Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Ke Kota


__ADS_3

Perjalanan dari desa menuju kota memakan waktu tempuh hampir dua jam. Lokasi desa yang berada di daerah pegunungan dengan jalan berkelok serta naik turun membuat mobil tidak bisa melaju kencang.


Sebelum tiba di kota, Reiga membantu pihak pusat kesehatan desa untuk menghubungi salah satu rumah sakit terbesar di kota tersebut. Reiga memilih rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari apartemen yang ia tinggali selama berada di kota. Dengan begitu, ia dan Anyelir tidak perlu lagi menyewa tempat tinggal sementara.


Menjelang sore, mereka telah sampai di rumah sakit tujuan. Dengan cepat, dokter dan perawat langsung melakukan pemeriksaan lengkap terhadap Dorman.


Sambil menunggu, Reiga mengurus semua administrasi serta keperluan pendaftaran pasien, sementara Anyelir dengan tulus mendampingi Dorman menjalani pemeriksaan.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Reiga setelah menyelesaikan urusannya. Ia mendatangi dokter yang bertugas.


"Kami akan melakukan observasi untuk sementara waktu sambil menunggu hasil lab keluar. Sementara ini, kami belum bisa menyimpulkan. Jadi mohon tunggu dan bersabar," jawab Dokter.


"Baik, terima kasih." Reiga pun meninggalkan dokter dan menghampiri Anyelir yang tengah duduk di samping ranjang tempat Dorman terbaring lemah.


"Kau baik-baik saja?" tanya Reiga.


"Ya." Anyelir mengangguk.


"Aku akan mengantarmu ke apartemenku. Beristirahatlah di sana malam ini, aku akan menjaga Ayah di sini," ujar Reiga.


"Tidak apa, aku juga akan di sini."


"Jangan menolak, kau harus istirahat."

__ADS_1


"Tapi ...."


"Ssttt! Ayah akan baik-baik saja, aku akan mengurusnya," sela Reiga sebelum Anyelir melanjutkan perkataannya.


"Hmm, baiklah." Anyelir pun setuju.


Lagi pula, Anyelir merasa sangat lelah. Gadis itu tidak pernah naik mobil apalagi dengan perjalanan sejauh ini. Anyelir sudah menahan mual karena tidak terbiasa naik kendaraan roda empat.


Jarak rumah sakit dan apartemen milik Reiga cukup dekat. Hanya kurang dari lima menit jika mereka mengendarai mobil, bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


"Kau tinggal di sini?" tanya Anyelir. Ia melihat gedung tinggi dengan banyak jendela dari tempat ia berdiri.


"Hmm, apartemenku ada di lantai tiga. Ayo!" seru Reiga.


Anyelir menaiki lift bersama Reiga. Gadis desa itu baru pertama kali menginjakkan kaki di kota dan merasa kagum dengan berbagai tempat yang baru saja ia lihat.


Saat tiba di depan unitnya, Reiga mempersilahkan Anyelir masuk.


"Ayo!"


Anyelir mengangguk, melepas sandal yang ia kenakan dan mengamati sekelilingnya.


"Wah, bagus sekali," decak kagum Anyelir.

__ADS_1


"Kau suka?"


"Tidak terlalu besar, tapi sangat bangus dan nyaman!" pujinya.


"Karena aku tinggal sendiri, maka aku hanya menggunakan satu kamar. Kamar yang lain sengaja aku pakai sebagai ruang belajar serta perpustakaan pribadiku," jelas Reiga. Ia mengantar Anyelir ke kamar.


"Ini kamarku, istirahatlah di sini. Dan itu, kamar mandinya," jelas Reiga. Anyelir pun mengamati dan memahaminya.


Setelah dari kamar, Reiga memberitahu letak dapur serta letak barang-barang yang bisa saja diperlukan.


"Aku suka tempat ini. Kau tinggal sendiri tapi rumahmu sangat rapi, semuanya tertata dengan baik," puji Anyelir.


"Ah, ini sederhana. Aku terbiasa hidup sendiri jadi aku sudah mandiri," ujar Reiga. "Paman yang merawatku meninggal enam tahun yang lalu. Jadi, aku membeli apartemen ini dan memutuskan hidup mandiri. Aku tidak ingin merepotkan orang lain," lanjutnya.


Anyelir tersenyum, menatap Reiga dengan pandangan kagum. Meskipun lahir dari darah laki-laki yang kasar dan pemarah seperti Dorman, nyatanya Reiga tumbuh menjadi laki-laki yang baik, lembut, dan penuh kasih sayang.


Anyelir tidak pernah mengenal ibu kandung Reiga sebelumnya, namun Anyelir yakin, jika sifat baik Reiga pasti menurun dari ibunya.


"Aku akan berada di rumah sakit untuk menjaga ayah saat malam hari, kau bisa datang pagi hari untuk menggantikan ku jika kau mau," ujar Reiga.


"Tentu, kita bisa berbagi tugas." Anyelir setuju. Reiga tersenyum menatap ibu tirinya.


"Aku harus kembali ke rumah sakit. Istirahatlah, aku akan memesan makanan untukmu dan kau hanya perlu menunggu, seseorang akan datang mengantarnya," ujar Reiga.

__ADS_1


"Baik." Anyelir mengangguk paham. Ia mengantar Reiga hingga ke depan pintu, menunggu sampai laki-laki itu masuk ke dalam lift.


Reiga melambaikan tangan dan tersenyum sebelum pintu lift tertutup, hal itu secara tiba-tiba menimbulkan getaran aneh di hati Anyelir.


__ADS_2