
Malam ini Zyrra tidur lebih awal, ia merasa lelah dan enggan untuk berbicara dengan Jovan, jadi baginya lebih baik segera tidur untuk menghindar dari laki-laki itu. Saat jam sepuluh malam Jovan kembali ke kamar mereka bertepatan dengan sebuah notifikasi masuk ke ponsel Zyrra.
"Jam segini siapa yang menghubunginya?" Tanya Jovan setengah berbisik pada dirinya sendiri dan meraih ponsel Zyrra yang tergeletak di atas meja. Untungnya wanita itu telah tertidur pulas, jadi Jovan dapat melihat notifikasi yang ada di ponsel wanita itu tanpa rasa canggung. Ada begitu banyak pesan yang masuk ke ponsel istrinya, namun hanya satu nama yang membuatnya penasaran. Ia melihat nama seorang pria dan beberapa pesan yang belum di buka.
"Arya?" Jovan pun membuka pesan dari orang yang bernama Arya itu.
_____________________________________
"*Apakah kamu baik-baik saja?*"
_____________________________________
"*Kamu bisa menceritakan masalahmu
padaku, mungkin aku bisa membantumu.*"
_____________________________________
"*Apakah aku mengganggu?*"
____________________________________
"*Tolong jangan diam saja, aku sangat mengkhawatirkanmu.*"
_____________________________________
"*Zyrra, kumohon balas pesanku,*"
_____________________________________
Jovan amat geram melihat pesan-pesan dari pria itu, hingga tangannya dengan lincah mengetik di atas layar ponsel milik Zyrra untuk membalas pesan dari pria bernama Arya tadi.
Sedangkan di seberang sana, Arya yang tengah menunggu balasan dari Zyrra terkejut melihat pesan yang masuk ke ponselnya.
__ADS_1
_____________________________________
"*Jangan menggangguku lagi!*"
___________________________________
"Dia kenapa? Jangan-jangan marah,ah... sial! Aku tidak seharusnya mencampuri urusan pribadinya kan? Wajar aja kalo dia marah." Kembalilah Arya mengirim pesan untuk Zyrra. Ia takut wanita itu salah paham akan maksud pertanyaannya.
_____________________________________
"*Apakah kau marah maaf atas pertanyaanku tadi? Bila itu mengganggumu, aku minta maaf. Kumohon jangan membenciku,*"
_____________________________________
Itulah kata-kata balasan dari Arya, yang sukses membuat Jovan bagaikan kebakaran jenggot. Dia menatap tajam ke arah wajah Zyrra yang tengah tertidur pulas.
"Jadi ini pria yang bermain-main di belakang denganmu? Kamu sudah berani sekarang? Baiklah! Maka, jangan salahkan aku, bila aku bersikap kejam."
Jovan kembali mengetik sebuah pesan di ponsel itu dan mengirimnya ke pada Arya. Kemudian ia mrnyalin semua pesan itu ke ponselnya, lalu menghapus percakapannya barusan dengan pria yang bernama Arta tadi. Jovan kemudian meletakkan kembali ponsel Zyrra ke tempatnya semula. Pria tampan itu mendudukkan dirinya ke sisi Zyrra. Dari jarak dekat ini, ia baru menyadari bila wajah istrinya itu nampak sembab. Hati Jovan seakan teriris benda tajam, ia mengusap lembut pipi Zyrra dan mengecupnya singkat.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Pagi ini Zyrra bangun lebih awal, wanita itu terbangun di pukul 04.48 pagi karena merasa haus. Jadi Zyrra melangkah menuju dapur dan mengambil segelas air putih. Matahari bahkan belum menampakkan diri, namun Zyrra sudah ingin berjalan-jalan ke luar untuk menghirup udara segar. Dengan masih menggunakan baju tidur, wanita itu pun membuka pintu depan dan berjalan meninggalkan kediaman Argantara.
"Selamat pagi, Nyonya. Ada apa sepagi ini Nyonya telah pergi keluar? Apakah ada hal yang penting?" Tanya sekuriti muda yang berjaga di depan pagar.
"Saya hanya ingin berjalan-jalan sebentar di luar."
"Ini masih gelap Nyonya, bagaimana bila saya temani?"
Zyrra melihat sekitar yang memang nampak sepi. Jadi ia mengangguki ucapan sekuriti muda itu untuk menemaninya berjalan-jalan di luar rumah. Kedua orang itu menikmati udara pagi dan tetesan embun yang masih turun. Hingga mereka tiba di taman, Zyrra melihat seorang penjual bubur ayam.
"Mang, satu mangkuk bungkus ya?"
__ADS_1
"Siap Neng! Tunggu sebentar ya?"
Zyrra tersenyum dan mengangguk, ia duduk di bangku plastik yang disediakan oleh tukang bubur itu. Ada seorang pembeli lain yang yang juga tengah hamil seperti dirinya datang ke tempat itu untuk membeli bubur.
"Kehamilan yang ke berapa mba?" Tanya wanita itu pada Zyrra. Zyrra yang kaget mendengar pertanyaan itu refleks menatap perutnya yang masih terlihat datar. Ya, walaupun memang sudah agak menonjol keluar, namun ia tak menyangka akan ada orang kuartal yang menyadarinya.
"Em, pertama."
"Wah, pasti mendebarkan sekali ya? Kalau saya sudah yang kedua. Di sini adalah bubur langganan saya. Tiap kali saya hamil, pasti saya akan datang kemari bersama dengan suami saya."
Zyrra hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan wanita itu. Dalam hatinya, ia merasa sedikit iri akan hubungan wanita itu dengan suaminya yang terdengar harmonis. Sedangkan dirinya dan Jovan? Mereka baru saja menjalani rumah tangga, namun sudah harus bertengkar karena masalah yang tidak jelas. Zyrra menghela nafas kasar, untungnya bubur yang dia pesan telah siap.
"Datang lagi ya neng, aduh...suaminya meni ganteng pisan. Cocoklah sa si enengnya yang gelis."
Mendengar pujian penjual bubur itu, Zyrra dan sang sekuriti yang menemaninya jadi salah tingkah. Saat sang sekuriti ingin menjelaskan, Zyrra menggeleng dan langsung berlalu pergi begitu saja.
Sedangkan di kediaman Argantara, Jovan yang telah bangun tidak mendapati Zyrra di manapun menjadi panik. Ia pergi keluar dan menanyakan keberadaan Zyrra pada para pelayan.
"Nyonya dari pagi tadi telah pergi keluar Tuan."
"Apa? Keluar? Sepagi ini pergi kemana dia?" Tanya Jovan dan bergegas mengambil kunci mobilnya untuk mencari Zyrra. Namun, baru saja ia tiba di depan pintu depan, Jovan melihat Zyrra tiba bersama penjaga rumah. Mereka nampak akrab, bahkan istrinya itu sampai mengenakan jaket pria lain. Dengan geram Jovan berjalan ke arah Zyrra dan menepis jaket yang melekat di tubuh wanita itu.
"Ikut aku!" Jovan mencengkeram pergelangan tangan Zyrra dengan erat hingga membuat wanita itu mendesis kesakitan.
"Tuan, tolong jangan kasar pada Nyonya Zyrra. Dia sedang hamil."
Jovan memalingkan wajahnya dan menatap tajam pada sekuriti muda itu. Emosinya menjadi makin tersulut saat melihat pria itu dengan beranikan menahan tangan Zyrra.
"Kau siapa ha?! Berani-beraninya memperingatiku!"
Zyrra membiarkan kode pada pemuda itu untuk tidak ikut campur dalam urusan ini. Perlahan pemuda itu pun melepaskan genggaman tangannya pada Zyrra dan membiarkan Jovan membawa wanita itu masuk.
"Oalah Jaka, Jaka! Kamu kenapa ikut campur urusan Tuan Jovan dan Nyonya Zyrra to? Ileng, kamu itu cuman kacung di sini. Jangan cari penyakit!" Ucap Pak Bejo, kepala sekuriti di kediaman Argantara. Ia telah bekerja pada keluarga itu selama hampir lima puluh tahun lebih. Dan pemuda yang di panggilnya Jaka tadi adalah putra bungsunya, yang akan menggantikan posisinya di kediaman Argantara kelak.
__ADS_1
BERSAMBUNG...