
"Apakah perusahaan ini sudah bekerja sama dengan pabrik parfum itu?"
Pertanyaan Zyrra kali ini makin membuat Jovan bingung, tak biasanya istrinya itu perduli akan masalah perusahaan. Namun dengan tenang, Jovan masih menjawab pertanyaan Zyrra.
"Ya, belum bekerja sama secara resmi. karena aku belum menandatangani perjanjian kontrak kerjasama kami."
Zyrra tersenyum senang akan jawaban yang diberikan oleh Jovan. Ia duduk di sofa panjang yang terdapat dalam ruangan suaminya itu.
"Bagaimana kalau aku bisa memberikan aroma parfum yang jauh lebih wangi dan tahan lama di bandingkan dengan ini? Apakah kamu bisa tidak bekerja sama dengan pabrik itu?"
"Kau bisa meracik wewangian? Sejak kapan?"
"Jawab saja,"
"Baiklah, tapi bila aroma pewangi yang kamu buat tidak senyaman yang di tawarkan oleh orang itu, apa yang akan kamu berikan sebagai kompensasi? Tentu kamu tau aku adalah seorang pebisnis, dan aku tidak akan mengambil resiko, bila tidak mendapatkan untung yang lebih baik."
Zyrra sedikit berpikir, dia tau bila suaminya itu memanglah pebisnis handal. Tapi apa ia, dengan istri sendiri saja perhitungan? Dengan kesal Zyrra kembali bertanya,
"Kamu ingin apa sebagai kompensasi dariku?"
Dan inilah yang di sukai Jovan dari Zyrra, wanita itu tidak memerlukan waktu lama untuk terbakar pancingan. Sebenarnya, biarpun Zyrra tidak memberikan kompensasi apapun sebagai ganti rugi, asalkan dia meminta secara langsung pun Jovan akan dengan rela membatalkan kerja sama dengan pabrik parfum yang di pegang oleh Pitto. Hanya saja Jovan sangat suka menggoda istrinya itu. Jovan melangkah dari mejanya ke sisi Zyrra dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Zyrra langsung memanas.
"A..apa? Kau jangan konyol! Itu tidak mungkin ku lakukan!"
"Kalau begitu aku pun tidak dapat melakukan apa yang kau minta."
"Ah, baiklah-baikalh! Aku harap kau menepati ucapanmu Tuan Jovan."
"Tentu saja Nyonya Jovando Argantara."
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Bella yang baru saja tiba dari kota B, langsung saja minta Jonan untuk menemuinya. Wajah wanita itu nampak begitu murung, Bella tak seperti biasanya. Ia menunggu kedatangan Jonan dengan gelisah, sesekali ia menatap arloji di tangannya. Hingga lelaki yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
"Hai," Sapa Jonan dengan senyum cerah. Memang hubungan mereka akhir-akhir ini sudah membaik, tapi Jarang-jarang Bella akan mengajaknya bertemu di luar seperti sekarang.
"Hai Jo,"
"Loh wajah kamu kok murung gitu? Kenapa? Ada masalah sama pekerjaan?"
Bella menggeleng, ia menarik nafas panjang dan mengatakan suatu kalimat yang membuat Jonan seakan melayang bersamaan dengan ratusan awan.
(POV Author: Kya.... kaya lagu, tiba-tiba aku melayang, menembus ratusan awan, ku hempaskan semuasedihku....😂😂😂)
"Jo, mau ga kamu nikahin aku?" Berulang kali Jonan mengerjakan mata, ini semua terasa seperti sebuah mimpi, dan andaikan benar, Jonan berharap tidak akan terbangun dari mimpi ini.
"Jo?"
"Kamu serius?"
Bella mengangguk dengan wajah serius, ini adalah satu-satunya cara agar dia dapat terlepas dari perjodohan yang keluarganya lakukan.
Keluarga Bella memintanya pulang selepas ia melakukan pemotretan di Singapura. Dengan penerbangan kedua, akhirnya Bella tiba di kota tempat tinggal keluarganya. Saat ia akan keluar dari bandara, sebuah mobil menghampirinya.
"Selamat sore Nona Bella, saya Beni, supir pribadi keluarga Vandov yang bertugas menjemputmu."
Bella mengangguk dan memasuki mobil itu dengan wajah muram durja. Ia sebenarnya malas untuk kembali lagi ke kediaman Vandov. Sebab di sana, Bella hanya akan menjadi bahan sindiran dan juga cemoohan para tetua dan juga sepupu-sepupunya karena belum juga menikah.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya Bella tiba di sebuah rumah megah yang bertingkat empat serta memiliki halaman luas penuh dengan pepohonan rindang. Bella turun dari mobil dan di sambut oleh para pelayan yang membantunya membawa koper menuju kamar.
Di ruang tamu, telah duduk sang kepala rumah tangga, Roy Vandov bersama seorang pemuda yang Bella temui di pesawat. Perasaan Bella tiba-tiba saja menjadi tidak enak saat sang Ayah menyambutnya dengan senyum lebar.
"Akhirnya kau tiba, perkenalkan ini adalah Hendrix Bramasta, putra Tuan Joser Bramasta."
__ADS_1
Bella mendekat dan mengulurkan tangan pada Hendrix yang juga mengulurkan tangan padanya dengan senyum lebar.
"Kita bertemu lagi Nona Bella,"
"Jadi ini yang kau maksud kita akan bertemu lagi?" Tanya Bella sedikit dingin.
"Bagus bila kalian sudah saling kenal, sepertinya perjodohan ini akan berjalan dengan baik."
Duar...!
Bagai ada petir yang menyambar hati Bella, mendengar perjodohan dari sang Ayah. Pantas saja ia merasakan perasaan yang tidak enak sejak tadi, rupanya inilah hal yang mengganggu hatinya.
"Perjodohan? Tapi Dad, Daddy ga pernah bicara tentang perjodohan sedikitpun pada Bella."
"Ya, karena Daddy tau, kamu pasti akan menyetujui perjodohan ini. Lagipula, Hendrix ini adalah orang yang bertanggung jawab dan juga baik. Jadi Daddy yakin kalian akan sangat cocok."
"No Dad! I do not agree with all of this." Ucap Bella dan meninggalkan ruang tamu dan menuju lift ke kamarnya.
"Maafkan tingkah Bella, ia terlalu kami menjalankan hingga jadi seperti sekarang."
"Tak apa Tuan Vandov, saya bisa mengerti. Saya akan menunggu kabar baik dari Nona Bella, kalau begitu saya undur diri. Selamat sore."
Hendrix meninggalkan kediaman keluarga Vandov dengan mobil sport miliknya. Dengan angkuh Hendrix melakukan mobil itu dan menyalip mobil lain yang berada di depannya.
BERSAMBUNG....
*Hai gais...
ini adalah persembahanku yang ketiga,aku harap kalian masih setia menunggu karyaku selanjutnya ya...
selamat tahun baru yang je 2023 semua...!😄😄
__ADS_1
Semoga di tahun baru ini, kita selalu di berikan limpahan rezeki, kesehatan dan umur panjang....
salam sayang dari NAZUA M*.