Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
"APA KAU PANTAS?"


__ADS_3

Setelah mengetahui kabar Joi yang telah kembali siuman, Zyrra dan Jovan pagi ini menuju rumah sakit untuk menjenguk anak kecil itu. Wajah Zyrra nampak sangat bahagia, senyuman yang manis tak pudar sepanjang jalan menuju rumah sakit. Wanita cantik dan seksi itu tak sabar untuk menemui putra angkatnya dan kembali bercengkerama seperti biasa lagi.


Dan saat mereka tiba di ruang rawat Joi, Zyrra menghambur memeluk tubuh pria kecil itu seraya mengecupi pucuk kepalanya.


"Mamah kangen sayang, maaf Mamah baru ke sini,"


"Engga papa Mah. Kata Om Jonan, Joi akan segera punya dedek bayi, apa bener Mah?"


Zyrra memandang Jovan sejenak kemudian menangkap wajah Joi dan mulai mengangguk.


"Asik!! Berarti bentar lagi Joi bakal punya temen main dong?"


"Ia, makanya Joi harus cepet sembuh, biar bisa jagain Mamah dan juga dedek bayinya." Ucap Jovan sambil duduk di sisi ranjang Jo.


"Siap kapten!" Jawab Joi dengan gaya lucunya yang meniru pasukan pembela negara dengan memberikan hormat pada Ayah angkatnya, Jovan.


Hari-hari berlalu, dengan penuh kegembiraan. Hubungan di antara Jovan, Zyrra dan Joi makin dekat. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia, para Suster dan juga Dokter yang merawat Joi selalu membicarakan keluarga kecil itu.


"Nyonya Zyrra sangat beruntung memiliki suami seperti Tuan Jovan, selain gagah dan tampan, dia juga suami idaman yang begitu sayang terhadap keluarga. Andaikan aku juga memiliki suami seperti itu."


"Ya, ya, kau tentu bisa. Andai saja lemak pada tubuhmu ini sedikit kau buang ke laut!" Ucap salah seorang suster pada temannya yang memiliki bentuk tubuh tambun.


Ucapan-ucapan semacam itu sering kali terdengar dari banyak suster yang melihat keharmonisan keluarga Zyrra. Apalagi saat Zyrra yang terkadang tiba-tiba lemas atau juga rewel. Jovan dengan sigap selalu ada untuk istrinya itu.


Hubungan antara Jonan dan Bella juga sudah makin menemukan titik terang. Bella benar-benar membuka hatinya untuk Jonan dan mencoba mengikhlaskan Jovan. Ia berharap dengan begitu maka, mereka dapat menjadi sebuah keluarga yang utuh dan mengambil alih Joi dari Zyrra juga Jovan.


Setelah sekian lama di rumah sakit, Joi sudah di perbolehkan untuk pulang. Pria kecil itu di sambut oleh para perawat juga Tuan Bima di kediaman Argantara. Zyrra menemani Joi untuk bermain sebentar dan barulah menyusul Jovan ke perusahan. Ia sudah kembali aktif di perusahaan setelah melewati perdebatan panjang bersama sang suami yang sempat tidak mengizinkannya.


"Eh, lihat itu! Enak banget jadi Manajer Zyrra ya? Libur terus, tapi gajinya tetep lancar. Bahkan ga ada yang berani kasih sangsi ke dia atas ketidak hadiahnya di perusahaan. Aku curiga, jangan-jangan dia punya dekingan uang kuat di perusahaan ini." Bisik salah satu karyawan yang melihat kehadiran Zyrra.


"Ah, apa kamu ga tau, Manajer Zyrra itu perempuan ga bener! Aku dengar-denger, dia itu lagi hamil anaknya si Putu."

__ADS_1


"Hah, yang bener? Ih, emang ya dia itu perempuan mur4ha4n!"


Dan masih banyak lagi desas desus mengenai Zyrra di perusahaan. Bahkan ada seorang karyawan pria yang memiliki paras tampan tak segan-segan mencoba untuk mendekati Zyrra. Ia ingin membuktikan apakah Zyrra benar-benar bisa di dapatkan dengan mudah.


Tok...tok...


Zyrra yang tengah memegang ponsel di tangannya sambil mengetik pada laptop pun mendongak dan melihat seorang pria tampan yang merupakan atasan Zyrra muncul dari balik pintu.


"Selamat siang Manajer Zyrra. Bisa ke ruangan saya dulu, ada hal yang ingin saya bicarakan."


Zyrra meletakkan ponselnya yang masih hidup kemudian berdiri dan mengangguki permintaan atasannya itu. "Oh, baik Tuan Bram."


Setelah kepergian pria tampan itu, Zyrra ingin mematikan ponselnya. Namun, suara pria di seberang sana menghentikannya.


"Mau apa Bram memintamu ke ruangannya?"


"Entahlah, tapi aku akan ke sana dulu, mungkin ada hal yang memang ingin di bahasnya padaku."


"Oh ayolah...bukankah ini terlalu konyol?"


"Lakukan, atau tidak pergi sama sekali?"


Mau tidak mau Zyrra menuruti perintah suaminya walau terdengar konyol. Ia pun bergegas menuju ruangan General Manajer yang baru saja memintanya untuk datang.


Tok..tok..tok...


"Permisi Tuan,"


"Duduklah Manajer Zyrra!"


Zyrra dengan patuh duduk di sofa panjang ruangan itu, dan di tangannya memegangi ponsel yang masih terhubung dengan Jovan. Tuan Bram bangkit lalu menghampiri wanita itu. Dari caranya menatap Zyrra, sudah dapat terbaca ada motif lain dari pria itu menyuruh datang ke ruangannya.

__ADS_1


"Aku dengar kau sedang mengandung saat ini. Bahkan aku juga mendengar bila bayi yang berada dalam kandunganmu itu tidak memiliki seorang Ayah." Ucap Bram dan duduk di sisi Zyrra.


"Aku bisa saja menjadi Ayah dari anak yang kamu kandung saat ini, asalakan..." Bram mulai mendekatkan dirinya pada Zyrra dan berusaha untuk mencium bibir wanita itu.


"Maaf Tuan Bram, saya rasa perlakuan Anda saat ini sudah melampaui batasan. Saya hamil atau tidak, bukanlah urusan Anda! Dan satu lagi, saya juga tidak membutuhkan simpati Anda untuk menjadi Ayah dari janin ini, sebab sebabnya sudah bersuami."


"Kau tidak perlu jual mahal. Aku tau, kamu memiliki hubungan gelap dengan karyawan biasa yang bernama Putu itu kan? Berapa dia membayarmu? Aku akan memberikan sepuluh kalilipat saat ini juga." Ucapnya dan mendorong tubuh Zyrra hingga terbaring di atas sofa.


Bugh...!


Sebuah bogem mentah mendarat di wajah tampan Bram hingga tersungkur ke lantai dingin ruangannya. Ia mendongak dan mendapati Jovan telah berdiri sambil menatap tajam ke arahnya.


"Apa kau bilang tadi? Kau ingin menjadi Ayah dari bayi yang di kandung oleh Manajer Zyrra? Apakah kau pantas?" Tanya Jovan dengan nada mencemooh dan mendekat pada Zyrra.


"Keluarkan dia dari perusahaan, dan pasitikan tidak akan ada perusahaan lain yang akan menerimanya bekerja lagi." Titah Jovan pada asistennya Denis.


"Tu..Tuan.."


Jovan membawa Zyrra keluar dari ruangan itu sambil menggandeng istrinya posesif.


"Hei, cukup. Kita bisa di lihat karyawan lain!" Bisik Zyrra dan ingin melepaskan rangkulan Jovan dari pinggangnya.


Namun pria itu seakan tidak mendengar ucapan Zyrra, ia terus membawa wanita itu ke hadapan banyak karyawan yang menatap bingung pada mereka.


"Ada hal yang ingin saya sampaikan!"


Ucap Jovan dengan suara lantang dan menyita banyak perhatian semua orang di sana.


BERSAMBUNG....


Mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga votenya😉😉

__ADS_1


__ADS_2