
"Aku janji, aku ga akan membuat kamu kembali merasakan kekecewaan. Aku akan memberikan kebahagiaan dalam kehidupan kita." Zyrra melepaskan pelukan Jovan dari tubuhnya. Perlahan ia menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku ga butuh kamu ucapin janji. Aku mau kamu membuktikan semuanya."
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Setelah drama di kantor tadi, Jovan dan Zyrra kini telah kembali ke kediaman Argantara bersama. Kebetulan Jonan dan Joi juga tiba bersamaan dengan mereka.
"Mamah...!" Panggil Joi sembari menghambur ke dalam pelukan Zyrra.
"Hai sayang, gimana jalan-jalannya hari ini? Seru ga?"
"Seru banget Mah, tadi aku sama Om Jonan dan Tante Bella pergi ke Ancol. Di sana ada banyak wahana seru loh Mah. Kapan-kapan kita kesana lagi ya, Mah?"
"Ok. Tapi, kita tunggu Adek bayinya lahir dulu ya? Kasian Mamanya nanti kecapean."
"Ok, Pah." Jawab Joi dengan riang. Anak kecil berwajah tampan itu makin menantikan kehadiran Adik kecilnya. Meskipun Zyrra dan Jovan bukanlah orang tua kandungnya, tapi Joi sudah berjanji untuk menyayangi anak mereka seperti Adik kandungnya sendiri.
"Sekarang kita masuk, Kakek pasti udah nunggu kita di meja makan." Zyrra menggandeng tangan Joi masuk ke dalam rumah. Sementara Jovan membawa Jonan untuk berbicara lebih dulu.
"Kamu yakin sama hubungan kamu dan Bella?" Tanya Jovan ketika mereka telah duduk di kursi taman.
__ADS_1
"Yakin."
Jawaban Jonan yang terdengar begitu yakin membuat Jovan tak mampu berkata lagi. Ia hanya menggangguk singkat dan menepuk pundak sang Adik.
"Ok, kalo gitu kita bicarakan ini ke Kakek sama-sama."
"Thank's, Van."
Jovan lebih dulu bangkit dan di susul oleh Jonan kemudian. Keduanya bersamaan memasuki rumah megah yang telah mereka tempati selama ini. Kali ini, entah dengan cara apa mereka membujuk sang Kakek untuk merestui hubungan antara keturunan keluarga Argantara dengan keluarga Vandov kelak.
Di meja makan, Zyrra tengah menyuapi Joi. Sedangkan Tuan Bima telah lebih dulu menghabiskan makanan di piringnya. Namun pria tua itu tetap duduk di kursinya sembari menunggu kedatangan kedua cucu kebanggaannya.
Usai berkata demikian, Tuan Bima bangkit dan menuju ruang baca. Sedangkan Jovan, Jonan dan Zyrra melahap makan malam mereka dengan pikiran yang telah melanglang buana.
"Ada yang tau kenapa Kakek nunggu kita?"
Jovan dan Zyrra hanya nenggedikkan bahu bersamaan menanggapi pertanyaan Jonan. Hingga makanan dalam piring mereka telah habis, barulah ketiga orang itu menyusul Tuan Bima menuju ruang baca.
Tok..tok..
Secara bergantian Jovan, Jonan dan Zyrra masuk ke dalam ruangan itu. Ketiganya pun duduk di sofa panjang dekat Tuan Bima berada kini.
__ADS_1
"Kakek ingin kalian bertiga jujur. Apa kalian sudah tau tentang ini."
Sebuah map di serahkan Tuan Bima ke hadapan ketiga Cucunya. Jonan dan Jovan saling berpandangan untuk sesaat sebelum meraih map itu. Dan ketika mereka membaca isi dalam map tersebut, mata ketiganya melebar bersamaan. Hal tak terduga yang tertuliskan di atas selembar kertas putih itu cukup mampu membuat jantung ketiganya berhenti berdetak untuk sesaat. Dan kini Zyrra menatap tajam kearah Jonan, ia pikir Jonan adalah pria tak bertanggung jawab yang sudah menelantarkan Joi dulu.
"Sumpah. Gue ga tau tentang ini semua." Seru Jonan yang tau arti dari tatapan Zyrra padanya.
"Terus menurut kamu, Joi lahir dari air liurmu gitu?"
"Ini pasti ada yang salah. Gue akui, Gue emang br3ngs3k. Tapi gue tetep aja hati-hati pas ngelakuin itu."
"Cukup! Sekarang Kakek tanya sama kamu, siapa perempuan itu?" Jonan kini terdiam. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ketika dia melakukan *3** liarnya ada momen di mana ia lupa menggunakan pengaman. Tapi, sekuat apapun Jonan mencoba mengingatnya, ia sama sekali tidak menemukan kekhilafan itu dalam memori ingatannya. Hingga dengan wajah polosnya Jonan menggelengkan kepala.
"Konyol!" Decih Zyrra dan meninggalkan ruangan itu. Ia merasa muak melihat wajah Jonan. Menurut Zyrra, Jonan adalah pelaku utama yang sudah membuat masa kecil Joi menjadi tersika. Meskipun Zyrra juga tau, ini semua bukanlah murni kesalahan dari Jonan sendiri. Mungkin juga Ibu Joi lah yang tidak ingin menanggung beban malu sendiri, hingga ia memutuskan untuk membuang Joi kecil.
Jovan yang tak kalah kecewa pada sang Adik pun ikut menyusul Zyrra keluar. Ia tau istrinya itu pasti amat sedih saat ini. Jadi, tanpa berkata apapun lagi, Jovan meninggalkan Jonan bersama Kekek mereka di dalam ruang baca.
Zyrra masuk ke dalam kamar Joi, dengan derai air mata di pipinya. Wajah tenang Joi, membuat hati Zyrra makin tersayat. Masih terukir jelas dalam memori ingatan Zyrra, betapa perjuangan Joi sebelum memasuki kediaman Argantara. Bocah berusia itu harus berjuang keras melawan kerasnya kehidupan untuk menghidupi dirinya dan seorang Nenek yang sudah merawatnya.
Perlahan Jovan duduk di sisi Zyrra, ia memeluk tubuh sang istri agar memberikan ketenangan bagi wanita itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1