
Menempuh waktu 16 jam dari Indonesia ke Itali membuat Zyrra yang sedang hamil muda merasa amat lelah. Meskipun mereka mengendarai pesawat pribadi yang lengkap dengan fasilitas, namun tetap saja membuatnya kelelahan. Untung saja, pesawat kini telah tiba di kota Roma dengan selamat. Beberapa orang telah menyambut kedatangan mereka di luar pesawat.
"Welcome Mr. Jovan, we have prepared a car to take you to the mansion that you will live in." Ucap kepala pelayan yang menyambut kedatangan Tuannya bersama beberapa pelayan lain.
(Selamat datang Tuan Jovan, kami telah menyiapkan mobil untuk mengantar Anda menuju mansion yang akan Anda tempati.)
Tanpa basa basi lagi, Jovan lalu membawa Zyrra menuju mobil mewah yang terparkir itu. Dengan perasaan lega, Zyrra duduk di dalam mobil yang mereka tumpangi saat ini. Meskipun lelah mendera, namun indahnya pemandangan kota Roma, membuat penat yang Zyrra rasakan terbayar lunas. Sepanjang perjalanan, matanya di manjakan oleh pemandangan banguanan-bangunan tua yang masih nampak megah.
Hingga tanpa terasa kantuk pun menghinggapi pelupuk mata Zyrra. Wanita berparas ayu itu telah terlelap di sandaran kursinya.
"Yang, kamu lapar ga? Aku bisa minta kepala Koki buat nyiapin makanan yang kamu mau." Ucap Jovan tanpa memperhatikan istrinya yang sudah tertidur pulas karena ia sibuk dengan laptop di tangannya.
Merasa tidak ada jawaban, Jovan pun menoleh ke kiri dan mendapati mata Zyrra yang telah tertutup rapat. Dengan perlahan ia menarik tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya. Jari-jemari besar pria tampan itu, mengelus lembut pipi mulus Zyrra. Dengan senyuman tergambar di wajah tampannya, Jovan mengecupi kening sang istri. Entah mengapa, ia merasakan firasat yang tidak nyaman kali ini. Seakan dirinya dan Zyrra akan berpisah lama, meskipun ia tau itu tidaklah mungkin.
Butuh waktu satu setengah jam bagi Jovan dan istrinya untuk tiba di mansion mereka. Jadi wajar saja bila Zyrra sampai terlelap saking lamanya perjalanan itu. Ditambah lagi, rasa lelah usai melakukan penerbangan yang cukup panjang. Tak lama, Jovan ikut menyusul Zyrra menuju dunia mimpi. Hingga ketika mobil telah tiba, tak ada seorang pun yang berani membangunkan keduanya.
__ADS_1
Perlahan mata cantik Zyrra mulai terbuka, diiringi dengan lenguhan lembut dari bibir seksinya. Ia melihat sebuah rumah mewah dengan banyak pelayan yang berdiri di sisi kiri dan kanan mobil. Wajah para pelayan itu nampak kelelahan, sesekali di antara mereka memukuli betisnya pelan. Zyrra pun menengok ke arah sang suami yang ternyata juga tertidur lelap. Pelan-pelan Zyrra membangunkan Jovan agar mereka segera turun dari mobil.
"Van, Van, bangun. Ayo kita turun," melihat tidak ada pergerakan dari Jovan, Zyrra mulai mengguncangkan tubuh suaminya itu.
"Van, ayo bangun..!"
"Kamu bukannya udah janji bakal manggil aku dengan sebutan kesayangan. Kok masih manggil nama?" Tanya Jovan dengan mata yang masih tertutup. Zyrra terdiam sejenak, ia ingat akan janjinya itu, tetapi Zyrra juga bingung harus memanggil Jovan dengan sebutan apa. Tidaklah mungkin dia memanggil Jovan selayaknya Jovan memanggil dirinya. Bukan apa-apa, hanya saja menurut Zyrra, panggilan itu terlalu lebai bila ia yang mengucapkannya.
Akhirnya dengan suara pelan Zyrra menyebutkan sebuah panggilan yang begitu lembut di telinga Jovan meskipun masih sedikit kaku. "Em, Ma, Mas."
"Mas," Ulang Zyrra patuh. Entah mengapa panggilan itu terdengar seakan menggugah jiwa kelakian Jovan. Membuat Jovan junior tegang seketika dan meminta jatah harian yang biasa mereka lakukan.
Tanpa ada kata lain, Jovan dengan buas M3lum4t b1b1r ranum Zyrra. Hingga nafas mereka sama-sama tersengal, Jovan barulah melepaskan tautan itu.
"Ayo kita masuk." Bisik Jovan dengan suara rendah nan parau. Membuat bulu tengkuk Zyrra merinding, ia tau setelah ini akan ada pertempuran besar antara dirinya dan juga Jovan.
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Jonan kembali ke perusahaan dan ingin menemui Jovan dan Zyrra. Sayangnya kedua orang yang ia cari tengah berada di luar negeri. Jadi, terpaksa Jonan harus mengurungkan niatnya dan sembari bersabar menunggu hingga Jovan dan Zyrra kembali.
Dengan perasaan berantakan, Jonan tetap meneruskan pekerjaannya. Ia hanya bisa berharap semoga Zyrra dan Jovan setuju untuk membiarkan dirinya dan juga Bella merawat Joi kedepannya. Meskipun Jonan sendiri ragu akan hal itu tapi, toh tak lama lagi mereka pun akan memiliki anaknya sendiri. Jadi kemungkinan Jovan dan juga Zyrra akan sibuk dengan anak baru mereka lalu perlahan melupakan Joi.
Ponsel di atas meja kerja Jonan pun bergetar, tertera nama Bella pada layarnya. Jonan menghembuskan nafasnya kasar sebelum menjawab panggilan telpon itu.
"Ya sayang?"
"Gimana? Zyrra setuju ga?"
Jonan sudah menduga hal ini yang akan di tanyakan oleh kekasihnya itu. Ia tau Bella amatlah berharap agar dapat bersama dengan putra mereka yang sudah sekian tahun terpisah. Namun, apalah daya. Keadaan saat ini yang memang tidak memungkinkan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1