
Jovan tiba di perusahaan dan tidak sengaja mendengar desas-desus buruk mengenai istrinya dari beberapa karyawan pria di perusahaannya saat mereka berada di dalam lift.
"Eh, aku dengar-dengar Manajer Zyrra sekarang lagi hamil. Dan kamu tau siapa Bapak dari bayi yang di kandungnya?" Tanya salah seorang dari beberapa karyawan itu pada temannya dan tidak menyadari keberadaan Jovan di belakang mereka.
"Siapa, siapa?" Tanya slah seorang karyawan lain yang penasaran.
"Si Putu busuk yang kelainan itu!"
"What? Gak mungkinlah Manajer Zyrra mau sama orang kaya gitu! Secarakan dia cantik, seksi dan smart, kamu ngaco ah!"
"Eh serius... bukannya dulu mereka kabarnya pernah pacaran?"
"Eh ia ya? Kalo gitu, sama si Putu yang kelainan itu aja dia mau apalagi kaya kita ini dong?"
Jovan tak lagi mampu menahan emosi dalam hatinya mendengar ocehan kedua karyawan laki-laki di hadapannya itu.
"Cukup! Bila ada yang menggosipkan hal-hal buruk tentang Manajer Zyrra lagi di perusahaan ini, akan langsung saya pecat!" Ancam Jovan seraya menatap tajam ke arah para karyawan itu.
Para karyawan yang baru sadar akan kehadiran Jovan di belakang mereka pun langsung terdiam. Untungnya pintu lift sudah terbuka, jadi mereka bisa langsung meninggalkan Jovan yang terlihat begitu murka pada mereka saat ini.
Saat pintu lift kembali tertutup, Jovan dan asistennya Denis hanya tinggal berdua saja dalam lift.
"Enak aja anakku mereka bilang anak baj*ngan itu! Dia bahkan tidak pantas untuk menyentuh istriku, apalagi mengandung anaknya." Gerutu Jovan dengan kesal setengah mati.
Sementara Denis hanya bisa menggeleng geli melihat tingkah konyol atasannya itu. Ya, walaupun itu memang wajar, lelaki manapun juga pasti akan marah bila istrinya di gosipkan hamil dengan laki-laki lain.
Tapi entah mengapa bila Jovan yang melakukan hal itu seperti sangat konyol di mata Denis. Sebab, selama dia bekerja beramal dengan Jovan, baru kali ini dia melihat Jovan yang tidak bisa mengontrol emosinya. Bahkan saat masih bersama Bella dulu ada banyak gosip yang lebih buruk dari ini, dia tidak pernah angkat bicara sedikitpun.
__ADS_1
Pintu lift kembali terbuka, Jovan dan Denis melangkah menuju ruang pertemuan. Dia akan menjumpai seorang utusan dari perusahaan asing yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
Jovan menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum ia membuka pintu itu. Ia harus menormalkan pikirannya terlebih dahulu agar dapat berkonsentrasi saat membahas masalah kerjasama nanti. Setelah merasa cukup tenang, Jovan membuka pintu dan melangkah masuk.
"Xiàwû hăwén xiăujié"
{Selamat siang Nona Wen.}
Wanita muda yang bernama Wen itupun menoleh saat mendengar suara baritone milik Jovan. Ia begitu terpana akan ketampanan yang dimiliki oleh pria di hadapannya itu.
"Ó, xiàwû hăo, Jovan xīanshēng, hěn gāoxìng rènshí nî. Jīngcháng tīng shuõ Jovan xīanshēng jīngtõng gè zhông wàiyü, xiànzài xiāngxìnle."
{O, selamat siang Tuan Jovan, bertemu dengan Anda. Saya sering mendengar bila Tuan Jovan memiliki kemampuan dalam berbagai bahasa asing, kini saya percaya itu.}
"Xièxiè nî de kuājiăng."
( Prof Author: Sory kalo salah dalam penulisan mandarinnya, tombol keyboard aku kurang lengkap soalnya...🙇🙇)
Meeting itu pun berlangsung cukup lama, asisten Nona Wen terus memberikan presentasi di depan dan Jovan terus menyimak sambil sesekali menanyakan beberapa pertanyaan. Sedangkan Nona Wen sendiri malah sibuk memandangi ketampanan Jovan secara langsung. Hal itu tentu saja di sadari oleh Jovan, dan membuatnya sedikit risih. Namun, ia tetap berpura-pura tidak tau dan terus menyimak penuturan asisten Nona Wen.
Hingga rapat pun berakhir, kedua perusahaan besar itu sepakat untuk melakukan kerja sama. Nona Wen bangkit dan menyalami Jovan.
"Zhùhè nín de hézuò Jovan xiānshēng. Nï jīn wăn yõu shíjiān ma? Wõ xiăng hé nï biān chīfàn biān tán shēngyì. Ucap Nona Wen dengan nada menggoda.
{Selamat atas kerjasamanya Tuan' Jovan. Apakah malam ini Anda ada waktu? Saya ingin membicarakan masalah bisnis dengan Anda sembari makan malam.}
"Bàoqiān wö jīn wăn yïjīng yöu yuēhueìle. Yěxü xià cì." Tolak Jovan dengan halus. Sebenarnya ia tidak memiliki janji dengan siapapun, hsnya saja Jovan metasa enggan bila harus berurusan dengan wanita yang bernama Wen itu.
__ADS_1
{Maaf, tapi saya sudah memiliki janji temu. Mungkin bisa lain waktu.}
"Häo de! Wö zài děng yuē wén xiānshēng de yāoxïng." Ucap Nona Wen dengan wajah berharapnya.
{Baiklah! Saya tunggu undangan Tuan Jovan.}
Tak ada jawaban lagi yang keluar dari mulut Jovan, ia hanya tersenyum simpul sebagai tanggapan. Nona Wen dan asistennya pun pergi meninggalkan ruang meeting itu. Sepeninggalan kedua orang asing itu, Denis mendekati Jovan dan mulai berbisik.
"Tuan, tidak kah kau melihat tatapannya yang seperti ingin menelanmu hidup-hidup?"
"Tentu saja, menurutmu mengapa aku menolak ajakan makan malamnya? Andai saja perusahan keluarga Wen itu tidak memiliki pegawai seperti Tuan Guo, aku mana mungkin mau bekerja sama dengan mereka."
Denis mengangguk paham akan maksud ucapan Jovan. Jangankan Jovan yang memang sudah beristri, ia yang masih perjaka saja merasa geli saat melihat tatapan dari wanita asing tadi.
Karena waktu sudah menjelang sore, Jovan memutuskan kembalin ke kediaman Argantara dan menemui Zyrra untuk memberitahukan keadaan Joiner yang telah siuman. Jovan yakin Zyrra akan sangat bahagia mendengar kabar ini.
Dengan senyum lebar di wajahnya, Jovan bergegas melakukan mobilnya di jalan, agar dapat lekas sampai. Walaupun Zyrra masih bersikap dingin kepadanya, tapi entah mengapa ia justru makin lengket dengan wanita itu. Apalagi setelah mengetahui Zyrra tengah mengandung anak mereka, rasa cinta salam hati Jovan pun makin membesar seiring bertambahnya usia pernikahan mereka. Andai saja bisa, ngin sekali Jovan mengantungi Zyrra dan membawa wanita itu kemanapun agar ia tak perlu lagi menahan rindu.
Hingga mobil pun tiba, dan Jovan bergegas mencari keberadaan Zyrra di kamar mereka. Ia menyisiri setiap sudut ruangan namun tidak menemukan wanita itu.
"Zyrra!! Sayang, kamu dimana?"
Baru saja Jovan ingin pergi ke dapur, wanita itu telah lebih dulu kelurahan dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.
Bulir bening yang menetes dari ujung rambut wanita itu, menambah kesan seksi pada diri Zyrra. Jovan bahkan sampai menelan ludahnya kasar. Matanya rak mampu berkedip memandang wajah Zyrra yang nampak makin cantik di matanya. Bahkan otaknya serasa beku, Jovan tidak ingat lagi dengan tujuan awalnya mencari istrinya itu. Hanya naluri kejantanannya lah yang terus menuntunnya untuk mendekati wanita itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, komen dan Votnya ya...