Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
KUNJUNGAN ORANG ASING


__ADS_3

"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda. Dia mengatakan bila dirinya adalah utusan dari orang yang bernama Danone di China."


'Bukankah orang ini adalah orang yang pernah berurusan dengan almarhum Tuan Johan dulu? Apa yang dia ingin bicarakan dengan Tuan Jovan?' Batin Denis bertanya-tanya.


"Suruh dia datang ke ruangan ku lebih dulu." Perintahnya pada resepsionis yang memberitahunya tentang orang itu. Denis sengaja tidak langsung menyuruh orang-orang itu untuk bertemu dengan Jovan. Sebab ia ingin mendengar hal apa yang ingin mereka sampaikan pada atasannya itu.


Tok..tok...


Beberapa orang pria dan satu orang wanita muda masuk ke ruangan Denis. Mereka memang terlihat bukan berasal dari Indonesia. Denis mempersilakan orang-orang itu untuk duduk terlebih dahulu.


"Please,"


"We know you are wondering why we came here." Ucap wanita bule itu tanpa berbasa basi. Denis memberikan tatapan tajam untuk wanita itu dan terus menyimak kata selanjutnya darinya. "As you know, we are envoys from Mr. Danone, a rival of Mr. Jovan himself. and our purpose in coming here is to hand this over."


(Kami tau Anda sedang bertanya-tanya mengapa kami datang kemari. Seperti yang anda ketahui, kami adalah utusan tuan Danone, rival dari tuan Jovan sendiri. Dan tujuan kami datang kemari adalah untuk menyerahkan ini.)


Denis menatap sebuah map yang berada di atas meja, ia meraih map itu lalu membukanya. Dalam map tersebut ada beberapa foto seorang wanita dan juga seorang pria yang tidak asing di mata Denis. Dengan senyum miring, Denispun bertanya "What do you ask for in return?"


"We only want to collaborate with the Argantara group company in the construction of our casino. And in return, we will deliver the woman in the photo to Mr. Jovan."

__ADS_1


(Kami hanya ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan Argantara grup dalam pembangunan kasino kami. Dan sebagai imbalannya, kami akan mengantarkan pria dan wanita dalam foto itu kepada Tuan Jovan)


Denis tau, bisnis yang dijalani oleh Danone bukanlah bisnis terang. Pria itu berkecimpung dalam dunia gelap dan penuh siasat. Salah ambil langkah sedikit saja, maka mereka akan mendapatkan kerugian besar. Sejenak, Denis nampak temenung. Ia tidak dapat mengambil keputusan ini sendiri, ia kali ini harus bertanya langsung pada atasannya, Jovan.


"I will contact you again." Ucap Denis kemudian berdiri diikuti juga oleh wanita dihadapannya itu.


(Saya akan menghubungi kalian.)


"I look forward to your decision" Jawab sang bule, sembari melangkah pergi dari ruangan Denis.


(Saya menantikan keputusan Anda.)


Usai kepergian orang-orang itu, Denis bergegas menuju ruangan Jovan sembari membawa map yang diberikan wanita bule tadi di ruangannya. Ia tahu, Jovan akan sangat gembira tentang kabar ini.


" Maaf mengganggu Tuan, saya ingin memberikan sesuatu."


Jovan yang tengah berkutat dengan tumpukan berkas di atas mejanya lantas mendongak. "Ada apa Denis?" Sembari menyambut sebuah map dari tangan asistennya.


"Dari mana kamu mendapatkan ini?" Tanya Jovan penasaran setelah melihat isi map tersebut.

__ADS_1


"Beberapa orang suruhan Danone, datang kemari barusan. Mereka menawarkan sebuah kerjasama dalam pembangunan kasinonya untuk imbalan menangkap kedua orang ini."


"Dia masih licik seperti yang dulu. Tapi, bukan masalah. Aku akan menyetujui permintaan mereka."


"Apakah Tuan yakin?" Tanya Denis segera. "Tentu." Jawab Jovan tanpa ada keraguan di dalamnya.


"Tapi Tuan, bukankah kau juga tau bagaimana sikap Danone dulu? Apakah ini tidak terlalu beresiko?" Denis masih saja mengkhawatirkan keputusan Jovan. Ia takut, hal itu akan beresiko pada perusahaan dan juga keluarga Argantara sendiri.


"Kau tenang saja. Semua ini bisa aku atasi."


Jovan kemudian mengirimkan file itu pada Tuan Robin, Ayah mertuanya. Sebagai orang yang sudah lebih lama berkecimpung dalam dunia hitam, Jovan tau mertuanya adalah orang yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Apalagi, itu telah menyangkut tentang keselamatan putri satu-satunya. Tentu dengan senang hati, Robin akan membatu Jovan menangani masalah ini.


Tak lama setelah Jovan mengirimkan file itu, Robin langsung menghubunginya. Seperti dugaan Jovan, Ayah mertuanya itu tidak mungkin menutup mata bila sudah menyangkut tentang Zyrra.


"I don't care about any risks. This time we have to catch those bastards and eliminate them."


(Aku tidak perduli resiko apapun. Kali ini kita harus menangkap orang-orang br3ngs3k itu dan melenyapkan mereka.)


"OK, the day after tomorrow we will leave for China. I will eliminate that bastard with my own hands." Ucap Jovan dengan nada dingin menusuk. Matanya memancarkan api dendam yang berkobar dengan tangan yang mengepal kuat hingga menimbulkan otot-otot kokoh lengan Jovan.

__ADS_1


(Baiklah, lusa kita akan berangkat menuju China. Aku akan melenyapkan b*jing*n itu dengan tanganku sendiri.)


BERSAMBUNG


__ADS_2