm, ini rumah kita." Reiga tersenyum dan mengangguk.


"Iya, besar. Apa kita tidak salah alamat?" tanya Sapto memastikan.


"Tidak, Pak. Ini rumah kita, aku membelinya dengan uang tabunganku sendiri. Jangan khawatir," jawab Reiga.


Reiga segera mengajak mereka masuk. Saat pintu utama terbuka, Sapto dan Seruni hendak melepas alas kaki mereka, namun Reiga mencegahnya.

__ADS_1


Wajar saja, keluarga ini memang sudah hidup susah dan berada dalam ruang kemiskinan yang cukup memprihatinkan. Bagi mereka, rumah sebesar itu tentu bagaikan istana. Mereka tidak pernah menyangka, bahwa mereka bisa merasakan hidup seperti saat ini.


"Ini adalah rumah kita. Jangan merasa tidak enak atau malu, Pak, Bu. Saya membeli rumah ini untuk tempat tinggal kita semua. Tapi untuk sementara waktu, saya harus tinggal di hotel karena saya dan Anyelir belum menikah. Seperti apa yang sebelumnya saya sampaikan, saya ingin memulai semuanya dari awal," terang Reiga.


Seruni dan Sapto menangis haru. Sapto merangkul Reiga sambil menepuk pelan punggung laki-laki muda itu.


Sapto tidak pernah menyangka, jika Reiga sangatlah berbeda dengan Dorman, ayahnya.


Anyelir menitikkan air mata melihat pemandangan di depan matanya. Kebahagiaan terbesar baginya bukanlah rumah mewah serta segala fasilitasnya. Namun kebahagiaan terbesar bagi Anyelir adalah mendapatkan restu kedua orang tuanya serta melihat orang tua dan laki-laki yang ia cintai sama-sama peduli dan saling mengasihi.


Hari ini, Reiga menemani keluarga itu dan memberitahu segala hal yang sudah ia siapkan di rumah itu. Reiga bahkan memberikan dua pelayan yang bertugas untuk membantu mereka membersihkan dan mengurus rumah.


Untuk memulai lembaran kisah yang baru, Reiga memutuskan untuk tidak ikut tinggal dalam satu rumah selama ia dan Anyelir belum resmi menikah. Meski sebelumnya mereka sudah tinggal bersama, namun status mereka saat itu adalah ibu tiri dan anak tiri.


Reiga ingin memulai semuanya dari awal, dan kini mereka sedang merencanakan sesuatu yang besar untuk memulai kisah baru yang akan dipenuhi dengan kebahagiaan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2