
"Lumayan, lama ga meregangkan otot-ototku yang kaku." Ucap Zyrra setelah menghempaskan salah seorang dari pria-pria yang mengikutinya dari tadi.
Melihat perlawanan yang Zyrra lakukan, banyak pengunjung mal itu yang merekam dan melakukan siaran langsung di ponsel mereka. Ketangguhan Zyrra saat melawan pria-pria bertubuh besar dengan jumlah banyak, membuat para pengunjung takjub. Beberapa dari mereka yang mengetahui identitas Zyrra menjadi makin kagum. Meskipun tak jarang juga ada yang bergosip akan hal itu dan menganggap kelakuan Zyrra terlalu bar-bar.
Jumlah mereka yang banyak, juga kekuatan yang cukup besar, membuat Zyrra kewalahan. Ia hampir saja kecolongan, andai saja tidak ada seorang pria yang datang untuk menolongnya. Tenaga pria itu lumayan membantu, meski keahliannya dalam bela diri tidak seberapa.
"Kamu baik-baik aja?"
"Baik. Makasih udah mau nolong aku."
"Siapa mereka?"
"Aku juga ga kenal. Yang pasti mereka punya niat ga baik ke kami."
"Kami?" Tanya Arya tak mengerti, sebab sejak ia melihat perkelahian tadi, ia hanya mendapati Zyrra sendirian.
__ADS_1
Flash Back On...
"Tuan, Arya. Anda memiliki janji temu dengan Nyonya Daliah siang ini di cafe Xc. Setelah itu kita juga masih harus menemui Tuan Janoko untuk membahas proyek di kota S. Dan terakhir pergi golf bersama para eksekutif perusahaan asing."
Arya hanya mengangguk singkat. Ia sebenarnya malas untuk menghadiri semua itu. Akan tetapi, ini adalah tanggung jawabnya demi mengembangkan perusahaan yang baru saja ia dirikan. Arya memang putra dari keluarga pengusaha yang cukup terkenal di Indonesia. Tapi, sejak dulu ia tidak ingin orang hanya mengenal dirinya karena usaha sang Ayah. Arya mau, dia terkenal atas usahanya sendiri dan sukses dengan perusahaan yang ia dirikan sendiri.
Apa lagi sejak ia tau bila wanita idamannya, Zyrra telah bersuami. Arya jadi semakin semangat untuk membuat perusahaannya kian berkembang. Ia menyibukkan diri dengan urusan perusahaan, agar tidak terus larut akan sakit hatinya. Arya berharap dengan begitu, ia akan bisa mngiklaskan Zyrra hidup bersama dengan orang lain.
Kini Arya datang ke sebuah pusat perbelanjaan besar milik keluarga Argantara. Sebab, di sanalah ia akan bertemu dengan investor yang membantu perusahaannya dalam periklanan. Tetapi hal yang tidak ia duga adalah, terjadi sebuah perkelahian yang tidak sepadan. Ada beberapa pria mencoba untuk menyerang seorang wanita, dan wanita itu juga tidak asing di mata Arya. Tanpa pikir panjang lagi, Arya langsung menghampiri perkelahian itu dan membantu Zyrra.
"Kami?"
"Ya. Aku kesini sama taman dan juga anakku. Mereka uadh aku suruh pergi duluan buat cari bantuan." Mendengar kata anak yang keluar dari mulut Zyrra membuat lubang di hati Arya kembali menganga. Meskipun ia sudah mencoba mengiklankan wanita ini, tetapi hatinya tak dapat dengan mudah membunuh cinta yang sudah berakar dalam.
Syut...
__ADS_1
Sebuah tendangan membuat tubuh pria itu sedikit oleng, untungnya Zyrra dapat membalas tendangan orang tadi dan membuatnya jatuh tersungkur. Arya yang sempat kehilangan fokusnya kembali tersadar setelah tendangan itu. Untunglah para security tiba bersamaan dengan Jovan di sana. Pria-pria itu lalu, lari kocar-kacir menyelamatkan diri agar tidak tertangkap.
"Kamu ga papa?" Tanya Jovan setelah puas memeluk sang istri. Semenjak Zyrra menelpon dan mengatakan bila mereka diikuti, Jovan langsung membatalkan rapat besarnya dan bergegas datang. Ia juga meminta beberapa orang untuk mencari keberadaan Zyrra dan putrinya. Tapi, kamera CCTV di tempat itu seakan sudah di sadap. Mereka sama sekali tidak dapat menemukan keberadaan Zyrra di manapun. Tempat yang begitu luas dengan banyaknya tingkat pada gedung itu juga mempersulit pencarian mereka.
Hingga Jovan tiba dan bertemu dengan Lola yang membawa putrinya. Barulah mereka tau di mana keberadaan Zyrra saat ini. Jovan bersama para security bergegas ke sana dan menolong Zyrra. Seperti yang Jovan duga, Zyrra memang melawan mereka sendirian tanpa memperdulikan resikonya.
"Aku ga papa. Untung ada Arya yang nolongin aku." Tunjuk Zyrra pada pria di belakangnya. Jovan melirik sepintas dan kembali memandang wajah sang istri.
"Semestinya kamu cari bantuan, bukan malah ambil resiko seperti ini."
"Ga sempet. Mereka udah lebih dulu nyerang kami. Aku ga punya pilihan selain melawan dan memberikan kesempatan buat Lola bawa Zea pergi."
"Maaf, aku datang terlambat."
Jovan kembali memeluk tubuh istrinya dengan perasaan bersalah. Meski tak terdapat luka pada Zyrra, tetapi Jovan tau orang-orang tadi bukanlah lawan Zyrra. Dengan postur tubuh kekar, serta kemampuan bela diri yang cukup tinggi pastilah mudah untuk melumpuhkan Zyrra. Tetapi itu semua tidak mereka lakukan, dan itu justru membuat Jovan semakin curiga ada orang di balik layar masalah hari ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG....