
Di kota yang mendapatkan julukan LO STIVALE ini, Jovan menyempatkan diri untuk mengunjungi anak perusahaan dan juga sekaligus mengajak Zyrra untuk lebih mengenal pegawai di sana. Sebab, saat melangsungkan pernikahannya dulu dengan Zyrra, mereka tidak memberitahukan kepada banyak orang. Jadi, tidak heran bila masih banyak karyawan di bawah naungan Argantara grup yang belum mengenal Zyrra. Tapi sebelum berangkat ke perusahan, mereka lebih dulu pergi menuju sebuah restoran yang amat mewah untuk makan siang.
"buon pomeriggio, menu per favore." Sapa pelayan ramah, yang berdiri di sisi mereka sembari menyodorkan buku menu.
(Selamat siang, silahkan menunya.)
"Voglio ordinare una strega, priselle, borlengo e ravioli." Ucap Zyrra memesan beberapa makanan dan satu gelas minuman khas Italia.
(Saya ingin memesan sebuah strega, priselle, borlengo, dan ravioli)
"Portami un maraschino e degli gnocchi." Berbeda dengan Zyrra yang memesan begitu banyak makanan, Jovan lebih memilih beberapa menu sederhana untuk menu makan siangnya kali ini.
(Bawakan sebuah maraschino dan gnocchi.)
"OK, altri ordini?" Tanya pelayan itu kembali.
(Baik, adakah pesanan yang lain?)
"No."
Pelayan itupun meninggalkan meja Jovan dan Zyrra dengan membawa kembali buku menu di tangannya. Sementara pesanan mereka tiba, Zyrra izin pada Jovan untuk pergi ke toilet. Yah, meskipun Zyrra tidak terlalu ingin buang air kecil, tapi ia tidak ingin menunda kebutuhannya ini. Sebab Zyrra tau, bila ia menundanya, maka ia harus ke toilet saat diperjalanan nanti.
__ADS_1
Bruk..!
Suara bokong sintal Zyrra terhempas ke atas lantai yang keras. Ia seakan menubruk tembok empuk yang membuat tubuhnya oleng.
"Tutto bene, signorina?" Tanya seorang pria tampan, sembari mengulurkan tangannya pada Zyrra. Tapi Zyrra tak menyambut uluran tangan itu, ia bangkit sendiri lalu mengibaskan rok yang ia kenakan.
(Apakah kau baik-baik saja, Nona?)
"Sto bene. Mi scusi."
"Wow, il tuo italiano Γ¨ piuttosto fluente. Sono sicuro che non sei di questo paese, scusa se ti ho incontrato. Non sono concentrato.." Pria itu meminta maaf pada Zyrra. Tapi sayangnya, Zyrra hanya tersenyum singkat kemudian mengangguk seraya meninggalkan pria yang masih menatap ke arahnya.
"Interessante. Ti farΓ² urlare il mio **** quando faremo l'amore." Gumam pria itu lalu meneruskan langkah ya yang sempat terhenti akibat ia tidak sengaja menabrak tubuh Zyrra barusan. Pria itu kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel. Ia lalu menghubungi seseorang dan memberinya sebuah perintah.
(Menarik. Aku akan membuatmu meneriakan namaku saat kita berc1nt4 nanti.)
"Controlla le telecamere di sorveglianza e guarda la donna che ho incontrato poco fa. Voglio che me lo porti immediatamente." Titahnya pada seseorang di telepon.
(Periksa kamera pengawas dan lihat wanita yang bertabrakan denganku barusan. Aku ingin kau segera membawanya untukku.)
ππππππππππππ
__ADS_1
Di sebuah ruangan yang pengap dengan dinding yang berlumut serta bau amis yang menyengat, pria berusia paruh baya tengah berdiri di bawah cahaya lampu. Ia menodongkan p1st0l ke arah seorang pria paruh baya lainnya yang terlihat sudah amat lemah, dengan luk4 di sekujur tubuh dan wajahnya.
"Dimmi velocemente, dov'Γ¨ il tuo grande capo in questo momento?!" Bentak Robin seraya mencengkram rambut pria tadi.
(Cepat katakan, dimana bos besar kalian saat ini?!)
"Fino alla morte non tradirΓ² mai il signor Dearn. Puoi uccidermi adesso!" Rupanya pria itu lebih memilih jalur k3m4ti4n ketimbang memberikan jawabannya ke Robin. Anjing setia peliharaan musuh besarnya ini, memanglah sulit untuk di hadapi. Akan tetapi, Robin memiliki banyak cara untuk membuka mulut pria itu agar memberikan informasi untuknya. Dengan senyum sinis tersungging di susdut bibir, Robin melepaskan cengkraman tangannya dari rambut pria itu.
(Sampai matipun aku tidak akan pernah mengkhianati Tuan Dearn. Kau bisa m3mb*n*hku sekarang juga!)
"Non aspettarti che ti dia una morte facile. Devi goderti i bei ricordi che ti darΓ²." Bisik Robin sebelum meninggalkan tempat kotor itu.
(Jangan harap aku akan memberikan k3m4ti4n yang mudah untukmu. Kau harus menikmati dulu kenangan indah yang akan ku berikan.)
"Continua a tormentarlo. Fagli dire dov'Γ¨ Dearn. Se necessario, cospargi di sale su ogni ferita. Ma ricorda, non lasciarlo morire facilmente.)" Ucap Robin pada anak buahnya, lalu pergi dengan sebuah mobil bersama orang kepercayaannya.
(Terus *1**4 dia. Buat dia mengatakan di mana keberadaan Dearn. Bila perlu, taburi garam di setiap lukanya. Tapi ingat, jangan biarkan dia m4t1 dengan mudah.)
"Tuan, saat ini Nona Zyrra tengah berada di sebuah restoran yang tak jauh dari sini bersama suaminya." Ucap Haikal, tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Robin saat ini setelah orang sebelumnya meninggal dunia. Haikal adalah putra dari Zhorr, pria yang Robin percaya untuk menjaga dan mengajarkan Zyrra ilmu bela diri. Sayangnya, Zhorr harus meninggal karena melindungi Zyrra dari musuh-musuh Ayahnya. Hingga kini, Haikal lah yang menggantikan posisi sang Ayah menjadi orang kepercayaan Robin.
BERSAMBUNG....
__ADS_1