
Setelah dua bulan kematian Dorman, kini Anyelir memberanikan diri untuk keluar dari rumah tempatnya menyembunyikan diri dari pandangan orang serta menjauhi ucapan buruk tentangnya.
"Aku akan mengantarmu," ucap Reiga.
"Tidak, aku akan pergi sendiri. Kau bisa menjemputku besok lusa."
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Jangan dengarkan apa pun yang menyakiti hatimu. Fokus untuk menemui orang tuamu dan tetap tenang."
"Hmm." Anyelir mengangguk.
Pagi ini, Anyelir akan datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Sejak kematian Dorman, seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya tidak boleh bepergian selama dua bulan. Dan hari ini, Anyelir memutuskan untuk menemui orang tuanya untuk membicarakan tentang rencananya bersama Reiga.
Demi kenyamanan, Anyelir menolak penawaran Reiga yang berniat mengantarnya. Anyelir tidak ingin orang-orang semakin menggunjingnya.
Untuk memastikan keselamatan Anyelir, Reiga menyuruh tukang kebun mereka untuk mengantar gadis itu.
Anyelir datang ke rumah orang tuanya dengan membawa beberapa buah tangan. Reiga telah membeli beberapa macam buah-buahan segar serta kue dan minuman kemasan menyehatkan. Reiga berharap, kedua orang tua Anyelir tidak lagi marah dan menerima kedatangan anak tunggal mereka dengan hati yang bahagia.
"Ibu," sapa Anyelir pelan saat ia baru saja turun dari sepeda motor.
__ADS_1
Anyelir melihat ibunya sedang menyapu halaman depan rumah mereka yang kotor karena daun-daun berserakan. Saat Anyelir tiba, beberapa tetangga mulai berdatangan serta mengintip kehadirannya.
Anyelir menghela napas panjang, ia meminta tukang kebunnya untuk menurunkan barang-barang bawaannya serta membawanya ke depan pintu rumahnya.
Anyelir berjalan mendekati Seruni, wanita paruh baya itu menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. Saat Anyelir mendekat, Seruni menjatuhkan sapu lidi di tangannya dan masuk ke dalam rumah begitu saja.
"Hei, Anyelir. Kau masih saja berani datang kemari setelah membuat malu orang tuamu!" seru salah seorang tetangga. Anyelir tidak menoleh, ia hanya diam dan melanjutkan langkah kakinya.
"Kami kira selama ini kau gadis baik-baik. Ternyata, aduh, malu-maluin keluarga!"
"Jangan-jangan benar, mantan suamimu itu meninggal karena terkena serangan jantung setelah memergoki istri dan anaknya lagi pacaran!"
"Gadis tidak tahu malu!"
"Ih, amit-amit. Ternyata cantik rupanya tapi hatinya busuk!"
Anyelir memejamkan matanya, mengabaikan beberapa ibu-ibu yang sedang membicarakannya dengan suara yang lantang dan keras, seolah-olah memang sengaja agar ia mendengarnya.
Anyelir masuk ke dalam rumah menyusul ibunya, sementara tukang kebun yang datang bersamanya langsung kembali ke kediaman Reiga.
__ADS_1
"Ibu," ucap Anyelir lagi.
Seruni duduk di kursi kayu yang sudah rapuh. Kedua bahu wanita paruh baya itu tampak berguncang. Seruni mengusap wajahnya dengan ujung baju yang sedang ia kenakan.
Jelas saja, Seruni bisa mendengar berbagai kalimat buruk yang diucapkan oleh tetangganya barusan. Ia tidak rela anaknya menjadi bahan gosip, namun Seruni tidak bisa melakukan apapun, karena semua yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran.
"Maafkan aku, Bu. Maafkan anakmu ini," ucap Anyelir. Kedua pipinya telah basah oleh air mata.
Anyelir duduk bersimpuh di atas tanah, memeluk kaki ibunya.
"Ibu, maafkan aku. Aku anak yang durhaka, maafkan aku, Ibu."
Anyelir bisa memahami rasa sakit yang dialami oleh ibunya. Anyelir tahu jika selama ini ibunya juga menderita karena perbuatannya.
Anyelir terus menangis, ia merangkul kaki Seruni dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Anyelir tidak bisa mengatakan banyak hal, gadis itu hanya terus menangis dan memohon maaf.
"Maaf karena membuat Ibu kecewa, maaf karena membuat ibu menderita. Maaf atas semua rasa sakit yang aku berikan, Ibu."
"Maafkan aku, Bu. Maafkan aku."
__ADS_1
...****************...