Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
KULIT BERTEMU KULIT


__ADS_3

"Zyrra alergi dingin, sedangkan kami harus pergi ke kota S untuk peninjauan proyek baru di sana."


"Kalau begitu kenapa tidak kau biarkan saja dia tinggal di rumah? Hujan ini sepertinya akan berlangsung lama, itu tidak baik untuknya." Ucap Tuan Bima memberi saran.


Ucapan Tuan Bima memanglah benar, tapi Jovan ingin Zyrra menemaninya di sana. Jadi dia mencari alasan agar Zyrra tetap ikut dengannya ke proyek itu.


"Em, tidak bisa Kek. Karena Zyrra adalah pemegang proyek itu."


Zyrra yang merasa ucapan Jovan berbanding terbalik dengan kenyataan menatap bingung pada pria di sampingnya itu. Tapi Jovan segera memberikan kode pada Zyrra dengan memberikan kedipan mata. Zyrra menyadari kode dari Jovan lalu mulai berakting.


"Ia Kek, Zyrra adalah penanggung jawab proyek itu jadi Zyrra harus ikut dengan Jovan. Lagi pula Zyrra sudah mengenakan jaket yang cukup tebal. Jadi, Zyrra akan tetap hangat walau berada di luaran."


Mendengar jawaban dari Zyrra Tuan Bima akhirnya hanya bisa menggedikkan bahu dan melanjutkan sarapannya.


Saat di dalam mobil, Zyrra mulai menanyakan alasan kebohongan di meja makan tadi pada Jovan.


"Kenapa aku harus ikut denganmu?"


"Bukankah sudah ku katakan kalau kamu adalah pemegang proyek ini?"


"Tapi sejak kapan?" Tanya Zyrra yang masih bingung akan perkataan pria di sampingnya itu.


"Mulai hari ini, hingga proyek itu selesai."


"Kamu tidak bisa memutuskan itu secara sepihak, ini semua harus melalui rapat dan persetujuan dari pemegang proyek terdahulu."


"Siapa CEOnya di sini? Aku atau mereka?"


'Ih, bawa-bawa pangkat lagi. Ya, jelas kamu lah...! Kalo aja aku yang jadi CEO Argantara Grup, udah aku depan orang kaya kamu ini' batin Zyrra bergumam. Gadis itu hnya bisa terdiam sampai akhirnya mereka tiba di kota S.


Tempat proyek itu terlihat sangat sepi, mungkin karena hujan yang turun dengan lebat hingga membuat para pekerja di sana mencari tempat untuk berteduh.


Tapi yang tidak kedua orang itu ketahui adalah, mereka sedang dalam bahaya saat ini. Sebab ada beberapa orang pereman yang tengah menunggu kedatangan mereka di dalam bangunan itu.


Jovan lebih dulu turun dari mobilnya dan di susul oleh Zyrra. Mereka kemudian berlari ke dalam gedung yang belum jadi itu.

__ADS_1


Keduanya mulai melihat-lihat kondisi bangunan tersebut dan terus melangkahkan kaki kedalam gedung. Saat posisi mereka berada tepat di ruangan paling tengah gedung, beberapa orang pria muncul dengan senjata di tangan mereka.


Masing-masing orang itu ada yang memegang sebuah besi panjang, rantai, balok kayu bahkan ada yang membawa golok.


Jovan dan Zyrra kini terdesak, keduanya mencoba melakukan perlawanan sekuat tenaga. Beruntungnya Zyrra menguasai sedikit ilmu bela diri, jadi bisa membantu Jovan walaupun tidak seberapa.


"Hubungi Jonan dan minta dia untuk mengirimkan orangnya kemari."


Zyrra mengangguk dan mengambil ponsel di dalam sakunya. Ia berhasil menghubungi Jonan dan meminta pria itu untuk segera membantu mereka.


"Jonan! Kami di serang oleh puluhan preman. Segera kirimkan bantuan kemari! Kami sangat terdesak saat ini!"


"Ok! Aku akan segera mengirimkan anak buah untuk membantu kalian di sana."


Panggilan di akhiri, Zyrra kembali membantu Jovan yang terlihat sudah terluka di punggung bagian belakangnya.


Jovan menarik Zyrra menuju jalan lain dan mencari tempat untuk mereka bersembunyi. Darah segar terlihat mengalir dari punggung Jovan yang terluka dan menetes di sepanjang lantai.


Zyrra kemudian melepaskan jaket yang di kenakannya, ia juga melepaskan kemeja yang di kenakannya. Hal itu dilakukan Zyrra tepat di depan Jovan.


Zyrra juga melilitkan kemejanya pada luka di punggung Jovan. Setelah selesai, ia langsung mengenakan jaketnya dan kembali berlari bersama Jovan.


Hingga mereka menemukan sebuah jalan yang menuju sebuah hutan. Kedua orang itu terus berlari menjauhi gedung tersebut.


Saat merasa sudah cukup jauh dan tidak lagi di ikuti oleh preman-preman tadi, Zyrra dan Jovan beristirahat di bawah pohon besar.


Keringat dingin nampak membasahi wajah Jovan, pria itu mendapatkan luka yang cukup dalam dan harus terus berlari. Tentu saja itu bukanlah hal yang mudah untuk di lakukan.


Zyrra ibgin mencoba kembali menghubungi Jonan, tapi ponselnya tidak ada lagi di dalam saku jaketnya. Mungkin ponsel itu terjatuh saat dia melepaskan jaketnya di dalam gedung tadi untuk membantu menghentikan pendarahan di punggung Jovan.


"Sial! Ponselku hilang, kita tidak bisa memberitahukan posisi kita pada Jonan sekarang."


Jovan tidak memperdulikan ucapan Zyrra, ia hanya terus berusaha untuk mengatur nafasnya.


Hujan makin deras, Zyrra memapah Jovan untuk terus berjalan dan mencari bantuan dari warga sekitar. Untungnya tak jauh dari hutan itu, ada sebuah gubuk yang sudah di tinggalkan oleh pemiliknya.

__ADS_1


Mungkin tempat itu dulunya adalah tempat tinggal seseorang. Terlihat dari beberapa perabotan yang tertinggal di tempat itu.


Zyrra kemudian membaringkan Jovan ke atas tempat tidur. Ia juga membersihkan luka di punggung Jovan dengan air bersih. Untuk sementara mereka harus bersembunyi di tempat itu hingga kondisi Jovan sudah lebih baik.


Zyrra juga mulai mengistirahatkan tubuhnya yang juga mendapatkan beberapa luka. Sayup-sayup di dengarnya suara rintihan dari Jovan. Pria itu sepertinya mengalami demam tinggi seperti waktu dulu.


Tapi bedanya saat ini tidak ada obat ataupun Dokter yang bisa membantunya meredakan demam di tubuh Jovan. Jadi Zyrra hanya bisa mengandalkan kompres untuk menurunkan panas di tubuh pria itu.


Jovan bahkan sampai menggigil akibat rasa dingin yang menyergapnya. Kemeja yang di kenakannya sudah basah kuyup dan di tempat itu tidak ada baju ganti.


Akhirnya Zyrra melepaskan jaket yang di kenakannya dan ingin memakaikan itu pada Jovan, namun segera di cegah oleh pria itu.


"Khau, alerghi phada dhinghin. Jhangan lephaskan!"


"Aku tidak mungkin membiarkanmu mati kedinginan. Aku tidak ingin di salahkan Kakek bila kamu mati di sini."


Jovan tetap menggeleng, ia tau bola Zyrra melepaskan jaketnya maka wanita itulah yang akan mati saat ini.


Zyrra akhirnya memiliki sebuah ide agar mereka tetap hangat. Ia membuka kemeja milik Jovan dan kemudian menyingkirkannya.


Walaupun ide itu terkesan memalukan untuknya, tapi mereka tidak memiliki pilihan lain.


Jovan berdehem dan memalingkan wajahnya ke arah lain saat melihat Zyrra membuka resleting jaket yang dikenakannya.


"A..apa yang khau lakhukhan?"


Zyrra tidak menjawab pertanyaan dari Jovan dan malah mendekap pria itu. Mempertemukan kulit mereka hingga menciptakan rasa hangat di antara keduanya.


"Diamlah, dan jangan berpikir yang macam-macam. Kita harus memulihkan tenaga sebelum kembali mencari bantuan pada warga sekitar sini."


BERSAMBUNG...


***jangan lupa untuk selalu like dan favoritkan ya...😄


kalau bisa kasih vote nya juga😆😆***

__ADS_1


__ADS_2