
Tok...tok
"Layanan kamar!" Ucap seseorang yang mengetuk pintu. Zyrra kemudian membuka pintu dan mengambil pesanan makanan dari pelayan hotel. Membawanya menuju sofa yang ditempatinya semalam lalu menyantapnya dengan tenang.
Usai menyantap sarapan paginya Zyrra ingin membersihkan diri namun, diurungkannya saat mendengar suara ketukan di pintu. Zyrra kembali membuka pintu namun yang didapatinya saat ini adalah orang tang berbeda.
Disana telah berdiri Tuan Bima dan seorang Pengacara yang di kenalnya. Pengacara itu adalah Pengacara yang sama saat dirinya dan Jovan melakukan perjanjian kontrak dulu. Zyrra sebenarnya sangat terkejut akan kedatangan Tuan Bima di kamar hotelnya namun, ia berhasil menutupi keterkejutannya dengan senyum manis dan menyambut kedatangan Tuan Bima.
"Kakek? Ayo masuk Kek, ada apa Kakek sampai harus kemari sepagi ini?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari Zyrra Tuan Bima melangkahkan kakinya ke dalam kamar dan duduk di atas sofa. Pengacara yang mengekori Tuan Bima mempersilahkan Zyrra untuk duduk terlebih dahulu.
Mendapati sifat dingin Tuan Bima saat ini, membuat perasaan Zyrra jadi makin tidak enak. Perlahan ia mendudukan bokongnya di atas ranjang yang ditempati Jovan semalam, dan menyiapkan hatinya untuk menghadapi kemungkinan buruk yang akan terjadi.
"Nona Zyrra Azasya, lahir pada 20 januari 1998. Mantan pemilik ZYRRA Parfume Collection. Pernah menjalin hubungan dengan Pitto Edward, dan ditipu olehnya. Mengakibatkan Pabrik parfum yang kau bangun dari usia sembilan belas tahun kini berpindah tangan."
Degh..!
Jantung Zyrra berdegup kencang kala mendengar penuturan demi penuturan dari Pengacara Tuan Bima. Ia tidak menyangka bila Tuan Bima akan mampu menemukan masa lalunya.
"Maaf, bisa jelaskan ada apa ini? Saya rasa, mengungkit masa lalu tentang saya, bukanlah suatu hal yang menjadi satu-satunya alasan kalian, untuk berkunjung sepagi ini."
"Kau benar! Aku bisa membantumu untuk kembali mendapatkan pabrik milikmu, yang berada di tangan mantan kekasihmu dulu. Bahkan aku bisa membantu memperbesar pabrik itu dengan syarat, kau juga harus membantuku."
"Apakah itu?" Zyrra tak langsung menyetujui permintaan Tuan Bima, walaupun hal yang di tawarkan oleh Kakek tua itu sangat menggiurkan. Zyrra ingin mendengar syarat apa yang di ajukan oleh Tuan Bima.
"Aku ingin kamu membuat Jovan berpaling dari kekasihnya."
__ADS_1
"Maaf, tapi apakah alasanku melakukan hal itu? Selain untuk mendapatkan keuntungan yang ditawarkan oleh Anda barusan. Aku hanya tidak ingin menjadi orang ketiga tanpa alasan yang kuat."
Tuan Bima sedikit tersenyum mendengar ucapan Zyrra. Di dalam hatinya, ia mengagumi pribadi wanita ini yang tidak tergesa gesa dalam mengambil keputusan. Tuan Bima kemudian memberikan kode pada pengacaranya untuk memberikan sebuah map pada Zyrra.
Dalam map itu tertulis mengenai data yang berkaitan dengan Bella Vandof. Zyrra membaca setiap keterangan yang tertera di map itu.
"Apakah Kakek tidak pernah mencoba untuk memberikan kesempatan untuk mereka?" Tanya Zyrra yang masih ragu dengan apa yang harus diambilnya.
"Tentu saja pernah, kau fikir aku orang tua kolot yang selalu terikat dengan masalalu begitu? Dia sendiri yang menghancurkan kesempatan itu dengan melhirkan anak dari pria lain."
"Apakah Kakek yakin, bila itu bukanlah anaknya bersama Jovan?"
"Bila memang itu anaknya bersama Jovan, lalu mengapa dia tidak mengatakan kehamilannya pada Jovan? Bahkan justru memilih untuk melarikan diri dan melahirkan di luar negri."
Zyrra nampak sedikit berfikir, apa yang diucapkan oleh Tuan Bima memang benar. Tapi apakah merusak hubungan orang itu juga benar? Lalu apa bedanya dia dan wanita yang bersama Pitto?
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu, biar semuanya Kakek yang atur. Kau hanya tinggal melaporkan apapun yang bersangkutan mengenai Jovan dan kekasihnya. Setelah itu ikuti semua permainan yang akan kakek buat." Tutur Tuan Bima menjelaskan.
Akhirnya, setelah menimbang resiko dan keuntungan yang akan didapatkannya, Zyrra bersedia membantu Tuan Bima untuk menjauhkan Jovan dari Kekasihnya. Tak apa menjadi kejam, karena hanya orang kejamlah yang akan bertahan didunia ini. Dia pernah menjadi orang baik, bahkan bisa dikatakan sangat baik, namun akhirnya? Dia malah jatuh hingga ketempat yang paling rendah.
Usai menandatangani kontrak, Tuan Bima dan Pengacaranya meninggalkan Zyrra di hotel. Sore ini mereka akan kembali ke kediaman Argantara dan berpura-pura tidak ada yang terjadi.
Dan benar saja, saat keduanya tiba di kediaman Argantara Tuan Bima menyambut kedatangan Zyrra dengan ramah seperti biasanya. Mereka berekting seakan itu adalah suatu ketulusan dari masing-masing pihak. Padahal, itu semua tak lain sekedar topeng pelengkap sandiwara.
"Kamu tidak perlu lagi tidur di sofa, aku tidak akan melakukan apapun padamu." Ucap Jovan pada Zyrra.
Tidak ada tanggapan dari Wanita itu, Zyrra terus memasukan pakaiannya ke dalam lemari. Melihat tidak ada tanggapan dari Zyrra, Jovan melangkah menuju balkon. Ia mengambil laptop dan menikmati secangkir kopinya di atas balkon.
__ADS_1
Zyrra tiba-tiba menghampiri Jovan di teras balkon dan duduk di pangkuan pria itu. Jovan yang terkejut akan tindakan tiba-tiba dari Zyrra. Zyrra mendekatkan wajah pada wajah Jovan kemudian berbisik halus.
"Beraktinglah, dibawah ada Kakek dan Om Hans yang melihat kemari."
Jovan sedikit melongokan kepalanya kesisi kanan Zyrra, untuk dapat melihat keberadaan Tuan Bima dan Omnya. Rupanya benar, saat ini kedua orang dibawah tengah menatap ke arah mereka. Senyuman dari wajah keriput Tuan Bima pun dapat Jovan lihat dari tempatnya kini. Senyum yang sudah bertahun-tahun lamanya lenyap dari wajah tua sang Kakek.
Sebenarnya Tuan Bima amatlah menyayangi kedua Cucunya, terutama Jovan. Bagi Tuan Bima, Jovan adalah kebanggaan keluarga. Sifat dan cara berfikir yang dimilikinya, sama persis seperti almarhum sang Papah.
Namun sayang, Beberapa tahun belakangan sifat hangat Tuan Bima tak lagi dirasa oleh Jovan. Hal itu disebabkan karena ia menjalin kasih dengan keturunan keluarga Vandof. Tuan Bima, tidak pernah memandang kasta atau pun membatasi pergaulan kedua Cucunya. Mereka bebas untuk menentukan dengan siapapun mereka ingin bergaul, ataupun menjalin kasih, tapi tidak dengan keluarga Vandof.
Kebencian yang sudah tertanam semenjak awal Tuan Bima meniti karir, hingga kini mereka telah sama-sama memiliki kekuasaan yang cukup besar tidak dapat dihapuskan begitu saja. Kesalahan yang keluarga Vandof perbuat di masa lalu, tidak akan pernah terhapuskan dari ingatan Tuan Bima Argantara.
Dulu almarhum Tuan Johan memiliki seorang Adik perempuan yang amat manis. Ia bernama Jesyca Argantara, usianya baru menginjak delapan belas tahun saat peristiwa itu terjadi. Peristiwa di mana keluarga Vandof dengan kepicikannya menculik Jesyca dan menyekapnya dalam sebuah gudang tua. Keluarga Vandof mengancam, bila krluarga Argantara tidak menyerahkan Proyek yang bernilai triliunan pada keluarga Vandof maka, mereka akan melenyapkan Jesyca.
Hal itu membuahkan hasil, keluarga Argantara terpaksa melepaskan proyek tersebut dan memberikannya pada keluarga Vandof. Namun, hal tidak terduga terjadi, gudang tempat Jesyca disekap terbakar habis. Belum diketahui hingga kini siapa penyebab kebakaran ini. Namun, semenjak kejadian itu, krluarga Argantara selalu menyalahkan keluarga Vandof atas hal tersebut.
Walaupun keluarga Vandof sudah meminta maaf berulang kali, dan meninggalkan kota A saat ini tapi tetap saja, hal yang mereka lakukan dulu tidak dapat dimaafkan oleh seorang Bima Argantara hingga kini.
"Memang harus sampai begini?" Tanya Jovan yang merasa gugup akan posisi Zyrra yang berada di pangkuannya. Kedua lengan Zyrra juga bertengger di atas tengkuknya, membuat dua gundukan kenyal di bagian depan menempel sempurna di dada Jovan.
Sebagai lelaki normal, tentu saja ia akan memiliki hasrat tertentu. Melihat seorang wanita berparas cantik, dengan bentuk tubuh yang memang sangat menggoda, tengah duduk dipangkuannya. Sekuat tenaga Jovan menahan hasrat itu namun, entah mengapa tubuh bagian bawahnya benar-benar tidak bisa di kendalikan.
"Bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk terlihat mesra di depan anggota keluargamu? Jangan hawatir ini hanya sandiwara, aku tidak akan melakukan ini semua bila tidak terpaksa." Ucap Zyrra santai, lalu bangkit dan meninggalkan Jovan yang masih mematung di hadapannya.
BERSAMBUNG...
***Jangan lupa like dan favoritnya ya...😙😙😙
__ADS_1
Kalau bisa kasih vote juga ya...😉***