Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Episode 101


__ADS_3

INFO\=\=> Sebagai ucapan terimakasih author pada my readers sekalian yang tetap setia mengikuti cerita Cinta Terlarang, author akan membagikan masing-masing 3pc masker (warna random) kepada 10 teratas pemberi vote.




Buat nama yang ada diatas silahkan gabung ke chat grup R-na ya untuk mencantumkan alamat pengiriman. Kutunggu yaa genks 😘


Nahh buat yang lain rajin-rajin kirim vote nya yaa. Masih banyak hadiah yang lain lohh...


♥️♥️♥️


Wokeh.... Happy Reading genks 😍


Hari pertama magang sudah terlewati tanpa masalah, Caca dan kawan-kawan cukup bisa mengikuti arahan kepala divisi masing-masing.


Rike dan Dini pulang berbarengan dengan pak Andi, sedangkan Caca memilih pulang menggunakan taksi online karena arah tujuan mereka berlawanan arah.


"Lo serius Ca nggak mau ikutan bareng kita?" Rike bertanya untuk kedua kalinya.


"Iya, gue serius guys. Gue udah pesen taksi online kok. Kalian tenang aja yaa" jawab Caca.


"Oke deh, sampai jumpa besok ya guys. Bye...bye.." ucap Dini sebelum masuk ke mobil pak Andi.


Jalanan ibukota sudah mulai padat ketika Caca melewatinya, baru kali ini ia merasakan yang namanya bekerja untuk orang lain.


Ternyata cukup melelahkan, mengingat sang ayah yang selalu bekerja keras demi keluarga hingga terkadang meninggalkan istri dan anak-anaknya hanya demi mensejahterakan mereka semua.


♥️♥️♥️


Sesampainya di depan gerbang rumah mewahnya Caca bergegas turun dan setengah berlari mencari sang Bunda.


"Assalamualaikum,, Bunda?? aku pulang Bun!" Caca berteriak dari teras depan rumah.


"Ibu diatas Non" jawab Imah salah seorang asisten rumah tangga yang baru beberapa tahun bekerja dikediaman Devo menggantikan bi Sanih, karena sudah tua anak-anak bi Sanih tidak lagi mengijinkan orang tua mereka bekerja dan membawanya kembali ke kampung.


"Mbak tolong buatin aku teh dong" pinta Caca pada Imah.


"Oke Non Caca" jawab Imah sambil mengangkat ibu jarinya.


Caca bergegas masuk ke kamarnya, ia ingin segera mandi. Badannya terasa berkeringat dan lengket.


♥️♥️♥️


Jam makan malam tiba, ternyata anggota keluarga yang lain sudah berkumpul diruang makan.


"Caca mana Bun? tumben si cantik belum turun?" tanya Devo pada istrinya.


"Iya, tumben? Tama? kok kakaknya nggak diajak turun?" bunda Lisa bertanya pada Tama yang sudah bergabung dimeja makan namun tangannya masih aktif pada ponselnya.

__ADS_1


"Nggak tau Bun, aku kan tadi dari teras samping Bun" sahut Tama.


"Ya dipanggil dong sayaang??!" perintah sang Bunda pada anak laki-lakinya.


Devo mengangguk turut mengiyakan ucapan Lisa dan Tama segera memanggil kakak perempuannya.


Tok...tok..."Kak??!....kakak?!....gue masuk ya kak?!" Tama bersuara dari depan pintu namun belum mendapatkan jawaban dari Caca.


Menekan knop pintu, ternyata pintu kamar Caca tidak dikunci. Pantas saja jika tidak ada respon dari sang pemilik kamar, Caca tertidur sejak sore tadi. Secangkir teh yang ia minta pada Imah pun masih utuh.Mungkin ia terlalu lelah sejak pulang dari kantor.


"Kak?! bangun!" Tama menggoyang lengan Caca, ia berusaha membangunkan kakaknya.


Tama menjatuhkan tubuhnya disebelah Caca.


"Hooaamm.....eemmm..."


"Wooyy...kak bangun! ditunggu Ayah sama Bunda tuh! ayo cepetan!" ucap Tama.




Karena merasa terlalu lama Caca belum juga turun, sekarang justru Tama pun tak kunjung datang. Devo khawatir dengan keadaan putrinya.


"Bun? ayah susul anak-anak dulu ya?! kok dua-duanya malah menghilang?!" kini Devo ikut menyusul Tama menuju kamar Caca.


Tiba dilantai atas, tepatnya didepan kamar Caca. Devo langsung masuk karena pintu kamar Caca terbuka, ia mendapati kedua anaknya sedang berbaring di ranjang.


"Ayaaahh...."Caca beranjak dari ranjang dan segera memeluk Devo.


"Kenapa sayang?! kakak sakit?" Devo bertanya sambil mengelus lembut rambut putrinya.


Caca hanya menggeleng, ia tambah mengeratkan pelukannya. Rasa sayang pada ayahnya semakin dalam, lelahnya bekerja ternyata membuat Caca tersadar betapa besar tanggung jawab sang ayah padanya dan juga Tama.


"Coba bilang sama Ayah, kakak kenapa?!" Devo menjauhkan bahu Caca.


"Caca sayang Ayah!" sahut Caca.


Devo tersenyum mendengar ucapan sayang dari putrinya, usianya sudah hampir menginjak dewasa namun sikap manjanya pada sang ayah belum berubah sejak kecil.


"Ayah jauh lebih sayang sama Caca!" sahut Devo.


Tama yang melihat kejadian tersebut pun berkomentar, "kenapa lo kak?! kok jadi sayang-sayangan gitu?!"


"Biarin ya Yah?! ucap Caca.


"Helloo???!!!" teriakan ibu negara dari arah ruang makan terdengar nyaring.


"Tuuh?!! jangan sampai Bunda marah! ayo kita turun!" ajak Devo pada kedua anaknya.

__ADS_1


Dan mereka bertiga bergegas turun, mereka menghindari tausiyah yang akan mengawali acara makan jika tidak segera menuruti panggilan sang Bunda.


"Kok lama sih?! makanannya keburu dingin deh. Kalian ngapain aja?!" tanya Lisa pada ketiga orang yang ia sayangi.


"Biasa Bun, tadi ada sedikit drama" Tama seperti mengadu pada Bundanya.


Dan Lisa hanya tersenyum, "Sekarang makan dulu ya, nanti ceritain ke Bunda" ucap Lisa penasaran dengan yang dimaksud drama oleh Tama.


Makan malam akhirnya terlaksana dengan senda gurau seperti biasanya. Saat-saat inilah yang tidak bisa dilewati oleh Devo dan juga Lisa, karena pada saat makan malam mereka semua bisa menceritakan semua aktifitas masing-masing anggota keluarganya.


"Magangnya tadi gimana Ca?!" tanya Bunda Lisa.


"Ya gitu bun, cape Bun! disuruh-suruh" Caca mulai bercerita.


"Ya namanya juga usaha kerja Ca! pasti cape lahh!! nanti kamu juga terbiasa" sahut sang bunda menasehati putrinya.


"Tapi Bun, bos Caca baiik banget" Caca mulai bersemangat menceritakan Nathan. "udah gitu Bun, gantengnya itu lohhh?!!! cakeepp banget Bun!" Caca memuji bosnya.


"Hati-hati kak! ntar naksir Lo!!" celetuk Tama.


Mendengar ucapan Tama barusan membuat Lisa dan Devo bertatapan bersamaan. Pikiran mereka masing-masing mencerna apa yang Caca ceritakan tentang bos dikantornya.


Jangan-jangan Lisa dan Devo memikirkan hal yang sama, kejadian yang pernah mereka alami akan terjadi lagi pada putrinya.


"Tapi kakak nyaman kan?!" Lisa memastikan perasaan Caca.


"Sejauh ini sih masih baik-baik aja kok Bun, Mbak Anis juga baik sama aku" Caca melanjutkan ceritanya.


"Ayah ikut senang kalau Caca senang, ya kan Bun?!" ujar Devo pada Lisa.


Lisa menggangguk menyetujui ucapan suaminya.


"Trus kamu gimana Tam?! hari ini ada kegiatan apa disekolah?" sekarang giliran Tama yang mendapat pertanyaan dari Ayah.


"Biasa aja Yah, nothing special!" jawab Tama sambil mengunyah sepotong tempe goreng.


"Kamu nggak bikin nangis Kayla lagi kan?" tanya Bunda.


Kayla adalah anak dari pasangan Afi dan Wina, Kayla dan Tama hampir seumuran, mereka lahir di tahun yang sama namun hanya berbeda bulan saja.


Kayla dan Tama bersekolah di SMA yang sama, dan sejak kecil Tama suka sekali menggoda Kayla dan tak jarang Kayla dibuat menangis oleh Tama. Sifat usil Tama sejak kecil belum berubah hingga sekarang, bahkan bertambah parah. Apalagi yang diusili gadis cantik seperti Kayla.


"Hehehehe....." Tama memamerkan deretan gigi putihnya.


Devo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah polah anak-anaknya.


♥️♥️♥️


Jangan cuma baca doang guys, bolehlah ngetik sebaris dua baris komen buat othor 🙂

__ADS_1


Like nya ya genks jangan sampe kelupaan 😍


__ADS_2