
Jenuh karena terus menunggu, Zyrra berniat untuk berjalan-jalan di halaman luar. Zyrra berpikir, akan lebih nyaman menunggu Jovan sembari menikmati nunga-bunga yang tengah bermekaran. Ada sepasang kursi panjang yang tersedia di taman itu, dengan santai Zyrra melangkah ke sana. Angin yang sepoi-sepoi menerpa helaian rambut indah wanita si cantik.
"Selamat siang Nyonya," Sapa Jaka yang baru saja selesai berkeliling. Ia melihat istri dari Tuannya tengah duduk sendirian sembari melamun, jadi ia mencoba menyapa wanita itu.
Zyrra hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Seperti biasanya, wanita itu akan terkesan dingin kepada setiap lelaki. Namun, sikapnya yang seperti itu bukannya membuat kaum Adam menjauhinya, malah justru kian gencar untuk mendapatkan seorang Zyrra Azasya.
Tak terkecuali juga Jaka, sebagai seorang lelaki dewasa yang normal, rasa ketertarikan itu tentu saja ada. Tetapi ia juga sadar akan setatusnya, apalagi Zyrra adalah wanita yang telah bersuami. Jaka hanya dapat menepiskan perasaan yang tidak semestinya ada saat ini. Tanpa ada perbincangan lain, pemuda itu pergi meninggalkan Zyrra sendiri.
Lama Zyrra berada di tempat itu, rasa kantuk mulai merayapinya. Sedikit demi sedikit mata Zyrra perlahan tertutup, hingga ia kini telah benar-benar berada di alam mimpi.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Di dalam ruangan tempat Jovan membawa Wen Xie Luo untuk bertemu Kakeknya, ketiga orang itu nampak membicarakan kerjasama antara perusahaan mereka dengan serius. Jujur saja Tuan Bima sedikit ragu untuk bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Wen. Namun, Jovan mengatakan bila tidak ada salahnya untuk menerima kesempatan tersebut. Karena, perusahaan keluarga Wen masih memiliki orang-orang yang dapat diandalkan. Membuat Tuan Bima akhirnya menyetujui perjanjian kerja sama tersebut dengan catatan, perusahaan milik Wen Xie Luo harus mematuhi persyaratan yang diajukan oleh Argantara grup.
"Xiwàng jiānglái wömen kěyï hùhuì hùlî" Ucap Tuan Bima dan hanya dibalas dengan anggukan serat senyum singkat oleh Wen Xie Luo.
{Semoga kedepannya kita akan saling menguntungkan.}
"Zhùhè nï de gõngzolì. Ràng wö dài nï chūqù" Jovan kemudian bangkit dan mengantarkan Wen Xie Luo pergi.
{Selamat atas kerjasamanya. Mari saya antar kau keluar.}
Sesampainya di ruang tamu, Jovan yang tidak melihat keberadaan Zyrra mulai gelisah. Ia menanyakan istrinya kepada para pelayan di rumah itu.
__ADS_1
"Di mana Nyonya?"
"Nyonya tadi berjalan ke taman depan, Tuan."
"Zhěnmeliăo, yuēhàn xiānshēng? Nï kăn qïlái hěn kùnhuò."
{Ada apa Tuan Jovan? Kau terlihat kebingungan.}
"Zhè mèishénme. Wö zhïshì zhăo wö de qīzi. Duìbùqï bùnéng sòng nï chūqù. Wö dé zài huāyuán lï găn shàng wö de qīzi." Tanpa menunggu jawaban dari Wen Xie Luo, Jovan langsung bergegas menyusul Zyrra ke taman.
{Bukan apa-apa. Aku hanya mencari keberadaan istriku. Maaf tidak dapat mengantarkanmu keluar. Aku harus menyusul istriku di taman.}
Dengan wajah kesal, Wen Xie Luo menatap kepergian Jovan. Dengan menghentakkan kaki, wanita mandarin itu meninggalkan kediaman Argantara. Di dalam mobilnya, Wen Xie Luo mengumpati Zyrra. Ia benar-benar merasa kesal karena Jovan lebih perhatian kepada wanita itu ketimbang padanya.
(POV Author: Yah si neng sipit, itukan bininya. Gimana Jovan ga lebih perduli ke Zyrra coba?😞)
"Shì de, nüshì?" Terdengar suara lemah lembut dari seorang wanita yang Wen Xie Luo hubungi.
{Ya Nona?}
"Wö xūyào nï wèi wö zuò yī jiān shì. Wö zài yindùníxīà, pài nï de rén lái zuò wö de göngzoù."
{Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Aku sedang berada di Indonesia, kirimkan anak buahmu untuk melakukan tugas dariku.}
__ADS_1
"Hahahaha....! Nà bùshì wèntí. Xiăojiě, shénme döu gěi nï." Jawab wanita misterius itu dengan tawa jahatnya.
{Itu bukan masalah. Apapun untukmu Nona ku.}
Panggilan berakhir, Wen Xie Luo melajukan mobilnya menuju apartemen yang ia tinggali.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Jovan berkeliling taman mencari keberadaan Zyrra, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran wanita itu di sana. Hingga ia tiba pada sebuah bangku panjang, Jovan melihat Zyrra tengah meringkuk layaknya seorang bayi di dalam kandungan. Dan ketika ia ingin mengangkat tubuh Zyrra, wanita itu sudah lebih dulu terbangun.
"Mau pindah ke kamar aja tidurnya?"
"Engga. Udah selesai urusannya?"
"Ia udah. Maaf ya lama?"
Tidak ada jawaban dari mulut Zyrra, hanya kakinya saja yang melangkah pergi meninggalkan Jovan. Zyrra memang selalu bersikap dingin, tapi kali ini perasaan Jovan mengatakan bila istrinya itu sedang marah padanya. Dengan langkah lebar, Jovan menyusul Zyrra yang sudah memasuki mobil mereka lebih dulu.
"Ok, sekarang kita mau kemana?"
"Kesini." Tunjuk Zyrra pada layar ponselnya. Jovan mengangguk paham dan mulai melajukan mobilnya. Entah apa yang akan dilakukan oleh istrinya di tempat itu.
"Kamu lapar ga? Kita berhenti di restoran depan sana dulu ya? Aku dengar, makanan di sana enak." Hening. Tidak ada respon sama sekali dari Zyrra, istri dari Jovan itu masih tetap setia dengan mode diamnya.
__ADS_1
'Makan, makan. Yakin masih laper setelah ngobrol lama sama cewe kegatelan tadi? Pasti kenyangkan? Ish! Nyebelin.' Gerutu Zyrra dalam hati. Ia masih amat kesal karena Jovan terlalu lama bersama dengan Wen Xie Luo tadi. Meskipun Zyrra juga tau, bila sebenarnya yang ada di sana bukan hanya merek berdua. Tapi hati Zyrra tetap saja kesal mengingat suaminya berbincang dengan wanita lain.
BERSAMBUNG....