
"Kamu mau apa? Jangan macam-macam!"
"Aku adalah pria br*ngs*k yang akan membuatmu menyesal!"
Jovan kemudian meraup bibir ranum Zyrra yang sudah menggoda imannya sejak malam pertama mereka dulu. Dengan buas pria itu menggigit dan mel*mat bibir wanita itu.
Zyrra bahkan tidak dapat melawan Jovan saat ini, laki-laki itu begitu mendominasinya sekarang. Zyrra hanya dapat mencari kesempatan agar dapat terlepas dari kukungan Jovan yang membuatnya tidak berdaya.
Lelaki itu sudah sangat bringas, ia bahkan merobek baju yang di kenakan Zyrra begitu saja dan menampakkan dua gundukan besar yang seperti tengah memanggilnya untuk bermanfaat di sana.
Zyrra langsung terpekik saat melihat bajunya sudah tak berbentuk lagi.
"Kamu udah gila!? Apa yang mau kamu lakukan?! Cukup!"
Jovan tak memperdulikan ucapan Zyrra, ia terus saja melakukan aksinya dan menciumi setiap inci tubuh wanita itu.
"Emh..." lenguh Zyrra saat merasakan bibir nakal Jovan menggerayangi leher dan terus turun ke bawah. Hingga lelaki itu membuka penutup gunung kembar yang di kenakan oleh Zyrra dan menghisap nipel merah jambu wanita itu.
"Ah.." Kembali mulut Zyrra mendesah. 'Sial! Kenapa aku malah mengeluarkan suara yang menjijikkan ini!' Gerutunya dalam hati.
Namun hati serta pikirannya bertolak belakang dengan reaksi tubuh yang malah menikmati setiap sentuhan yang dilakukan oleh Jovan.
Sentuhan-sentuhan dari tangan juga bibir Jovan membuat kepala Zyrra terasa pening dan menginginkan hal yang lebih dari sekedar itu. Tanpa di sadarinya, tangan yang semula mendorong kuat tubuh Jovan kini malah meremas manja rambut pria itu sambil melentikkan pinggangnya ke atas.
Zyrra benar-benar hanyut akan perlakuan Jovan yang begitu lembut dan membuainya.
Dan entah kapan lelaki itu melepaskan pakaian yang dikenakannya hingga kini Jovan sudah siap di atas tubuh Zyrra untuk melakukan penyatuan.
Namun, dia tak langsung menerjang ombak asmara bersama Zyrra. Lelaki itu masih meminta persetujuan dari lawan gulatnya agar dapat mengarungi bahtera kenikmatan bersama.
Ia tidak ingin menjadi lelaki egois yang mementingkan hasratnya sendiri dan meninggalkan kebencian pada diri Zyrra.
"Bolehkah aku melakukannya?" Pinta Jovan dengan tatapan mata sayu dan suara yang begitu berat.
Zyrra sebenarnya ragu, tapi ia juga menginginkan hal yang lebih dari sekedar sentuhan, di tambah lagi tatapan mata Jovan yang membuatnya tidak mampu untuk menolak. Zyrra dengan wajah yang memandang ke arah lain pun mengangguk setuju.
__ADS_1
Malam panas itu kembali mereka lalui bersama dengan penuh peluh dan ******* serta erangan yang bersahut-sahutan.
Bahkan ponsel Zyrra yang berkali-kali berdering pun tak mereka hiraukan. Kedua insan yang tengah di mabuk gairah itu terus saja bergulat di atas ranjang besar.
...****************...
"Sepertinya Mamahmu sedang sibuk, bagaimana kalau Joi tidur sama Om Jonan aja?"
Joi sebenarnya sangat merindukan sang Ibu angkat dan ingin bertemu dengannya. Namun, Joi juga mengetahui kesibukan yang harus di jalani oleh Zyrra sekarang. Akhirnya bocah lelaki itu setuju akan ajakan Jonan untuk tidur di kamarnya.
"Ok, sekarang kamu cuci kaki dulu baru tidur."
Joi menuruti ucapan Jonan, ia melangkah menuju kamar mandi dan mencuci kakinya. Setelah itu kembali lagi ke ranjang tempat Jonan sudah berbaring lebih dulu.
"Om, Joi ga bisa tidur kalau lampunya nyala."
"Oh ya? Kalau begitu kita sama, Om kira kamu takut gelap makanya ga Om matikan lampunya."
"Joi ga takut gelap,"
Dengan senyu manis yang terukir di wajahnya, Joi mengangguk atas perintah Jonan.
Kini keduanya tidur di ranjang yang sama dan juga selimut yang sama. Tak huhuhu waktu lama untuk keduanya menuju alam mimpi dengan deru nafas yang terdengar lembut.
...****************...
Kembali lagi ke sebuah hotel berisikan dua insan yang tengah saling mengatur nafas setelah melakukan olah raga panas, Jovan dan Zyrra kini sama-sama terkulai lemas.
'Ya Allah...ini memalukan banget, bagaimana bisa aku malah setuju melakukan hal itu lagi? Dasar Zyrra bodo! Bodoh! Bodoh!' Rutuk Zyrra pada dirinya sendiri yang sudah tergoda akan bujuk rayu Jovan.
(Prof Author: Ya gak salah juga kali Mba... secara kan itu suami kamu😆)
Di bandingkan dengan Zyrra yang sibuk menutupi dirinya sendiri, Jovan malah tersenyum puas. Ia begitu bahagia sampai-sampai ingin sekali meloncat-loncat saat ini juga.
Bagaimana tidak, ia mengira Zyrra akan menolak permintaannya dan membuat si junior kembali tersiksa seperti biasanya. Tak di sangka wanita itu justru menyetujui keinginan Jovan begitu saja.
__ADS_1
Jovan menatap punggung Zyrra yang membelakanginya saat ini. Perlahan ia menelusupkan lengannya di ceruk leher Zyrra dan memeluk wanita itu dari belakang.
Zyrra yang kaget langsung menegangkan tubuhnya. Ia tidak menyangka Jovan akan memeluknya seperti ini.
"Makasih sayang, kamu sudah mau melayani suamimu ini." Ucap Jovan sambil mengecup lembut tengkuk Zyrra. Tak lama terdengar deru nafas yang teratur dari belakangnya.
'Sa..sayang? Dia barusan panggil aku sayang?' Tanpa sadar, Zyrra menyungginglan senyum bahagia. Ia kini telah resmi menjadi istri Jovan.
Namun, baru saja ia merasakan kebahagiaan menjadi seorang istri, Zyrra teringat kembalikan surat perjanjian kontrak yang sudah mereka sepakati bersama.
'Hubungan ini hanya akan bertahan selama dua tahun. Jadi aku tidak boleh melibatkan perasaan agar tidak menyakiti diriku sendiri nantinya. Besok aku harus cari obat kontrasepsi agar ga ada kehidupan yang tumbuh.' Batin Zyrra.
Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja tanpa persetujuan dari sang empu. Dengan cepat pula Zyrra menghapus bulir bening itu menggunakan tangannya.
Namun, sekuat apa pun Zyrra mencoba untuk menghentikan bulir bening itu keluar, segala ingatannya tertuju kembali pada kenangan masa lalunya ketika masih bersama Pitto hingga ia berakhir dalam pelukan Jovan saat ini.
Betapa sia-sia kesetiaan yang ia berikan pada pria yang bernama Pitto itu. Belum cukup dengan berselingkuh di belakangnya, Lelaki itu juga mengambil alih pabrik parfum miliknya.
'Cukup Zyrra! Kau bukanlah wanita yang lemah, kau harus kuat! Kuat!' Ucap Zyrra dalam hati menyemangati dirinya sendiri.
Wanita itu menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali. Berharap rasa sesak dalam dadanya dapat sedikit berkurang.
Ia mencoba memejamkan mata dan berharap segera tertidur agar dapat mengurangi rasa sakit dalam hatinya saat ini.
BERSAMBUNG...
Makasih buat kalian yang udah setia mengikuti novelku.
Makasih juga buat dukungan kalian...
Semua itu sangat berharga buat aku...
Tetaplah setia nunggu kelanjutan cerita novelku ini, semoga bisa jadi hiburan buat ngisi waktu luang kalian semuanya ya....
Maaf kalau kurang memuaskan, maaf juga kalau ada yang namanya mungkin kebetulan sama...
__ADS_1
cerita ini cuma fiktif kalau ada kesamaan nama dan tempat itu semua hanya kebetulan saja