
"Selamat pagi semua," Ucap seorang wanita cantik yang datang bersamaan dengan suami dan putra kandungnya. Zyrra dan Jovan menoleh ke arah pintu, di sana telah berdiri Bella dan suaminya, Jonan.
"Mamah..!" Seru Joi, seraya berlari ke arah Zyrra yang juga merentangkan tangan menyambut kedatangan pangeran kecilnya.
"Mamah, Joi kangen," Ucap pria kecil itu, dengan memeluk erat tubuh Ibu angkatnya. "Mamah juga kangen, sayang. Joi selama ga ada Mamah, ga nakal kan?"
"Engga dong, Mah. Joi kan anak Mamah." Zyrra menatap ke arah Bella. Dapat Zyrra lihat ada segurat kesedihan pada wajah Jonan dan Bella.
"Em, sayang. Bisa kita bicara berdua? Boleh aku bawa Joi sebentar?" Tanya Zyrra pada Bella. Ia tau bila Bella sedikit banyak pasti akan merasa tidak nyaman atas kedekatannya bersama Joi. Meskipun bukan maksud Zyrra untuk merebut perhatian pria kecil itu, tetapi pertemuan yang tidak ia sengaja dulu membuat dirinya dan Joi seakan memiliki ikatan batin tersendiri.
Setelah mendapat ijin dari Bella, Zyrra mengajak Joi menuju taman belakang. Di sana, mereka seperti sedang berbicara mengenai sesuatu hal yang serius.
"Bagai mana dengan urusan kalian di Italia?" Tanya Bella memecah kecanggungan
"Semuanya sudah beres. Mungkin beberapa hari lagi Ayah Zyrra akan datang berkunjung."
"Lalu Shava? Apa yang lo lakuin ke dia?" Pertanyaan Jonan yang terdengar takut tentang kondisi sahabat kecilnya itu, membuat Bella melirik tajam ke arahnya. Menyadari itu, Jonan langsung meralat ucapannya agar tidak membuat keributan antara dirinya dan juga Bella.
__ADS_1
"Gue cuma takut, dia bakal ngulangin kesalahannya di kemudian hari, kalo Lo ga tegas ke dia.''
"Shava sudah ada Kakek yang urus. Dan aku pastikan, dia ga akan bisa cari masalah lagi dengan Zyrra.''
FLASH BACK ON....
Tuan Bima secara pribadi mengunjungi tempat tinggal Shava. Kebetulan hari itu kedua orang tua Shava tengah datang menjenguk putri mereka yang tiba-tiba ingin tinggal di Italia. Kedatangan Tuan Bima, tentu di sambut dengan ramah oleh kedua orang tua Shava, tapi tidak dengan wanita itu. Shava yang tau maksud kedatangan Tuan Bima, menundukkan kepala. Ia tau, Tuan Bima pasti akan marah kepadanya karena sudah membuat Zyrra mengalami kontraksi dini, dan bahkan harus melahirkan secara sesar sebelum waktunya.
''Tuan Bima. Selamat datang,'' Ucap Tuan Hardian, Ayah Shava menyambut kedatangan Tuan Bima. Ia mengulurkan tangan dengan senyum lebar di wajahnya tanpa tau maksud kedatangan pria di hadapannya itu. Tuan Bima menyambut uluran tangan Tuan Hardian tanpa tersenyum.
Raut wajah Tuan Bima yang tidak biasa, membuat kedua orang tua Shava merasa ada yang salah. Jadi, Tuan Hardian mempersilakan Tuan Bima untuk duduk terlebih dahulu.
''Apa maksud dari ucapan Anda?"
''Putri kalian ini, telah membuat cucu menantuku mengalami keguguran. Dan kini, dia harus bertarung nyawa di rumah sakit untuk melahirkan generasi ke empat keluarga Argantara.''
Penuturan Tuan Bima, membuat kedua orang tua Shava membelalakkan mata. Mereka lalu menatap tajam ke arah Shava yang tertunduk.
__ADS_1
''Apakah itu benar, Shava?'' Tidak ada jawaban dari putrinya itu. Shava masih diam membisu tanpa berani membuka suara, membuat Tuan Hardian menaikkan nada suaranya dan kembali bertanya.
''Jawab Papah, Shava! Apakah yang dikatakan oleh Tuan Bima itu semuanya benar?!"
Bentakan dari Tuan Hardian membuat Shava sedikit terjingkat kaget. Dengan mulut bergetar, akhirnya Shava mengakui kesalahannya.
"Ma, maafkan Shava, Kek. Shava tidak bermaksud mencelakai Zyrra. Shava hanya ingin membuatnya menjauhi Jovan."
"Apa hakmu untuk memisahkan seseorang dari suaminya?! Apakah begini cara kami mengajari kamu sejak kecil? Papah kecewa sama kamu, Shava." Shava menatap ke arah wajah Ayahnya sebelum ia meninggalkan ruang tamu.
"Maafkan tingkah putri kami, Tuan. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang telah putri kami lakukan ke pada istri Jovan." Ibu Shava mencoba untuk mebela putrinya. Tetapi Tuan Hardian datang dengan koper besar di tangannya.
"Dengan apa kalian ingin bertanggung jawab? Apakah bisa kalian menggantikan nyawa cucu dan calon cicit ku bila terjadi sesuatu kepada mereka?"
"Maaf Tuan Bima. Sebagai orang tua dari Shava kami mengakui kalau telah lalai dalam mendidik putri kami. Tapi saya rasa, Shava sudah seharusnya bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri."
"Papah. Kok Papah ngomongnya gitu sih?"
__ADS_1
"Lalu? Apa kamu mau masuk penjara demi putri kesayanganmu ini?" Nyonya Hardian terdiam atas pertanyaan suaminya. Sebagai wanita karir, tentu saja ia tidak ingin memiliki reputasi yang buruk. Tetapi ia juga tidak mungkin membiarkan putrinya masuk kedalam bui.
BERSAMBUNG……