Cold Hearted A Girl

Cold Hearted A Girl
KAKI NAKAL


__ADS_3

'Kau memang unik Zyrra Azasya'


Jovan bangkit dari tempatnya berbaring dan meraih ponselnya dari atas nakas. Ia berjalan menjauh dari tempat Zyrra tidur saat ini dan menghubungi seseorang.


"Siapkan kepulanganku, besok aku sudah harus berada di perusahaan."


Jovan mengakhiri panggilan itu dan kembali berbaring di sisi Zyrra. Wajah cantik wanita itu kian terpancar kala tidak ada gurat kerisauan yang terpatri di sana.


"Taukah kau, bila wajahmu, senyumu, suaramu dan segalanya yang bersangkutan dengan dirimu sudah benar-benar mengalihkan duniaku? Aku bahkan sudah kehilangan diriku yang dulu karenamu. Mungkinkah kamu ini memiliki kekuatan magic yang dapat menghipnotis setiap kaum pria agar selalu memikirkanmu?" Tanya Jovan berbisik halus sambil mengusap pipi Zyrra lembut.


Pria itu lalu ikut berbaring dan menyusul Zyrra ke alam mimpi. Saat Jovan baru memejamkan mata, paha Zyrra tiba-tiba saja menempel tepat di atas Jovan junior. Bahkan dengan nakalnya, paha itu seakan sengaja menyiksa Jovan junior dengan memberikan gesekan-gesekan manja.


'A..ah apa yang kamu lakukan hah?! Kamu sengaja? Jangan salahkan aku kalau junior ini meminta pertanggung jawabanmu!' Geram Jovan dalam hati sambil menahan paha Zyrra agar tidak bergerak lagi.


Untungnya itu berhasil menghentikan pergerakan yang terjadi di bagian bawah sana. Namun, Zyrra kini melesakkan wajahnya ke ceruk dada bidang Jovan dan mengalungkan lengannya di leher pria itu.


Hembusan nafas Zyrra yang menerpa tepat di sisi leher Jovan, membuat sang Jovan Junior makin meronta-ronta minta segera di lepaskan.


'Aaargh..!' Jovan langsung memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Zyrra. Matanya lalu terfokus pada bibir merah muda alami milik wanita itu.


Gluk..!


Jovan menelan ludahnya kasar, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Zyrra. Hingga tanpa sadar bibirnya sudah menempel pada bibir kenyal wanita itu.


******* demi ******* lembut yang ia lakukan pada bibir wanita itu nyatanya malah membuatnya candu. Jovan pun makin memperdalam ciumannya hingga membuat Zyrra menengah manja.


"Emh..."


'Astaga! Aku harus segera berhenti atau akan ada masalah besar nanti. Sabarlah junior, ini belum waktunya untukmu pulang.'


Jovan menghentikan aksinya dan kembali memejamkan mata. Ia berharap semoga Zyrra tak berulah dan mengakibatkan sang junior tak terkendali.


Pagi hari asisten kepercayaan Jovan telah tiba di rumah sakit dan mengurus surat kepulangan Jovan. Awalnya rumah sakit melarang, mengingat luka di punggung Jovan yang masih belum sembuh total. Namun, setelah Denis mengatakan bila Jovan juga memiliki Dokter pribadi yang akan mengurus keperluannya jelak, pihak rumah sakit pun akhirnya setuju.


Tok..tok..


"Selamat pagi Tuan." Ucap Denis memberi salam saat masuk ke dalam ruangan milik Jovan.

__ADS_1


Dengan wajah sumringah, Jovan mengangguk sembari tersenyum hangat. Hal itu tentu saja membuat Denis bertanya-tanyadalam hati.


'Apakah sang atasan saat ini sudah benar-benar pulih? Tapi bagaimana mungkin bisa secepat itu? Dan bukankah pihak rumah sakit tadi juga mengatakan bila luka di punggung Jovan masih belum sembuh total?'


"Apakah aku sudah bisa keluar?"


Pertanyaan yang di ajukan oleh Jovan membuyarkan lamunan Denis, dengan tergagap ia menjawab "I..ia Tuan!"


"Bagus, siapkan baju kerjaku. aku akan mulai aktif di perusahaan mulai hari ini."


"Ta..tapi Tuan, luka di.."


"Tenang saja, ini hanyalah luka kecil. Dan aku juga memiliki Dokter serta perawat pribadi." Ucap Jovan memotong ucapan Denis. Dan ketika ia mengatakan tentang perawatan pribadi, wajahnya kembali berseri-seri.


"Baiklah, Tuan."


Setelah mengenakan Jas dan setelan kantor, Jovan yang di temani Denis pergi menuju perusahaan. Sepanjang perjalanan, wajah Jovan terus saja melukiskan senyuman yang tiada henti.


'Sepertinya Tuan Jovan sangat bahagia hari ini.' Batin Denis yang melirik Jovan dari kaca spion.


Kedua orang itu nampak tengah berbincang hangat, bahkan Zyrra terlihat tertawa sesekali pada pria itu, membuat darah di kepala Jovan seakan mendidih.


Dengan langkah tegap Jovan menghampiri keduanya.


"Ekhem..!"


Suara deheman dari seseorang membuat kedua orang yang tengah berbincang itu menoleh ke belakang.


'Jovan? Kenapa dia ada di sini?' Batin Zyrra yang melihat Jovan tengah berdiri di belakangnya sambil bersedekap.


"Tu..Tuan?"


"Apa yang kalian lakukan di sini? Apakah perusahaan membayar kalian hanya untuk mengobrol di jam kerja?"


"Ma..maaf Tuan, tapi kami sedang membahas mengenai peresmian hotel baru di kota S bulan depan."


Jovan tidak menggubris ucapan pria berkacamata itu dan menarik Zyrra pergi. Namun, lengan Zyrra yang bebas justru di tahan oleh pria berkacamata itu.

__ADS_1


Jovan menoleh dan mendapati pria berkacamata yang menahan pergelangan tangan Zyrra.


"Lepas!"


"Ti..tidak! Saya masih ada urusan dengan pacar saya."


"Pacar? Pacar?" Tanya Jovan bergantian pada jeda orang itu sambil melebarkan matanya yang berapi-api.


Tidak ada bantahan dari bibir Zyrra, wanita itu hanya nrmasang ekspresi datar dan tanpa bersalah, membuat Jovan makin geram dan menghempaskan lengan wanita itu dengan kasar.


"Ok, selamat atas hubungan kalian."


Setelah berkata demikian Jovan pun berlalu meninggalkan kedua orang yang masih menatapnya bingung.


'Cih, orang itu kenapa sih?' Batin Zyrra tak mengerti.


Aura gelap mengelilingi tubuh Jovan saat ini, setiap orang yang berada di jalan yang di laluinya langsung merinding seketika.


Bahkan Denis yang sudah terbiasa dengan sikap dingin Jovan pun merasakan bulu kuduknya yang berdiri. Aura Jovan saat ini benar-benar lebih dingin dan seram dari biasanya.


Bahkan sepanjang hari semua orang di perusahaan di buat sibuk akibat ulah Jovan. Dalam sehari, ada saja kesalahan dari para manajer yang di sebutkan oleh Jovan.


Hingga mereka pun harus mengulang-ulang kembali pekerjaan mereka. Denis yang sebagai asisten kepercayaan Jovan pun mendapat tekanan dari para manajer agar dapat menemukan solusi dari masalah mereka saat ini.


"Aku juga tidak tau kenapa Tuan hari ini menjadi sangat tempramen, tapi pagi tadi dia masih baik-baik saja."


"Ku mohon Tuan Denis, bila terus seperti ini kami bisa mati berdiri."


Denis seperti sedang berpikir, ia juga merasa kasihan pada para Manajer itu, tapi apa yang dapat ia lakukan untuk mengalihkan suasana hati atasannya itu.


BERSAMBUNG...


***Aku sangat berterimakasih buat kalian yang udah mau mampir ke novel aku...๐Ÿ™‡๐Ÿ™‡


Maaf kalau ceritanya kurang seru atau masih banyak typo๐Ÿ˜”


Akan ku usahakan memperbaikinya lagi, mohon dukungan kalian dengan memberikan like,komen dan jadikan vaforit๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2