Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Kesedihan


__ADS_3

Anyelir tidak bisa berkata-kata dan hanya menunduk. Gadis itu tidak berani menatap wajah ayahnya. Anyelir tidak kuasa melihat kekecewaan yang tergambar jelas di wajah laki-laki renta yang menjadi sosok pahlawan di hidupnya.


"Apakah Ibu selama ini salah dalam mendidik mu, Anyelir? Apakah Ibu mengajarkan sesuatu yang salah padamu?" tanya Seruni sambil menangis.


"Ibu ...." Anyelir memejamkan matanya pelan. Ia pun menangis sedih. Tidak tahu harus berbuat apa.


"Maafkan kami, tapi ini bukan sepenuhnya salah Anyelir. Aku turut bersalah dalam hubungan terlarang ini," sela Reiga.


Sapto memandang Anyelir dan Reiga bergantian. Ia kecewa, ia kesal, ia ingin marah, namun tidak kuasa mengungkapkan kemarahannya di depan putri yang sangat dicintainya.


Sapto dan Seruni sangat mencintai Anyelir. Mereka berusaha keras menjadikan Anyelir gadis yang baik, gadis yang cantik tidak hanya dari fisiknya, melainkan Budi pekertinya.


Namun apa yang terjadi saat ini, benar-benar melukai hati mereka sebagai orang tua. Meski sebesar apapun rasa cintanya pada Anyelir, tidak membuat mereka bisa membenarkan perbuatan salah putrinya.


"Kami harus pulang. Jaga diri baik-baik," ucap Sapto tanpa basa-basi. Ia menggandeng Seruni dan keluar dari rumah itu tanpa menatap Anyelir.

__ADS_1


Anyelir ingin mencegahnya, namun Reiga menghentikan gadis itu. Karena saat ini, suasana hati kedua orang tua Anyelir sedang buruk.


"Biarkan mereka pulang dan menenangkan diri. Menahan orang tuamu di sini hanya akan membuat mereka semakin marah dan kecewa," ucap Reiga pelan.


Di depan rumah besar itu, beberapa warga sudah memperhatikan Sapto dan Seruni yang keluar dengan wajah pilu. Kini, orang-orang bisa menyadari, bahwa kabar tidak sedap yang berhembus sejak lama adalah sebuah kebenaran.


...****************...


Sejak kedatangan kedua orang tua Anyelir hari itu, Anyelir menjadi murung dan pendiam. Ia merasa bersalah sekaligus kecewa pada dirinya sendiri. Sejak awal, seharusnya ia sudah memikirkan konsekuensi yang akan ia terima dari segala perbuatannya. Namun demi ego dan hasrat sesaat, ia membuat hancur hati kedua orang tuanya.


"Aku tidak lapar," jawab Anyelir.


Reiga menghela napas panjang. Ia bangkit dari kursinya dan menuju lemari pendingin. Reiga mengeluarkan beberapa potong kue coklat yang ia beli siang tadi.


Reiga sengaja membeli banyak camilan dan makanan, berharap bisa membuat Anyelir nyaman dan sesaat melupakan kesedihannya.

__ADS_1


"Makan ini, aku sudah membelinya jauh-jauh ke tetangga desa. Hargailah usahaku," bujuk Reiga sambil tersenyum.


Bukan karena laki-laki itu tidak bisa memahami kesedihan Anyelir atau tidak bisa merasakan beban berat yang dipikul Anyelir. Namun Reiga sudah berusaha keras memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan semuanya.


"Makanlah. Setelah itu, kita bisa membicarakan sesuatu," ucap Reiga lagi.


Anyelir mendongak, menatap senyum manis di wajah laki-laki yang ia cintai. Laki-laki yang membuatnya tergila-gila hingga melupakan norma dan batas kewajaran dalam cintanya.


Reiga menyuapi Anyelir dengan sepotong kue, membiarkan gadis itu merasakan nikmatnya kelembutan serta rasa manis dari coklat yang meleleh.


"Makanlah, makan yang banyak. Kau harus tetap sehat agar aku juga bahagia. Kita harus memperjuangkan cinta kita, apapun yang terjadi, kita akan melewatinya bersama," ujar Reiga.


Anyelir mengangguk dan tersenyum kecil, ia menemani Reiga makan malam dengan perasaan lebih tenang.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2