Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
PECAHAN MEMORY


__ADS_3

Setelah reaksi obat bius dalam tubuh Zyrra mulai hilang, wanita cantik itu akhirnya membuka mata. Dia mendapati sang suami dan Ayahnya yang sedang duduk berbincang. Hati Zyrra merasa lega, karena kedua orang itu tidak jadi saling bertikai karena merebutkan dirinya. Jovan yang melihat istrinya sadar kemudian mendekat.


"Ada yang sakit?" Tanya Jovan sembari memegang tangan Zyrra. Wanita itu menggeleng lemah, dengan suara parau Zyrra balik bertanya "Gimana bayinya?"


"Dia sehat, putri kita adalah anak yang kuat."


"Maaf karena sudah membuatmu seperti ini. Papa hanya belum bisa kembali jauh darimu."


Meski Zyrra sempat menaruh curiga kepada Robin, tetapi dia tidak pernah membenci Ayahnya itu. Bahkan Zyrra seperti merasakan bila semua yang Robin lakukan kepadanya itu benar-benar tulus.


"Papa, bolehkah aku pergi dengan Jovan?"


Permintaan langsung Zyrra kali ini membuat Robin tidak dapat menolaknya. Robin pun sadar, bilas kebahagiaan putrinya itu bukanlah saat bersama dengannya, melainkan bersama sang suami. Walau pun Zyrra kehilangan seluruh ingatannya, tetapi Robin dapat merasakan ikatan cinta yang kuat di antara mereka. Dengan berat hati, Robin tersenyum dan memberi anggukan atas permintaan Zyrra.


Semua akhirnya berakhir bahagia, Jovan sudah bisa bersama dengan Zyrra dengan tenang, sebab telah mengantongi izin dari Ayah mertuanya. Hanya tinggal satu janji yang harus Jovan tepati, yaitu membantu Robin untuk menghancurkan musuh besar mereka. Kenapa hari mereka? Karana Dearn sudah berani membuat Jovan terpisah dari Zyrra selama beberapa waktu. Bahkan karena perbuatan pria itu, Jovan hampir saja kehilangan Zyrra untuk selamanya, andai saja Robin tak datang tepat waktu untuk menyelamatkan Zyrra. Itulah yang membuat Jovan sangat ingin ikut ambil bagian demi menghancurkan Dearn hingga tak bersisa.*


Setelah beberapa hari mendapatkan perawatan di rumah sakit, akhirnya Zyrra sudah di perbolehkan pulang. Tuan Bima, Jovan dan Robin mempersiapkan pengawalan yang ketat untuk berjaga-jaga. Mereka tidak ingin kejadian penyerangan yang mencelakai Zyrra tempo hari kembali terulang. Dan untunglah semuanya berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun.

__ADS_1


Setibanya di kediaman Argantara yang berada di Italia, Jovan membawa langsung Zyrra menuju kamar mereka. Ia tidak ingin jika sampai Zyrra mendengar pembicaraannya dan Robin mengenai Dearn yang akan mereka hancurkan. Tahap demi tahap sudah Jovan lakukan, Dearn kini telah terpojok sebab secara bersamaan Robin juga selalu mengacaukan usaha ilegalnya. Kini, mereka hanya tinggal menunggu detik-detik kehancuran Dearn.


"Aku sudah mencari tau semua kasino dan diskotik yang dimiliki oleh Dearn. Hanya tersisa dua titik saja yang belum dapat ku sentuh sebab itu tidak beratasnamakan dirinya."


"Biar aku yang mengurus dua tempat itu, kau hanya tinggal mengatakan lokasinya." Ucap Tuan Bima, yang ikut dalam pembicaraan itu.


Di dalam kamar, Zyrra belum bisa tidur, dia tengah duduk di dekat jendela sembari mengelus perut buncitnya. Dari jendela itu, Zyrra dapat melihat pemandangan kota Italia yang begitu indah. Selama berada di kota ini, Zyrra selalu memperhatikan sikap yang Jovan berikan untuknya. Perhatian, kasih sayang dan juga kesigapan dari laki-laki itu membuat Zyrra semakin penasaran akan masa lalunya dulu.


"Mungkinkah aku dan dia benar-benar saling mencintai? Dan bila ia, bagaimana ya awal pertemuanku sama dia?" Gumam Zyrra sambil terus mengusapi perutnya. Karena asyik melamun, anpa Zyrra sadari ternyata Jovan berada di belakangnya.


"Van,-" Ucapan Zyrra tergantung sebab jari Jovan menempel pada bibirnya. "Mas, panggil aku Mas. Kamu dulu pernah janji untuk memberikan panggilan mesra itu. Ayo panggil aku lagi."


Meskipun Zyrra mengalami amnesia, tapi tidak mengubah kepribadiannya yang pemalu. Dengan ragu-ragu, Zyrra mengusapkan kalimat yang Jonan minta.


"Ma, Mas." Desiran aneh menjalar di tubuh Zyrra saat mengucapkan kata mas. Seperti ada sengatan listrik yang merambat masuk ke dalam otaknya, dan memberikan rasa sakit luar biasa. Zyrra memegangi kepalanya kuat sambil setengah berteriak.


"Ahk..!" Dengan panik Jovan menghampiri Zyrra. "Sayang kamu kenapa? Ayo kita ke rumah sakit sekarang." Mendengar kata rumah sakit, Zyrra segera menggeleng. Ia yang baru saja keluar dari tempat tidak nyaman itu, tentu tidak ingin kembali lagi ke sana.

__ADS_1


"Tapi kamu kesakitan sayang." Ucap Jovan masih dengan perasaan khawatir.


Zyrra menarik nafas dalam saat perlahan rasa sakit itu mulai menghilang. Sedikit demi sedikit, bermunculan bayang-bayang saat mereka tengah bercinta. Teringatnya ucapan Jovan saat dia dulu juga menyebutkan kata yang sama. Jovan terlihat begitu bahagia namun berwajah mesum. Bahkan saat keduanya tengah mengarungi bahtera kenikmatan, Jovan memintanya untuk terus menyebutkan kata "Mas" berulang-ulang.


'Kenapa harus ingatan ini yang muncul?' tanya batin Zyrra dengan pipi bersemu merah. Jovan yang melihat itu makin bertambah panik.


"Wajah kamu merah sayang. Kita ke rumah sakit aja ya?" Zyrra tetap menggeleng. "Tapi aku takut kamu kenapa-kenapa sayang," kekeh Jovan yang akhirnya membuat Zyrra menceritakan apa yang bertujuan terjadi.


"Jadi, kamu udah semua ingat tentang kita?"


"Belum. Aku hanya mengingat hal itu saja."


Kini wajah khawatir Jovan digantikan dengan senyum mesum. Pria itu mendekatkan wajahnya kemudian berbisik "Apa kamu tidak ingin kembali merasakan kenikmatan dalam ingatannya itu? Suamimu ini, sudah cukup lama merindukan ******* dari bibir indahmu. Sekarang bolehkah aku meminta hak atas kewajibanmu?"


Mata cantik Zyrra terbelalak, Zyrra masih malu untuk menyetujui permintaan suaminya. Dia hanya terdiam dan membiarkan Jovan yang memimpin permainan. Sikap pasrah Zyrra memberikan isyarat bila ia tidak menolak atas permintaan Jovan. Meskipun hasrat yang Jovan rasakan sangat menggebu-gebu, tetapi ia masih dapat menahannya agar tidak menyakiti Zyrra dan calon putri mereka.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2