Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
PERCOBAAN PEMBUNUHAN ZEA


__ADS_3

Dalam sebuah pesta yang begitu megah dengan tamu-tamu undangan dari golongan orang-orang Borjuis, kediaman Jovan dan Zyrra kini nampak begitu ramai. Pesta yang di adakan oleh Jovan memang tidak tanggung-tanggung. Ada begitu banyak orang nomor satu di kalangan bisnis, politik bahkan artis ternama ikut hadir. Mereka memberikan selamat pada Jovan dan Zyrra atas kelahiran putri sulungnya. Do'a, ucapan selamat serta berbagai hadiah besar telah Jovan dan Zyrra terima. Tawa bahagia serta rasa haru pasangan itu membuat seseorang di sudut ruangan menatap itu pada Zyrra.


"Ràng wǒmen děngzhe kàn. Zé lā, zài nǐ nǚ'ér dùzi lǐ dāile zhè yī nián zhīhòu, nǐ hái néng xiàng xiànzài yīyàng xiào ma?" Wen Xie Luo lalu diam-diam menuju dapur dan mencari tempat susu Zea diletakkan. Wen Xie Luo telah menyiapkan bubuk racun dan akan mencampurkan itu. Racun tersebut dapat membuat seekor sapi mati dalam hitungan menit. Apalagi Zea yang hanya sekedar bagi berusia dua bulan, tentu tidak butuh waktu lama sebelum kematian datang.


(Kita lihat saja. Apakah setelah tahun ini masuk ke dalam perut putri kalian, kamu masih bisa tertawa seperti sekarang, Zyrra?)


Para pelayan yang sibuk menyiapkan makanan serta minuman bagi para tamu, jarang berada di dapur. Dan kesempatan itu di manfaatkan oleh Wen Xie Luo untuk melancarkan aksinya. Wanita itu membuka satu per satu kemari yang ada di dalam dapur, hingga ia melihat kota susu milik Zea. Wen Xie Luo bergegas mencampurkan racun itu sebelum ada yang melihat aksinya.


Setelah selesai mencampurkan racun tersebut, Wen Xie Luo kembali lagi menuju tempat pesta berlangsung. Semula, tidak ada yang mencurigakan. Semuanya berjalan normal seperti sebelum dia menuju dapur. Tetapi, lama kelamaan orang-orang yang hadir di pesta itu menatap Wen Xie Luo dengan tatapan mengintimidasi. Awalnya ia tak peduli akan hal itu dan mengira itu hanyalah perasaannya saja. Tetapi, setelah ia melihat rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan dirinya ketika sedang mencampurkan racun ke dalam susu milik Zea, barulah Wen Xie Luo sadari bila dia telah ketahuan.


'Wǒ zěnme zhème kuài jiù pī fà xiàn le? Wǒ méi kàn dào méiyǒu rén huì guānzhù wǒ ma?' Tanya Wen Xie Luo dalam hati. Wanita Mandarin itu sudah tidak bisa berkata-kata. Ia hanya terpaku di tempatnya sembari terus melihat tayangan dirinya pada layar proyektor.


(Bagaimana mungkin aku bisa ketahuan secepat ini? Bukankah aku sudah melihat tidak akan ada orang yang memperhatikanku?)


"Wén xiè luō xiǎojiě. Nǐ néng gàosù wǒmen nǐ zài wǒ nǚ'ér de niúnǎi zhōng tiānjiāle shénme ma?" Tanya Jovan langsung pada Wen Xie Luo di hadapan para tamu lain. Wen Xie Luo yang tidak menyangka aksinya akan terbongkar secepat ini, tidak dapat menjawab. Dia hanya bisa terduduk lemas di tempatnya sambil memegangi dada.

__ADS_1


(Nona Wen Xie Luo. Bisakah kau memberi tahu pada kami, apakah yang kau campurkan ke dalam susu milik putriku?)


Melihat itu, Jovan yakin, bila yang Wen Xie Luo masukkan ke dalam susu milik Zea pastilah sesuatu yang berbahaya. Jovan lalu meminta seseorang untuk membawa suatu itu beserta Wen Xie Luo menuju kantor Polisi.


"Saya tidak akan membiarkan orang yang telah mengusik ketenangan keluarga Argantara hidup dalam damai. Kalian dapat menjadi saksi pada malam hari ini, bila orang yang memiliki rencana buruk pada keluarga kami, akan berakhir dengan lebih buruk lagi." Ucap Jovan dengan nada lantang dan membuat merinding tamu-tamu undangan yang hadir dalam pesta itu. Memang tak dapat dipungkiri, ketegasan yang keluarga Argantara lakukan pada para pengusik ketenangan keluarga mereka pasti berakhir buruk. Itulah mengapa, orang akan berpikir dua kali sebelum mereka kehilangan segalanya saat ingin coba-coba berurusan dengan keluarga Argantara.


Plok, plok, plok, plok...


Sebuah tepuk tangan terdengar dari ambang pintu. Seorang pria gagah dengan setelan jas mahalnya melangkah masuk ke dalam rimbunan tamu undangan. Para tamu yang tidak mengenal siapa pria tersebut menyingkir dan memberi jalan.


"Inilah menantuku yang selalu dapat aku andalkan." Ucap Robin dengan aksen Indonesia yang kurang fasih namun masih dapat di mengerti.


"Quando arriverà Papa? Perché non me lo fai sapere?"


"Non sarebbe una sorpresa se papà glielo dicesse per primo, vero?"

__ADS_1


"Welcome, Mr. Robin. Glad you could come to our little party." Ucap Jovan seraya mengulurkan tangannya. Mendengar panggilan formal dari Jovan, Robin menerpa kasar tangan menantunya itu.


"You still call me sir? Am I still an outsider to you?"


Kau masih memanggilku dengan sebutan Tuan? Apakah aku ini masih orang luar bagimu?


"Excuse me. Didn't I mean it like that, Papa?" Jovan sedikit ragu-ragu dengan menyebut Papa pada Robin. Ia takut akan melakukan kesalahan lagi. Tetapi Robin justru terlihat senang dengan panggilan itu. Ia pun memeluk Jovan dan menepuk pundak kekar milik menantunya.


BERSAMBUNG……


INI TRANSLATE BAHASA, BIAR KALIAN GA CAPEK BUKA GOOGLE😁


Kapan Papa tiba? Kenapa tidak memberi kabar?


Tidak akan menjadi kejutan, bila Papa memberi tahukannya lebih dulu bukan?

__ADS_1


Selamat datang, Tuan Robin. Senang kau bisa hadir dalam pesta kecil kami.


Maaf. Bukan maksudku seperti itu, Papa?


__ADS_2