Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
MUNGKINKAH DIA?


__ADS_3

Saat mereka tiba di kediaman Argantara, hari sudah gelap bahkan bisa di katakan cukup larut malam. Semua orang di kediaman itu nampaknya sudah tidur. Para pengurus rumah tangga juga tidak tinggal di rumah besar. Mereka tinggal di pafiliun sebelah yang sudah di sediakan oleh Tuan Bima. Jadi terpaksa Joi malam ini tidur satu kamar dengan mereka.


Jovan malam ini terpaksa tidur di sofa sebab, ada Joi yang bersama Zyrra di sana. Untuk pertama kalinya seumur hidup, Jovan tidur di atas sofa. Butuh waktu lama untuknya bisa memejamkan mata, segala posisi dicobanya untuk mencari rasa nyaman. Zyrra, yang melihat kegelisahan Jovan turun dari ranjang, setelah memastikan Joi telah tertidur.


"Kau tidurlah bersama Joi, biar aku yang tidur disini." Ucapanya sambil memegang sebuah bantal dipelukannya.


"Apa? Tidak! Tidurlah, aku akan tidur disini." Ucap Jovan sambil membenarkan posisi tidurnya.


Zyrra yang melihat kekeras kepalaan Jovan memutar bola matanya jengah. Dengan sekuat tenaga ia menarik lengan Jovan hingga terduduk.


"Pergilah! Aku yang akan disini." Ucap Zyrra pada Jovan lagi.


Namun, Jovan kembali membaringkan tubuhnya seperti semula, membuat Zyrra kembali menariknya. Hingga terjadilah adegan tarik menarik pada keduanya namun, kali ini dia tidak sigap hingga membuat tubuhnya terjatuh ke atas tubuh Jovan. Bibir lembut dan kenyal milik Zyrra pun ikut bertabrakan dengan bibir kenyal milik Jovan.


Keduanya saling memandang untuk sesaat, Zyrra segara bangkit dari tubuh Jovan lalu kembali ke ranjang di mana Joi sudah berada dialam mimpi. Jovan memegangi bibirnya yang seperti masih tertempel dengan bibir Zyrra. Ini bukan ciuman pertama baginya, tapi entah mengapa rasanya sangat berbeda.


Jovan sering melakukannya sewaktu bersama Bella. Bahkan mereka melakukannya lebih mesra dan juga lebih intim dari ini. Tapi hanya sekedar berciuman saja, tidak pernah lebih dari itu, karena Jovan ingin menjaga mahkota Bella dan mendapatkannya melalui ikatan yang suci.


(prof author: ya...gak tau aja dia, kalo Bellanya udah blong duluan๐Ÿ˜๐Ÿ˜)


Namun, entah mengapa ciumannya bersama Zyrra kali ini begitu membuat darahnya berdesir. Ya, walaupun hanya sekedar ciuman yang tidak sengaja, itu sudah mampu membiat Jovan Junior hampir bangkit dari tidur lamanya.


'Ini pasti efek dari lama tidak bertemu dengan Bella' Fikir Jonan lalu memutuskan untuk memejamkan matanya dan tidak memikirkan itu lagi.


Keesokan paginya, Zyrra dan Joi sudah bangun lebih dulu. Zyrra pun telah membantu Joi untuk mandi dan mengenakkan pakaian baru yang dibelikan oleh Jovan semalam. Setelah siap, Zyrra membangunkan Jovan untuk segera membersihkan diri.


Usai melakukan ritual paginya, Jovan dan Zyrra turun bertiga bersama Joi menuju ruang makan untuk menemui Tuan Bima, dan meminta izin untuk mengadopsi anak malang itu. Saat mereka tiba di ruang makan, semua mata tertuju pada anak yang di gandeng oleh Zyrra.

__ADS_1


'Siapa anak ini? Wajahnya begitu mirip sekali dengan Jovan ketika masih kecil. Atau jangan-jangan, ini anak Jovan bersama Zyrra? Tapi, kenapa tidak ada informasi mengenai hal ini?' Batin Tuan Bima kala, melihat Joi untuk pertama kali.


'Eh! Anak siapa yang dibawa Zyrra? Wajahnya kaya gak asing' Kini giliran Jonan yang bertanya dalam hati.


"Selamat pagi semua, perkenalkan ini Joi." Ucap Zyrra memperkenalkan Joi pada semua orang yang berada di sana.


"Anak siapa dia?" Tanya Tuan Bima. Tatapan mata tuanya begitu teduh, kala melihat wajah Joi. Zyrra kemudian menceritakan tentang pahitnya kehidupan yang dijalanai oleh Joi kecil. Bagaimana bocah berusia empat tahun itu telah berjuang untuk bertahan hidup demi dirinya dan sang Nenek. Hingga akhirnya Nenek itupun telah meninggalkannya untuk selamanya. Tuan Bima tersentuh akan apa yang dialami Joi, beliaupun mengijinkan Zyrra dan Jovan untuk mengadopsi anak lelaki itu.


"Tentu Kakek akan sangat setuju dengan keputusan kalian. Hitung-hitung kalian belajar menpersiapkan diri menjadi orang tua." Ucap Tuan Bima yang langsung membuat Jovan tersedak makanan yang tengah dikunyahnya.


"Kenapa? Apakah kamu tidak ingin memberikan orang tua ini menimang seorang Cicit?" Tanya Tuan Bima, saat melihat Jovan yang tersedak dan memandangannya dengan tatapan bingung.


"Te'..tentu saja bukan begitu," Jawab Jovan tergagap. Ia memandang ke arah Zyrra yang bersikap biasa saja akan ucapan Tuan Bima. 'Dia biasa saja? Apakah dia tidak terkejut akan ucapan Kakek? Atau jangan-jangan ini adalah rencananya bersama Kakek?' Batin Jovan.


Ia terus memperhatikan setiap tindakan Zyrra dengan tatapan intimidasi. Zyrra sebenarnya tahu bila Jovan tengah menatapnya namun, ia berpura-pura acuh dan terus melanjutkan makannya. Mereka kemudian menghabiskan sarapan pagi itu.


"Kenapa kamu tidak terkejut dengan ucapan Kakek tadi? Apakah kalian berdua sudah merencanakan semua itu?"


Zyrra tertawa kecut mendengar pertanyaan Jovan, wanita itu ingin berlalu dengan gelengan kepalanya, enggan untuk menanggapi pertanyaan konyol yang di lontarkan oleh Jovan. Melihat reaksi Zyrra, Jovan makin geram dan menahan pergelangan tangan wanita itu.


"Mau kemana? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Takut?'' Tanya Jovan dengan nada mengejek.


"Huh..?!" Zyrra menghembuskan nafas berat sebelum menjawab pertanyaan Jovan. "Tuan Jovando Argantara yang terhormat, apakah ada yang salah dari pertanyaan Kakek Bima? Kurasa itu adalah hal yang sangat wajar, sebab di matanya kita ini sudah menikah. Biarku ingatkan sekali lagi, kalau-kalau Tuan Jovan lupa akan hal ini. Apakah jawaban ini sudah cukup?"


Usai memberikan Penjelasan Zyrra lalu meninggalkan Jovan dan kembali ke kamar untuk menyusul Joi. Jovan masih berdiri mematung di tempatnya. Entah mengapa, bila sudah berhubungan dengan sesuatu yang menyangkut dengan Zyrra, dia berubah menjadi seorang yang idiot.


Tuan Bima sudah memerintahkan pengurus rumah untuk menyiapakan kamr Joi dilantai bawah, bersebelahan dengan kamar miliknya. Tuan Bima merasa begitu dekat dengan anak itu seolah-olah, ia tengah melihat Jovan kecil.

__ADS_1


"Cari tahu mengenai anak itu, aku ingin data tentang dia selengkap lengkapnya" Titah Tuan Bima pada anak buah kepercayaanya. Ia sangat penasaran mengenai asal usul Joi.


"Joi, Joi mau sekolah gak?"


"Sekolah Kak? Joi boleh sekolah?" Tanya Joi dengan polosnya. Ia sudah sejak lama sangat ingin bersekolah seperti anak-anak lain yang seusianya. Namun, keadaannya sewaktu masih bersama Nenek Salma sangat tidak memungkinkan. Jadi, ia mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal itu pada Almarhumah sang Nenek. Joi takut, hal itu akan membuat Neneknya bersedih.


"Tentu saja sayang, Joi anak pintar. Jadi, Joi harus bersekolah agar menjadi orang yang hebat suatu saat nanti." Ucap Zyrra penuh kelembutan.


"Tentu Kak! Joi ingin menjadi orang hebat seperti Om Jovan!" Seru Joi penuh semangat.


(prof author: kalau di komik-komik matanya udah keluar api tuh, sangking semangatnya๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„)


"Oh ya? Emang menurut Joi, Om Jovan itu hebat ya?" Tanya Zyrra penasaran.


"Ia dong Kak, Om Jovan itu keren, punya mobil bagus, rumah besar dan ganteng. Joi mau kaya Om Jovan" Jelas Joi dengan kepolosannya


'Emh, kamu gak tau aja orang itu agak-agak sedeng' Batin Zyrra mengumpati Jovan dalam hati. Dibalik pintu, Jovan mendengarkan setiap percakapan kedua orang di dalam.


Jovan tersenyum mendengar ucapan Joi, ia tidak menyangka bila akan ada anak yang mengidolakannya kini. Teringatnya lagi akan ucapan Kakeknya pagi ini. Bagaimana, bila ia memiliki seorang putra sendiri yang juga akan mengidolakan dirinya seperti Joi, bukankah itu akan jauh lebih membanggakan.


Jovan lalu meninggalkan pintu itu dan mengurungkan niatnya untuk mengambil laptopnya di kamar. Ia akan meminta seseorang untuk mengantarkannya nanti dan membiarkan Zyrra melanjutkan obrolannya bersama Joi.


BERSAMBUNG...


***Jangan lupa favoritkan! Kalau iklas vote juga ya๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


I love you reader's...๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„***

__ADS_1


__ADS_2