Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Hilang Harapan


__ADS_3

Demi Anyelir, Reiga akan melakukan apapun. Gadis itu telah merebut hatinya, Anyelir bahkan telah membuatnya melupakan adab dan norma dalam sebuah keluarga.


Gadis itu, membuat Reiga tergila-gila hingga tak takut pada dosa.


"Aku paham ayahku hanya peduli pada uang. Mungkin jika uangnya kembali, maka Ayah bisa melepaskanmu," ujar Reiga.


"Tapi, dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu?" tanya Anyelir. Reiga pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku punya cukup banyak uang. Jangan khawatir."


"Sungguh? Kau akan meminjamkannya padaku? Aku berjanji akan segera mencari pekerjaan dan membantu ayahku melunasinya," ujar Anyelir bersemangat. Inikah jalan keluar yang bisa membebaskannya dari rumah penderitaan ini? Anyelir tampak sangat bahagia.


Reiga senang, baru kali ini ia melihat Anyelir begitu cantik dengan senyum yang merekah di bibirnya. Reiga pun meletakkan piring yang ia bawa ke atas meja. Ia meraih tangan Anyelir dan menggenggamnya dengan erat.


"Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Tapi pertama, kau harus bisa keluar dari rumah ini terlebih dahulu."


"Hmm." Anyelir mengangguk cepat.


"Besok, kau bisa mengatakan hal ini pada Ayah. Jika Ayah setuju, aku akan menyiapkan uangnya setelah pekerjaan di kebun selesai," ucap Reiga.


"Terima kasih." Anyelir memeluk Reiga. Entah keberanian dari mana, gadis itu benar-benar ingin memeluk penyelamatnya. Berkat Reiga, Anyelir bisa menjalani hari-hari buruknya dengan begitu banyak harapan.


Reiga selalu membelanya, laki-laki itu selalu berusaha keras untuk menyelamatkannya. Reiga bagaikan penyelamat bagi Anyelir, atas segala perhatian dan rasa nyaman yang Reiga berikan, Anyelir bisa perlahan bangkit dari keputusasaannya.


"Mari makan bersama, kau juga pasti belum makan," ucap Anyelir sambil mengambil alih piring di atas meja. Ia pun menyuapi Reiga.


Reiga sangat senang, ia bahagia setiap kali Anyelir tersenyum dan bebas berekspresi di hadapannya.


...****************...

__ADS_1


Pagi-pagi sekali, Anyelir sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Reiga dan Dorman. Karena Reiga sudah berjanji pada Anyelir untuk menyiapkan uang yang ia butuhkan, Reiga menyelesaikan sarapan dengan cepat dan segera meninggalkan rumah untuk pergi ke kebun teh.


"Kenapa Reiga pergi pagi-pagi sekali?" tanya Dorman.


"Mungkin ada urusan penting," jawab Anyelir. Ia mengisi piring Dorman dengan nasi dan lauk pauk, lalu menghidangkannya di hadapan laki-laki itu.


"Kau bisa makan bersamaku," ucap Dorman. Ia merasa bosan jika harus makan sendirian. Terlebih, Reiga sudah lebih dulu sarapan dan meninggalkan rumah.


"Baik." Anyelir hanya mengangguk, ia segera duduk dan mengambil makanan.


Berselang beberapa menit, Dorman telah menghabiskan isi piringnya. Anyelir pun menyudahi sarapan paginya dan membereskan piring kotor di atas meja.


"Antar aku ke taman," pinta Dorman.


"Bolehkah saya bicara sesuatu, ini penting," ucap Anyelir.


"Katakan."


Seketika, Dorman tertawa terbahak-bahak. Laki-laki paruh baya itu tertawa sangat keras hingga suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan.


Anyelir menelan ludah, ekspresi Dorman membuat harapannya menciut.


"Kau akan memberiku uang delapan puluh juta? Belum termasuk bunga dan denda yang belum terhitung?" tanya Dorman setelah ia berhenti tertawa.


"Ya, saya akan memberikannya," jawab Anyelir.


"Apa kau diam-diam menjual diri sampai bisa membayar ku sebanyak itu?" tanya Dorman. Ia kembali tertawa dengan keras.


Dada Anyelir terasa sesak, tangannya mengepal kuat. Ia ingin sekali melayangkan tamparan pada laki-laki tua yang selalu merendahkan harga dirinya. Namun Anyelir tidak punya keberanian. Ia hanya bisa diam dan menahan segala amarah yang bergemuruh di dadanya.

__ADS_1


"Kau akan menjanda setelah kematianku. Jika aku masih hidup, jangan harap kau bisa lepas dariku!" seru Dorman menegaskan.


Anyelir tidak bisa berkata-kata. Harapan yang baru saja ia peluk dalam dekapan, kini telah hancur lebur. Terinjak-injak oleh kekejaman dan keserakahan Dorman.


Sejak awal, Anyelir memang tidak memiliki pilihan. Karena ia miskin dan lemah, maka kebahagiaan hanyalah angan.


Dengan lutut lemas, Anyelir mendorong kursi roda Dorman meninggalkan ruang makan. Ia mengantar sang suami ke taman di halaman depan rumah mereka. Seperti biasa, Dorman akan menghabiskan waktu paginya dengan membaca koran dan menikmati secangkir kopi dengan nyaman.


Saat tiba di halaman depan, terdengar suara sepeda motor memasuki halaman. Anyelir menoleh, rupanya Reiga sudah kembali pulang.


"Kau sudah pulang?" tanya Dorman pada putranya.


"Ya, Ayah. Aku ada keperluan mendesak," jawab Reiga. Ia memberi isyarat pada Anyelir untuk masuk ke dalam rumah. Anyelir pun menurutinya.


Setelah berbincang dengan sang ayah beberapa saat, Reiga menyusul Anyelir ke dalam rumah. Laki-laki itu mencari keberadaan Anyelir, namun ia malah menemukan gadis itu menangis di ruang tengah.


"Ada apa? Kau sudah menanyakannya?" tanya Reiga. Ia memiliki firasat buruk, ia menghampiri Anyelir dan memeluknya.


Tanpa mendengar jawaban Anyelir, Reiga sudah bisa menebak apa yang terjadi. Ia tahu, Dorman tidak setuju.


"Kita akan cari jalan lain, jangan khawatir," ucap Reiga menenangkan. Entah dengan cara apa lagi, namun Reiga tidak akan pernah berhenti berusaha. Ia akan melakukan segala cara untuk menyelesaikan masalah ini.


Meskipun usaha yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil, namun Reiga dan Anyelir menjadi semakin dekat. Mereka diam-diam sering menghabiskan waktu bersama tanpa sepengetahuan Dorman. Terlebih, kini Dorman hanya bisa duduk di kursi roda dan tidur di kamar tamu yang letaknya di lantai bawah. Maka, Anyelir dan Reiga dengan bebas bisa melakukan apa saja di lantai atas.


Untuk meringankan pekerjaan Anyelir, Reiga mempekerjakan seorang tukang kebun untuk membereskan taman dan menyapu halaman luar. Dengan begitu, Anyelir tidak akan terlalu lelah untuk mengurus seluruh kebersihan rumah.


Namun saat tukang kebun membersihkan halaman belakang rumah, ia mendengar suara dari arah dapur. Ia mendengar Anyelir dan Reiga berbagi tawa, mereka berdua sedang asik bercanda sementara Dorman tengah bersantai di halaman depan rumah mereka.


Tukang kebun itupun tidak mengerti situasi yang terjadi. Ia curiga, bagaimana bisa seorang ibu tiri bercanda dengan santai dan asik bersama anak tirinya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2