
Jovan kembali ke dalam ruangan Zyrra, dia memperhatikan setiap inci dari wajah wanita itu. Walau ada beberapa luka memar disana, tapi tak mengurangi kecantikan yang dimiliki wanita itu.
Puas Jovan memandangi wajah Zyrra yang tengah tertidur, pria itupun membaringkan dirinya kesebuah sofa yang ada di ruangan itu. Sangking lelahnya Jovan, hingga tak butuh waktu lama baginya untuk tertidur kali ini.
Pagi menjelang, menyingkirkan gelapnya malam. Kelopak mata cantik Zyrra perlahan terbuka, menampilkan bola mata coklatnya yang cantik. Jovan yang sudah lebih dulu bangun duduk di kursi samping ranjang Zyrra.
"Kau sudah Bangun? Aku sudah menyiapkan bubur untukmu. Makanlah selagi hangat." Ucap Jovan saat melihat Zyrra sudah sadar.
Zyrra tidak menanggapi ucapan Jovan, ia melihat sekeliling seakan mencari sesuatu. Jovan yang melihat gelagat Zyrra kembali bicara.
"Kau mencari Joi? Dia berada di hotel bersama pengasuhnya dan beberapa orang bodyguard yang ku tempatkan."
Zyrra menghembuskan nafasnya lega, kemudian menatap bubur yang dipegang oleh Jovan. Rasa lapar muncul diperutnya, ia ingin menggapai mangkuk bubur itu, tapi segera ditepis Jovan.
"Kau duduklah dengan benar, biar aku yang menyuapimu." Titahnya pada Zyrra.
"Aku bisa sendiri."
"Buka mulutmu, atau aku suapi dengan caraku sendiri."
Mendengar ancaman dari Jovan, Zyrra langsung menuruti ucapan pria itu. (prof author: kalo di komik mukanya Zyrra udah kaya anak Anjing penurut)
Jovan, menyuapi Zyrra dengan telaten hingga bubur dalam mangkuk itu habis. Kemudian meletakkan mangkuk itu di atas meja dan memberikan segelas air pada Zyrra.
Tok..tok
Terdengar suara ketukan di pintu sebelum seorang Dokter dan Suster masuk dengan membawa obat beserta alat medis lainnya. Jovan memundurkan posisinya, memberikan ruang pada Dokter dan Suster untuk memeriksa keadaan Zyrra.
Suster membantu Dokter untuk menggantikan perban di lengan Zyrra. Setelah perban selesai diganti, Suster lalu mengoleskan salep luka pada wajah wanita itu.
"Ssst..." Desis Zyrra merasa perih dibagian lukanya. Jovan yang mendengar hal itu langsung mendekat kearah keduanya dan merampas salep itu dari tangan Suster.
"Kalau tidak bisa berhati-hati, lebih baik jangan menjadi Suster. Jadi saja kuli bangunan!" Bentaknya pada Suster itu.
Zyrra yang mendengar Jovan berkata sarkas seperti itu pada seorang wanita merasa malu. Apalagi wanita yang dimarahi oleh Jovan adalah orang yang merawatnya.
"Maaf," Hanya itu kata yang keluar dari Suster tadi, lalu pergi bersama Dokter yang telah selesai menyuntikkan cairan obat ke infus Zyrra. Hanya tinggal mengoleskan obat pada beberapa bagian tubuh wajah dan wajah wanita itu saja yang belum, sebab Jovan lebih dulu mencegahnya.
__ADS_1
"Biar aku sendiri yang melakukannya." Ucap Zyrra mencoba untuk mengambil salep luka di tangan Jovan. Namun, lagi-lagi tangannya ditepis oleh pria itu.
"Diam, aku yang akan melakukannya."
Jovan mulai mengobati luka pada tubuh Zyrra, dengan perlahan ia mengoleskan salep itu ke luka-luka pada bagian belakang tubuh wanita itu. "Ah..!" Terdengar rintihan dari mulut Zyrra, saat merasakan perih pada lukanya yang terkena obat. Jovan menghentikan kegiatannya sesaat lalu menatap kearah wanita itu.
"Sakit? Tau juga rasanya sakit? Lalu kenapa begitu bodoh?" Ucapnya, lalu kembali melanjutkan mengoleskan salep. Zyrra sekuat tenaga menahan erangan dari bibirnya, tapi tetap saja tak kuasa. Hingga erangan itu kembali keluar "A..ah.." Namun, erangannya kali ini terdengar seperti ******* dan membuat bulu kuduk Jovan berdiri seketika.
Gluk...!
Jovan menelan ludahnya kasar, ia tidak menghentikan kegiatannya dan terus mengoleskan salep itu. Tanpa sengaja matanya melihat kearah cermin lemari yang berada dihadapan Zyrra, dan menampilkan wajah wanita itu yang mencoba menahan suara rintihan dengan menggigit bibir bawahnya.
Hal itu justru terlihat seksi di mata Jovan, hingga tanpa sengaja dia menekankan jarinya lebih kuat dan membuat Zyrra kembali mengeluarkan erangannya. "Ehem!" Suara Jovan berdehem untuk membuyarkan fikiran kotor dari otaknya.
"Apakah kau tidak bisa menahannya? Kau kekanak-kanakan sekali!"
Kali ini Zyrra sangat merasa geram akan ucapan Jovan. Wanita itu lalu memalingkan wajahnya dan menatap pria di sampingnya kini.
"Walaupun malaikat sekalipun yang mengoleskan obat ke sebuah luka, itu akan tetap terasa sakit. Apalagi seorang manusia kasar sepertimu ini?"
"Kalau kau memang tidak ingin melakukan ini, lalu kenapa kamu memarahi dan merebut salep itu dari Suster tadi?"
"Aku memang sengaja ingin menyiksamu!"
"Kalau begitu jangan melarangku untuk mengerang. Ini menyakitkan kau tau?!"
Jovan terdiam sesaat, walaupun Zyrra tidak mengatakannya, sebenarnya Jovan juga tahu kalau itu menyakitkan. Tapi erangan dari mulut Zyrra justru membuatnya tersiksa. Jovan junior langsung berdiri tegak dan berdenyut, tiap kali mendengar erangan wanita itu.
"Suaramu sangat jelek!" Ucapnya asal lalu kembali mengoleskan salep kewajah Zyrra.
Zyrra terdiam mendengar ucapan Jovan, dia lalu membiarkan pria itu mengoleskan salep pada wajahnya. Mulai dari bagian pipi, sudut alis, hingga terakhir ada di sudut bibirnya yang terlihat robek.
"Ssst..." Desis Zyrra yang kembali merasakan perih dibagian bibirnya. Jovan memegangi wajah Zyrra lalu meniup-niup luka itu untuk mengurangi rasa pedih di sana.
Usai mengobati luka Jovan berlalu ke dalam toilet, di sana ia menatap cermin sambil memegangi dadanya yang berdebar-debar. 'Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku selalu begini bila bersama Zyrra? Mungkinkah aku...? Tidak, yang aku cintai hanyalah Bella. Hanya Bella.' Batin Jovan mencoba melawan rasa di hatinya dengan logika.
Saat Jovan berada di toilet, Tuan Bima masuk bersama Joi. Zyrra menyambut kedatangan kedua orang itu dengan senyum merekah di bibirnya.
__ADS_1
"Kak Zyrra...!" Ucap Joi lalu berlari ke pelukan wanita itu yang mengulurkan kedua tangannya.
"Hai Joi, kamu baik-baik aja kan? Gak terluka?" Tanya Zyrra hawatir.
"Aku baik-baik aja Kak, maaf karena Joi, Kakak sampai terluka."
"Tidak sayang, ini semua bukan karena Joi."
"Kakakmu benar Joi, ini semua bukan salahmu. Tapi salah pria dewasa tidak berguna itu." Ucap Tuan Bima yang melihat Jovan keluar dari dalam toilet.
Jovan yang mendapat sindiran dari sang Kakek hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia berjalan mendekat ke arah Joi dan berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan bocah kecil itu.
"Maafin Om ya Joi? Om yang terlambat datang untuk kalian."
"Enggak apa-apa kok Om, Joi yakin kalian pasti akan nolongin Joi dari orang-orang jahat itu."
Jovan tersenyum mendengar ucapan Joi, lalu mengusap kepala bocah lelaki itu.
"Ikut Kakek keluar." Ucap Tuan Bima pada Jovan. Saat keduanya diluar, Jovan menanyakan masalah dalang penculikan Joi pada Kakeknya.
"Bagaimana dengan orang yang merencanakan semua ini? Apakah dia memiliki komplotan lain?"
"Entahlah, dia tidak mengakuinya, bahkan saat melihat seluruh anggota keluarganya tertembak satu persatu. Mungkin ini memang murni rencananya sendiri."
"Apakah Kakek membunuhnya?"
Tuan Bima tertawa saat Jovan menanyakan hal itu.
"Tentu saja tidak, Kakek hanya memberikan dia dan anggota keluarganya sedikit pelajaran. Lalu mengirim mereka ke kantor Polisi."
BERSAMBUNG....
***Aku sangat berterimakasih buat kalian yang udah mau mampir ke novel aku...๐๐
Maaf kalau ceritanya kurang seru atau masih banyak typo๐
Akan ku usahakan memperbaikinya lagi, mohon dukungan kalian dengan memberikan like,komen dan jadikan vaforit๐
__ADS_1