Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
MENJAGA JOVAN


__ADS_3

"Nona Zyrra, saya pamit dulu! Ingatlah untuk memberikan obat yang sudah ku tunjukkan tadi bila Jovan mengalami demam."


Ucapan terakhir Dokter Radit selalu terngiang diingatan Zyrra. Hampir tiap jam dia terbangun dan memeriksa suhu tubuh Jovan. Wanita itu bahkan tertidur di sofa tunggal tepat di samping tubuh Jovan berbaring.


Pukul 02.15 dini hari, Zyrra sayup-sayup mendengar suara rintihan. Perlahan dia mengulurkan tangan ke atas kening Jovan. Dan benar saja, lelaki itu mengalami demam tinggi saat ini.


Berulang kali Zyrra mencoba membangunkan Jovan namun tak kunjung berhasil, ia pun berfikir bagai mana cara agar lelaki itu bisa meminum obatnya. Sekuat tenaga Zyrra mencoba mendudukkan tubuh Jovan agar memudah lelaki itu menelan obatnyapun tetap nihil.


''Aduh, nih orang nyusahin banget sih! tuh dokter lagi, bisa-bisanya dia ninggalin pasiennya di sini?! Emang dikira tempatku ini panti jompo apa?!" Dumel Zyrra yang kesal karena usahanya tak kunjung berhasil.


Teringatnya sebuah adegan di film drama Korea yang sering ditontonnya. Di dalam adegan itu, sang pasien akan mudah menelan obatnya dengan cara menyuapinya dari mulut ke mulut.


'Masa aku harus ngelakuin hal itu sih? Ia kalo berhasil, lah kalo engga? Sia-sia dong ciumanku!' Di tengah kegundahannya, Zyrra mendengar Jovan meracau akibat demam tinggi yang di alaminya.


''Ah coba aja dulu." Gumam Zyrra lalu memasukkan obat itu kedalam mulut Jovan lalu memberikan air melalui mulutnya. Tak disangka hal itu berhasil, Zyrra pun kembali mengulangi hal itu hingga obat yang terakhir.


Setelah hampir setengah jam berlalu akhirnya demam di tubuh Jovan berangsur-angsur mulai menurun, Zyrra pun bisa bernafas lega dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Baru saja wanita itu hendak berdiri, lengannya di tahan oleh Jovan. Pria itu tetap terpejam sambil bergumam


"Jangan pergi Pah, jangan tinggalkan kami."


Hati Zyrra terketuk, ia mengurungkan niatnya untuk kembali kedalam kamar dan tetap menemani Jovan di ruang tamu.


Hangatnya mentari pagi yang menerpa bumi, membuat embun-embun berkilau laksana bintang yang bertaburan di malam hari. Jovan terbangun dari tidurnya dan melihat Zyrra yang tersimpuh didekatnya. Wanita itu tertidur sambil menggenggam jemari Jovan. Mata Jovan tertuju pada meja yang berantakan,banyak bungkus obat berserakan dan mangkuk yang berisikan air di sana.


'Apakah dia menjagaku sepanjang malam?' Tanya Jovan dalam hati. Tak berapa lama Zyrra pun terbangun, Jovan kembali memejamkan matanya dan berpura-pura tertidur.


Zyrra kembali menangkupkan telapak tangannya di dahi Jovan dan tersenyum puas "Untunglah demamnya tak kembali lagi. Ah, badanku rasanya sakit semua. Tsk, Dokter itu! Awas aja kalo dia balik nanti."


Zyrra ingin bangkit dari duduknya, tapi karena dia tertidur dengan posisi duduk membuat kakinya menjadi kram. Sontak saja hal itu membuatnya langsung terjatuh tepat di atas tubuh Jovan.


"A...ah...!" Erang Jovan yang mendapati tubuh Zyrra berada di atasnya. "Apakah kau tidak bisa berhati-hati saat melangkah? Kau ingin membunuhku?"


"Ma...maaf aku tidak sengaja. Kakiku tiba-tiba kram." Zyrra buru-buru bangkit dan membenahi duduknya.

__ADS_1


Jovan mengusap dadanya dan melihat ke arah Zyrra yang memijit betisnya. Rasa kasihan menyelimuti perasaannya kala mengingat hal itu terjadi karena wanita itu menjaganya semalaman.


"Aku lapar, buatkan sesuatu."


Dengan terpaksa Zyrra bangkit menuju dapur, di sana dia membuat sarapan yang menjadi faforitnya yaitu nasi goreng. Saat makanan sudah siap, ia kemudian membawa ke meja makan lalu menemui Jovan di ruang tamu.


"Sudah." Usai berkata itu dia ingin kembali kedapur tapi segera dicegah Jovan. "Hei! Bantu aku tidak kah kau lihat aku sedang sakit?"


'Ah yang benar saja? Perasaan yang tertembak tangannya, lalu apa hubungannya dengan kaki sampai tidak bisa bangun?' Gumam Zyrra dalam hati, tapi tetap saja membantu Jovan menuju dapur.


Pagi ini mereka menghabiskan sarapan bersama, Jovan nampak lahap memakan nasi goreng buatan Zyrra. Bel di pintu berbunyi, Zyrra pun bangkit meninggalkan sarapannya untuk melihat siapakah tamu yang datang sepagi ini. Saat pintu terbuka, munculah Dokter yang menangani luka Jovan tadi malam. Dengan senyum ramahnya Dokter itu menyapa Zyrra.


"Selamat pagi Nona Zyrra, bagaimana kondisi Tuan Jovan? Apakah dia mengalami demam semalam?"


Tuk!!!


"Auch!" Rintih Dokter itu sambil memegangi keningnya yang tersa berdenyut akibat jitakan dari Zyrra. Tanpa rasa berdosa atau pun iba melihat Dokter muda itu meringis menahan sakit di kepalanya, Zyrra malah makin menatap horor ke padanya.


"Bawa dia pulang! Aku mau tidur." Itulah kata yang diucapkan Zyrra sebelum memasuki kamarnya dan meninggalkan dua orang lelaki di ruang tamu.


"Aish, calon bini lo bener-bener ya? Gak ada angin gak ada ujan kepala gue di jitak loh!" Dumel Radit mengadukan perbuatan Zyrra pada Jovan.


"Kau pantas mendapatkannya! Bagaimana bisa kau menyerahkan pasienmu pada orang lain? Apakah gajih yang diberikan oleh keluarga Argantara itu kurang bagimu?" Alih-alih merasa prihatin dengan apa yang dialami oleh sahabatnya, Jovan malah ikutan memarahi Radit.


"Bukan begitu, tapi tadi malam aku harus melakukan oprasi di Rumah Sakit dan tidak bisa ditinggalkan." Radit mencoba memberi penjelasan.


Seharian Zyrra benar-benar tertidur di atas ranjang empuknya. Semalaman terjaga dan harus mengawasi Jovan yang sedang demam, membuatnya tidak bisa mengistirahatkan matanya. Alhasil ia mengganti tidur malamnya dengan tidur siang. Hingga sebuah bunyi bel mengganggu istirahat tenangnya.


Perlahan Zyrra menuruni ranjang dan menuju pintu. Dengan mata yang masih terpejam Zyrra membuka pintu. Seorang pria yang mengenakan pakaian formal membungkuk di hadapannya.


"Selamat sore Nona Zyrra, ini ada hadiah dari Tuan Jovan, sebagai ucapan terimakasihnya." Ucap lelaki itu dan memberikan sebuah kotak berwarna merah pada Zyrra.


Zyrra mengambil kotak itu kemudian kembali menutup pintu tanpa ucapan terimakasih sedikitpun. Meninggalkan lelaki tadi yang masih berdiri mematung di tempatnya.

__ADS_1


'Astaga! Aku rasa dia benar-benar berjodoh dengan Tuan Jovan. Bahkan sifatnya jauh lebih dingin ketimbang Tuan Jovan sendiri' Batin asisten pribadi Jovan dan kembali ke Perusahaan.


Zyrra memandangi kotak pemberian asisten Jovan tadi dengan bingung. 'Emh ternyata dia tau terima kasih juga, not bad' Batin Zyrra lalu membuka kotak itu perlahan.


Rupanya isi dari kotak tadi adalah sebuah ponsel, kartu ATM dan kunci mobil. Hanya dua benda yang diambilnya dan sisanya hanya di letakkan di atas meja begitu saja.


Zyrra mendudukan bokongnya di atas sofa empuk dan mulai mengaktifkan ponsel pemberian dari Jovan. Wanita itu kemudian mencoba menghubungi sepupunya Bobi yang sudah lama tidak ia kabari. Suara seseorang yang tidak asing pun terdengar, dengan gembira Zyrra mulai berbicara dengan sepupunya Bobi.


"Lo kemana aja? Gue kira udah mampus ditelan paus lo."


"Enak aja, emang aku pinokio?"


"Lo tau, gue sama Dea udah hampir gila gara-gara nyariin lo diseluruh kota. Gue bahkan sampe datangin si baj*ng*n Pitto, cuman buat nanyain keberadaan lo."


"Ia, sory...aku baik-baik aja sekarang, kalian apa kabar?" Merekapun melanjutkan obrolan hingga malam hari. Mulai dari membicarakan masalah bisnis, perusahaan hingga masalah pribadi yang dialami sepupunya Bobi dan sahabatnya Dea.


Zyrra benar-benar merasa lega karena sudah dapat kembali berkomunikasi dengan orang-orang terpenting di hidupnya saat ini. Namun, wanita itu belum menceritakan maslah perjanjian kawinnya dengan Jovando Argantara. Dia tidak ingin memberitahukan hal itu untuk sementara waktu.


BERSAMBUNG....


**Yow reader's...udah sampai ke bab 8 nih...


Makasih ya, untuk kesetiaan kalian baca karya aku...


jangan lupa kunjungi novelku yang lainnya ya...


Judulnya **WHAT'S WRONG WITH MY BOS?,ISTRI MASA DEPANKU DAN TARUHAN BERHADIAH CINTA.


Dijamin ga kalahseru deh


Juga jangan lupa like,favorit dan komentarnyanya...


see you guys...😙😙**

__ADS_1


__ADS_2