
Sekedar inpoh ya gaaess, like dan komentar kalian disetiap episode itu akan sangat berarti buat Othor lohh!! selain buat Othor semangat menulis tapi juga untuk meningkatkan rating. Kalian mau kan kalau cerita novel ini terus eksis di beranda noveltoon, apalagi jika kalian mau merekomendasikan judul novel ini di medsos kalian, tinggal klik berbagi disamping kolom komentar. Supaya teman atau saudara bahkan tetangga kalian bisa ikutan baca. Wokeh sementara inpoh nya itu aja yaa, thank you sebelumnya 🙏
Happy Reading genks 😍
♥️♥️♥️
Setelah makan pagi yang pada akhirnya membuat kegundahan dihati Caca, apalagi setelah bunda Lisa menasehati putrinya. Sang bunda berpesan "sebuah hubungan dijalani untuk saling melengkapi, cinta dan sayang akan terukir dengan sendirinya hingga suatu saat nanti kalian tidak ingin terpisahkan"
Ditambah lagi pesan dari Oma Rena, "Nathan lah yang sudah menyelamatkan Caca dari bahaya ketika dipantai, jika saja tidak ada Nathan mereka semua tidak tahu apakah sekarang masih bisa bercengkrama bersama Caca"
Dua alasan itu saja sudah mampu membuat Caca tidak nyenyak tidur, belum lagi pesan dari ayah Devo dan Tama.
•
•
Caca pagi ini akan memberikan jawaban cinta yang dinantikan oleh Nathan. Itu sudah ia niatkan dari tadi malam, Namun niat Caca sepertinya akan kandas karena ternyata laki-laki yang ingin ditemui tidak ada di ruangan nya.
"Mbak Anis? mas Nathan kemana?" tanya Caca saat laki-laki yang menjadi bosnya dikantor ini tidak ada.
"Biasa Ca, ke proyek" jawab Anis santai sekali.
"Hooo..." Caca membulatkan mulutnya.
Hingga sore tiba namun Caca juga belum melihat kedatangan Nathan.
"mas Nathan kemana sih?" Caca bergumam dan terdengar oleh Anis yang duduk disebelahnya.
"Kenapa Ca? ada yang mau disampaikan pada pak Nathan?" tanya Anis.
"Iya mbak, ehh..nggak kok mbak!" Caca tampak gugup karena pertanyaan yang baru saja dilontarkan Anis.
Beruntung Rike dan Dini mengajak Caca mengobrol sehingga Caca dapat melupakan sejenak kegundahannya.
♥️♥️♥️
__ADS_1
Sudah satu minggu Caca menunggu Nathan kembali dari proyek, sebenarnya ada rasa tidak nyaman dihati Caca. Rasa yang membuat nya tidak bisa berhenti memikirkan laki-laki yang menginginkan dirinya untuk menjadi kekasih.
Sama halnya dengan Nathan, rasanya ia ingin sekali mendengar suara gadis idamannya.Namun banyak sekali kendala di lokasi tempat ia berada saat ini.
Nathan beberapa kali mencoba untuk menghubungi Caca namun selalu gagal. Bukan karena lokasi yang terpencil, hanya saja jaringan dilokasi tersebut sangat lemah.
Berusaha menyelesaikan pekerjaan disana dengan cepat, sampai ia rela tidur hanya 2 sampai 3 jam setiap hari.
Segala sesuatu yang dilakukan dengan perjuangan dan pengorbanan pasti akan membawa hasil, akhirnya sore ini Nathan sudah bisa kembali ke Jakarta dengan prediksi waktu lebih cepat dari rencana awal.
Hal pertama ketika ia sampai di apartemen nya adalah menghubungi Caca, ia sudah sangat rindu dengan wajah ceria calon pacarnya itu. Yang paling ia nantikan sebenarnya adalah jawaban Caca, apakah Caca akan menerimanya sebagai kekasih atau semua harapannya akan sia-sia belaka.
Derrrrtt....derrrrtt....suara nada panggilan masuk diponsel Caca, namun sang pemilik ponsel tidak menjawab panggilan tersebut, bukan karena marah atau benci pada orang yang menghubunginya, tapi karena Caca sedang makan malam bersama keluarganya dan ponselnya ia tinggalkan dikamar.
Selama Caca menghubungi Nathan dan selalu gagal, membuat Caca jarang Sekali membawa ponselnya. Ia menghindari pandangannya yang selalu mengecek notifikasi yang masuk dari Nathan dan hasilnya selalu nihil.
"Kenapa Ca? kok mukanya bete gitu sih?" bunda Lisa bertanya saat semua sedang berkumpul di meja makan, suasana agak sepi dari biasanya. Canda tawa atau perdebatan yang selalu terjadi di ruang itu tidak lagi terdengar.
"Nggak apa-apa kok Bun!" sahut Caca dengan ekspresi datar sambil mengambil lauk pauk ke atas piring makan nya.
"Tumben nak Nathan gak mampir-mampir ya Bun?" Devo sengaja bertanya pada Lisa dengan tujuan menyindir anak gadisnya.
"Kayaknya ada yang lagi patah hati deh Bun?!" sekarang Tama yang menyindir. "Lagian cowok baik, keren juga, pengusaha muda dibiarin nunggu. Pasti udah direbut cewek kece tuh!"
"Enak aja! mas Nathan lagi ngurusin proyek tauu!!" Caca mulai terpancing.
"Biasa aja dong! nggak usah nge gas gitu!" Tama masih menggoda kakaknya.
Caca mengerucutkan bibirnya, perasaannya bertambah gusar karena ucapan adiknya. Seminggu ditinggal untuk urusan pekerjaan ternyata membuat Caca kesepian, mungkin dirinya sudah merasakan hal yang sama dengan Nathan.
"Kayaknya mas Nathan nggak mungkin main kesini lagi deh Bun?" Ocehan Tama kini sudah membuat mata Caca berkaca-kaca.
"Tama! berhenti menggoda kakakmu!" bunda Lisa mencoba melerai perdebatan kedua anaknya.
"Siapa yang godain Bun?! aku kan cuma lihat dari sudut pandang cowok!" Tama membela diri.
__ADS_1
Mbak Imah pembantu rumah tangga dirumah itu datang menghampiri keluarga yang sedang menikmati makan malam tersebut.
"Maaf bu, ada tamu" ucap Imah menunjuk sang tamu yang mengekorinya dengan ibu jari.
"Assalamualaikum" ucap sang tamu memberi salam.
"Mas Nathan!" Caca terkejut mendengar suara yang ia nantikan satu minggu ini, tanpa malu dan mengindahkan keberadaan orang-orang yang ada disekelilingnya Caca langsung menghambur memeluk Nathan.
Devo dan Lisa hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah manja putrinya pada lelaki yang kini sedang berada dihadapan mereka.
Karena tidak berhasil menghubungi Caca, maka Nathan berinisiatif untuk mendatangi langsung gadis pujaannya demi membayar semua kerinduannya selama mereka berjauhan.
Caca menangis dan semakin mengeratkan kedua tangannya di pinggang Nathan.
"Lohh??! kenapa Ca?! kok nangis?!" Nathan bertanya dengan wajah bingung, ia hendak menyalami kedua orang tua Caca namun kesulitan karena Caca memeluknya sangat erat hingga membuat Nathan sulit bergerak.
"Ciee...ciee...yang kedatangan pacar?!!!" Tama belum juga berhenti menjahili kakaknya.
"Pacar siapa Tam?!" sahut Nathan. "Belum resmi Tam, belum diterima!" Nathan ikut menyindir gadis yang masih berada didalam pelukannya.
"Mas Nathan?!" Caca memanggil Nathan dengan sikap dan nada sangat manja.
"Lohh?? emang iya kan, mas kan belum dengar jawaban dari kamu?!"
Caca menjauhkan mengangkat wajahnya lalu ia mengangguk. Namun Nathan pura-pura tidak mengerti. "Iya" jawab Caca singkat.
"Iya apa?!" tanya Nathan lagi.
"Iya, aku terima mas Nathan!!" Caca menerima cinta Nathan didepan keluarganya.
Nathan dan yang lainnya tersenyum bahagia, ternyata penantian selama satu minggu tidak sia-sia.
♥️♥️♥️
Like
__ADS_1
Komen
Vote