
Di sebuah rumah mewah yang bergaya bangunan Eropa, Jovan bersama asisten kepercayaannya tengah duduk manis sembari menikmati pemandangan di hadapan mereka. Pemandangan yang tidak termasuk indah ataupun menakjubkan, tetapi sangat senang untuk dinikmati. Keduanya sedang melihat seorang pria tengah tersiksa dengan suara rintihan yang menggema di setiap sudut ruangan itu.
Plak...plakβ¦cetarβ¦!!!
"Arghβ¦!!" Erang pria dengan wajah dan tubuh penuh luka lebam. Pria muda yang terlihat sebaya dengan Jovan itu hanya dapat merintih kesakitan tanpa bisa melawan. Sebab, kedua tangannya telah terikat kuat dengan sebuah rantai berduri yang amat menyiksa. Jovan tak main-main atas apa yang diucapkannya tentang orang yang sudah berani mencari masalah dengan keluarganya. Setelah perjalanan berliku yang amat panjang, akhirnya Jovan menemukan siapakah dalang di balik menghilangnya Wen Xie Luo waktu itu.
"Kenapa tidak kau bunuh saja aku?"
"Kamu pikir, aku akan memberikan kematian yang mudah untukmu? Kamu salah besar! Kamu telah berani menyentuh wanitaku. Sekarang, kamu juga harus menikmati setiap detik rasa sakit tak berujung yang akan aku berikan."
Jovan bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan tempat itu. Tapi sebelum itu, ia menitip pesan pada para penjaga yang ada di depan pintu untuk mengobati lukanya setelah ini. Jovan ingin, Hendrix tetap hidup meski ia ingin kematian datang menjemputnya.
ππππππππππππ
"Mamah, Papah mana?"
"Papah kamu lagi ada urusan di luar negri sayang. Mungkin besok atau lusa dia baru pulang."
"Ooo, terus Joi boleh ga tidur sama Mamah dan Dedek Zea disini?" Tanya Joi manja. Ya, meski ia kini telah tinggal bersama kedua orang tua kandungnya, tetapi dalam hati bocah kecil itu Zyrra dan Jovan adalah orang tua sesungguhnya.
"Joi minta ijin ke Mommy Bella dulu, kalo Mommy Bella kasih ijin, Joi bisa tidur sama Mamah di sini."
"Ia, Mah." Ucap Joi dengan nada kecewa. Joi sebenarnya sudah sangat lama ingin kembali tidur bersama Zyrra seperti dulu. Tetapi, ia sudah berjanji untuk menjadi anak yang penurut dan patuh agar-agar tidak membuat ibu angkatnya itu kecewa.
__ADS_1
Baby Zea sedang bermain bersama Joi di ruang bersantai. Bayi kecil itu seakan ikut merasakan kerinduan pada sang kakak. Sedang asyik-asyiknya mereka bermain, Bella datang untuk menjemput Joi pulang.
"Joi, pulang yuk,"
Joi yang merasa namanya dipanggil menoleh, ia mendapati Mommynya telah berdiri di belakang. Dia bangkit dan menghampiri Bella dengan ragu-ragu.
"Mom, boleh ga Joi tidur di sini sampe Papah pulang? Joi kangen sama Papah," nada memelas Joi membuat hati Bella terenyuh. Bella melihat ke arah Zyrra seakan meminta pendapat, takut bila Zyrra tidak setuju akan permintaan putranya. Tetapi, Zyrra yang memang tidak pernah membeda-bedakan masih sayang antara Joi dan putrinya, langsung tersenyum sebagai tanda setuju.
"Ok, tapi Joi ga boleh nakal-nakal ya? Kasihan Mamah Zyrra harus jagain Dedek Zea dan juga Joi."
"Joi janji ga bakal nakal kok, Mom. Makasih Mommy," Jawab Joi dengan nada penuh semangat. Wajah pria kecil itu begitu berseri-seri, akhirnya ia dapat kembali berkumpul bersama dengan Zyrra dan Jovan meski hanya sebentar.
"Aku titip Joi ya, Ra. Maaf ngerepotin."
Bella tersenyum dan memeluk Zyrra, dia merasa berhutang Budi padanya. Tanpa Zyrra, mungkin selamanya Bella tidak akan pernah menemukan putranya itu. Dan tentunya, karena kasih sayang dari Zyrra lah, dia dapat berkumpul dengan Joi saat ini.
ππππππππππππ
Malam harinya, Zyrra sudah bersiap untuk pergi tidur setelah menidurkan Joi dan baby Zea. Setelah seharian bermain bersama putra dan putrinya, rasa lelah mulai menghinggapi Zyrra. Perlahan matanya mulai tertutup, hingga sebuah dering ponsel kembali membuatnya terjaga.
"Ia, Mas?" Ucap Zyrra dengan suara sedikit parau.
"Kamu udah tidur?"
__ADS_1
"Ia tadi, gimana kerjaan di sana?"
"Baik. Zea rewel ga hari ini?"
"Enggak kok. Dia anteng banget, apa lagi ada Joi yang nemenin dia main seharian."
"Joi ke rumah? Tumben." Tanya Jovan penasaran, tak biasanya Jonan dan Bella mengajak Joi berkunjung. Biasanya mereka baru akan bertemu bila sudah mengunjungi kediaman Kakek di rumah utama.
"Ia. Kebetulan tadi Jonan dan Bella ga bisa jemput Joi di sekolah, jadi dia minta tolong ke aku deh. Tapi, ternyata saat di sini, Joinya minta nginep. Katanya kangen sama kamu. Kamu kapan pulang?"
"Mungkin malam ini. Pekerjaan di sini juga udah hampir selesai, jadi aku bisa langsung pulang."
"Bagus deh." Celetuk Zyrra spontan dan membuat Jovan mempunyai ide untuk menggoda istrinya itu.
"Bagus? Bagus kenapa? Kok kayaknya kamu seneng banget gitu? Atau jangan-jangan, Joi yang kangen sama aku itu cuma alasan kamu aja ya, biar aku cepet pulang."
"Ih apaan sih, Mas. GR banget." Ucap Zyrra dengan wajah tersipu.
"Lah, emang kamu ga kangen?" Tanya Jovan terus menggoda istrinya.
"Kangen sih," jawab Zyrra sedikit berbisik tapi masih bisa didengar oleh Jovan.
"Nah kan, ngga papa kok sayang, Mas juga kangen banget sama kamu. Jadi ga sabar pengen cepet-cepet pulang terus meluk kamu."
__ADS_1
BERSAMBUNGβ¦