
Dor..dor...dor..!!
Suara tembakan yang bertubi-tubi dari arah yang sempit menggema hingga memekakan telinga. Sekelompok pria berjas hitam saling baku tembak satu sama lain. Tanpa memikirkan rasa sakit ataupun nyawa mereka, peluru demi peluru telah berterbangan. Banyaknya jasad yang berserakan di sepanjang jalan tak membuat mereka berhenti untuk saling menyerang.
"Menyerahkan Dearn, seluruh anak buahnya telah aku lumpuhkan. Bahkan kau kini telah menjadi buronan di pemerintahan. Terimalah ajal yang akan ku datangkan padamu." Ucap Robin sembari melangkah mendekat ke arah tempat sampah di mana Dearn tengah bersembunyi. Robin tau, pria itu telah kehabisan amunisi, sebab itulah Robin dengan santainya mendekat ke arah Dearn.
"Kali ini, kau akan menikmati rasa sakit seperti yang kau berikan pada almarhum istriku dulu."
"Cuih! Kau bersembunyi selama ini dariku baru setelah mendapatkan bantuan dari suami putri mu kau berani melakukan ini? Tidak kah kau merasa maju pada dirimu sendiri?" Ejek Dearn sengaja untuk mengukur waktu.
Robin yang sudah geram melihat wajah Dearn tak lagi bisa menahan emosi yang bergejolak. Ia menempelkan ujung senjata apinya pada kening Dearn.
"Berbicaralah semaumu. Ini adalah saat terakhirmu untuk melihat dunia."
Dor..!
Timah panas itu telah bersarang di kepala Dearn, darah segar mengalir dari luka tembakan ulah Robin. Kini, Robin dapat tersenyum puas, dengannya selama puluhan tahun akhirnya terbalas sudah. Ia menatap ke arah langit sembari tersenyum.
"Kini kau dapat beristirahat dengan tenang, Sayang."
ππππππππππππ
__ADS_1
Pagi hari yang indah, Zyrra dan Jovan tengah menikmati waktu santai mereka dengan duduk di kursi taman sembari menyeruput segelas teh hangat. Rutinitas yang selalu mereka lakukan di pagi hari sebelum pukul tujuh pagi itu, hari ini terganggu. Tiba-tiba saja datang seorang tamu tak diundang menggangu ketenangan sepasang suami istri itu.
"Hai Van," Sapa Shava dengan senyum genit seperti biasa. Wanita itu seakan tidak peduli akan adanya Zyrra di sisi Jovan. Ia langsung menghambur kedalam pelukan Jovan dan seakan tidak ingin melepaskannya.
Hal itu membuat Jovan takut membuat Zyrra salah paham terhadap mereka. Jadi, buru-buru Jovan mendorong tubuh Shava sedikit menjauh.
Zyrra yang merasa tidak di anggap, ingin bangkit dan masuk ke dalam rumah. Tetapi langkahnya terhenti saat Jovan meraih pergelangan tangannya.
"Kamu mau kemana?"
"Aku capek, mau masuk dulu."
"Terus aku gimana? Aku udah jauh-jauh datang ke sini buat nemuin kamu loh." Shava membuat wajahnya masam agar Jovan tau bila dirinya sedang merajuk.
Melihat hal itu, Zyrra jadi makin jengah, tetapi ia tetap berusaha untuk terlihat tenang. "Dia benar. Kamu mendingan temani dia aja. Aku mau masuk sendiri."
Jovan yang serba salah hanya bisa melihat punggung istrinya memasuki tempat tinggal mereka. Jovan tau bila Shava sengaja melakukan hal itu di depan Zyrra.
"Apa kau kamu?"
"Temani aku belanja hari ini ya? Aku dengar di butik DDR ada tas keluaran terbaru."
__ADS_1
"Maaf aku sibuk. Kau mintalah orang lain untuk menemanimu."
Jovan bangkit dan melangkah pergi, tetapi Shava tidak berhenti di situ. Dia terus mengikuti Jovan hingga memasuki kediaman Argantara.
"Kalo gitu aku akan minta istri kamu aja buat nemenin aku pergi. Sebagai sesama perempuan, dia juga pasti suka belanja kaya aku. Cuman, aku ga tau seleranya dia, mungkin ga setara dengan aku sih, tapi seenggaknya dia masih bisa di ajak ngobrol."
Jovan merasa tersinggung atas ucapan Shava mengenai selera istrinya. Menurut Jovan, apapun yang Zyrra kenakan akan terlihat pantas. Dan Jovan tidak pernah mempermasalahkan tentang merek pakaian atau barang yang Zyrra beli. Selama Zyrra menyukainya, maka Jovan akan memberikan itu.
"Apa maksud ucapanmu?"
"Apa? Aku cuma bilang kalo dia itu ga setara sama kita. Statusnya yang besar di panti asuhan, bahkan tujuannya menikah sama kamu aja aku tau. Kamu terpaksa kan ngelakuin ini sama dia? Cuma karena Zyrra lagi hamil anak kamu aja. Dan setelah batas waktu perjanjian pernikahan kalian habis, kamu bakal ninggalin dia. Kamu tenang aja, aku bakal setia nunggu kok."
"Cukup! Jaga mulut kamu Shava! Kalo sampai Zyrra tau tentang ini semua, dan mengganggu kandungannya, akan aku buat kamu menyesal." Ucap Jovan dengan nada tinggi. Ini kali pertama Jovan bersuara tinggi pada Shava. Membuat wanita itu tidak dapat lagi mengontrol emosinya dan kembali berucap dengan nada tak kalah lantang.
"Apa bagusnya perempuan murahan itu? Aku seribu kali lebih baik dari dia! Aku cinta sama kamu dari sejak kita kecil. Aku jauh lebih pantas bersanding sama kamu ketimbang perempuan itu, Jovan!"
Plak..!
Satu tamparan keras bersarang di pipi Shava. Jovan benar-benar sudah tidak dapat mengendalikan emosinya lagi mendengar istrinya di hina oleh orang lain. Bagi Jovan, Zyrra adalah permata berharganya. Tidak akan dia biarkan siapapun mencoba mengotorinya, meskipun itu adalah keluarganya sendiri.
BERSAMBUNGβ¦
__ADS_1