Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
CANGGUNG


__ADS_3

"Kamu lapar ga? Kita berhenti di restoran depan sana dulu ya? Aku dengar, makanan di sana enak." Hening. Tidak ada respon sama sekali dari Zyrra, istri dari Jovan itu masih tetap setia dengan mode diamnya.


'Makan, makan. Yakin masih laper setelah ngobrol lama sama cewe kegatelan tadi? Pasti kenyangkan? Ish! Nyebelin.' Gerutu Zyrra dalam hati. Ia masih amat kesal karena Jovan terlalu lama bersama dengan Wen Xie Luo tadi. Meskipun Zyrra juga tau, bila sebenarnya yang ada di sana bukan hanya merek berdua. Tapi hati Zyrra tetap saja kesal mengingat suaminya berbincang dengan wanita lain.


Jovan khirnya mengambil keputusan untuk berhenti di restoran tersebut. Ia markirkan mobil mewah yang di bawahnya ke halaman restoran. Setelah selesai memarkirkan mobil, Jovan turun dan membukakan pintu untuk Zyrra.


"Ayo," Dengan senyum manis Jovan menggandeng tangan Zyrra untuk turun dari mobil. Tak ada perlawanan ataupun kata yang keluar dari bibir manis wanita itu. Zyrra hanya menuruti saja ke mana Jovan membawanya. Hingga seorang pelayan tiba dengan membawa buku menu.


"Aku ingin memesan ini, ini, ini, dan ini."


Semua pesanan yang dipesan oleh Jovan adalah kesukaan dari istrinya. Tetapi, bukannya luluh atas perlakuan manis Jovan, Zyrra justru makin muak dan kesal kepadanya.


"Yang, jangan marah lagi dong. Kamu kenapa sih? Coba jelasin. Kalau kamu diam terus, aku nggak bisa ngetik maksud kamu apa?" Ucap Jovan mencoba untuk membujuk Zyrra. Ia tidak tahan melihat istrinya yang selalu diam dan acuh padanya.


"Ngomong dong Yang,"


"Nggak apa-apa. Aku cuma males ngomong aja." Jawab Zyrra acuh. Ia berkata tanpa ingin menatap wajah Jovan. Pandangan matanya tertuju ke arah ponsel yang ia pegang. Merasa Zyrra sudah mulai luluh, Jovan mencoba menggoda Zyrra.

__ADS_1


"Kamu ngambek atau kamu cemburu?"


"Siapa juga yang cemburu?" Tanya Zyrra balik dengan nada ketus. "Terus, kenapa kamu diam aja dari tadi?"


"Suka-suka aku lah."


"Udah deh, ngaku aja kalau kamu cemburu. Aku suka kamu cemburu. Kamu makin cantik kalau udah cemburu kaya gini." Jovan menoel hudung mancung Zyrra. Meskipun hatinya masih dingkol, namun gombalan Jovan nyatanya mampu membuat pipi Zyrra merona.


"Basi." Gumam Zyrra sambil mengulum senyum. "Loh kok dibilang basi? Serius tahu." Perbincangan di antara keduanya terhenti ketika pelayan mengantarkan menu makanan yang dipesan oleh Jovan.


"Yakin si Nona Wen itu ga bikin kamu lupa diri juga? Atau kamu emang udah sering ngomong kayak gini ke setiap perempuan?"


"Jadi kamu beneran cemburu? Yes, yes, yes!" Sorak Jovan sambil melompat-lompat kegirangan. Tingkah Jovan itu tentu saja mengundang banyak perhatian orang-orang di restoran tersebut. Tapi, Jovan seakan tak perduli, ia terlalu senang untuk memperhatikan sekitar.


"Kamu gila ya? Van, udah. Malu," Gumam Zyrra seraya menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan.


"Ok, ok. Aku seneng banget sayang, akhirnya kamu punya rasa ke aku juga." Ucapan membuat Zyrra tertegun. Ia tak tau apakah dirinya memang sudah membuka hati untuk suaminya itu. Meskipun tak dapat Zyrra pungkiri, ia merasakan rasa nyaman bila bersama dengan Jovan. Dan seakan ada rasa takut bila suaminya sedang berjauhan darinya atau pun bersama wanita lain.

__ADS_1


"Aku, aku mau ke toilet dulu."


Zyrra bangkit tempat duduknya dan meninggalkan Jovan. Sesampainya di toilet, Zyrra tidak sengaja bertemu dengan Bella. Suasana terasa canggung di antara kedua wanita itu. Di satu sisi, Zyrra merasa dirinya bersalah pada Bella karena sudah merebut Jovan. Dan di sisi lain, Bella masih belum berani menegur Zyrra karena perasaan bersalahnya pada Joi.


"Hai." Zyrra akhirnya lebih dulu membuka suara. Ia tidak tahan dengan suasana canggung di antara mereka.


"Hai," Bella balas menyapa. "Gimana kandungan kamu belakangan ini?" Tanya Bella sambil melirik ke arah perut Zyrra yang terlihat mulai membuncit.


"Ya, menurut Dokter semuanya baik. Kemungkinan aku akan melahirkan lima bulan lagi."


"Aku do'akan semoga persalinannya lancar. Kalau begitu aku duluan ya. Jonan dan Joi sudah nungguin aku."


"Ok." Usai berbincang sebentar, kedua wanita itu pun berpisah. Zyrra melihat Bella menemui Adik ipar dan juga anak angkatnya. Beberapa waktu belakangan memang mereka sering menghabiskan waktu bersama layaknya keluarga bahagia. Entah mengapa, Bella terlihat begitu menyayangi Joi. Begitupun dengan Jonan, wajah pria tampan itu memancarkan kebahagiaan yang tidak dapat ditutupi. Membuat Zyrra memikirkan bagaimana cara agar Tuan Bima dapat menerima Bella menjadi anggota keluarga Argantara.


Zyrra keluar dari toilet, ia melihat beberapa pelayan pria bersama seorang wanita yang kemungkinan adalah menjerumuskan mereka. Orang-orang itu kesulitan untuk berkomunikasi dengan seorang turis asing. Mereka terlihat saling bertukar informasi yang salah, jadi Zyrra menghampiri keduanya untuk membantu meluruskan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2